Skip to main content

Posts

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum
Recent posts

Berperilaku Cerdas di Tengah Ketidakpastian

Lonjakan positif Covid-19 kembali terjadi, berita-berita yang mengerikan kembali menjadi headline, kasir supermarket, pedagang pasar hingga anak kecil usia di bawah lima tahun, turut menjadi korban baru. Tindakan masyarakat yang ‘suka-suka’ ini sukses melahirkan kepanikan massal baru, kecemasan baru dan tentu saja menambah suram ujung lorong wabah Covid-19 ini. Kepanikan dan putus asa, merupakan dua kata yang mengikis nalar dan menggerus kewarasan. Saat orang panik secara berlebihan, maka saat itu ia juga akan sulit berpikir jernih, pun pada ketika orang dihinggapi perasaan putus asa, harapannya menjadi pupus, masa depan baginya terlalu pendek dan akhirnya ia akan melakukan tindakan-tindakan nekat yang mengabaikan keselamatan hidupnya dan orang lain. Berbeda dengan orang yang mampu bersikap tenang dan selalu berpikir positif, selalu cerdas berperilaku , baginya musibah pasti berlalu, ia selalu memiliki stok optimisme yang tak terbatas, sekalipun ia tak mengetahui kapan ak

Kolaborasi Kebaikan, Menyalakan Kemanusiaan

Salah seorang Relawan 69 membagikan paket sembako pada warga terdampak (Foto: Dok. Relawan 69) D i tengah pandemi global Covid-19, seturut kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, bekerja, belajar dan beribadah di rumah, ada ratusan bahkan ribuan orang yang terdampak, karyawan yang di PHK dan dirumahkan, pekerja sektor informal yang kehilangan mata pencaharian, hingga para medis yang bertaruh hidup.  Covid-19 sukses mengirimkan kepanikan, hingga tak seorang pun yang tak memiliki rasa was-was saat melihat kardus, keranjang sayur, gagang tempat bergantung di bus kota atau kereta tanpa merasa curiga dan membayangkan bahwa semuanya dipenuhi oleh ‘sesuatu’ yang tak terlihat. Bahkan, terhadap lembaran uang kertas yang kerap menghiasi dompet.  Coronavirus sukses menghempaskan kesadaran kita pada ceruk kemanusiaan, menghidupkan nurani untuk membunyikan harap agar pandemi ini segera berlalu, secara diam-diam setiap orang merapal ‘doa’ dengan cara masing-masing agar ha

Tentang Tiada

Parmenides, filsuf Yunani kuno yang hidup ribuan tahun lalu, punya slogan filosofis yang menyatakan ‘apa pun yang ada itu ada, dan apa yang tidak ada itu tidak mungkin ada’ ( Whatever is is, and what is not cannot be ). Martin Heidegger, filsuf yang hidup seabad yang lalu, dalam  Pengantar Metafisika- nya, alih-alih menerima slogan Parmenides bahwa ‘yang tidak ada itu tidak mungkin ada’, malah mengatakan bahwa pertanyaan mendasar metafisika adalah ‘Mengapa yang ada itu adalah ada ( beings ) dan bukan tiada ( nothing )?’. Dengan kata lain, ‘Mengapa tiada itu tidak ada?’. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Esai pendek ini mengulas bagaimana tiada, yang jarang diperhatikan dalam filsafat, justru menjadi persoalan rumit yang membingungkan. Selamat membaca! *** Di dalam filsafat, hal yang selalu ditekankan adalah apa yang ada. Kita menyebut ini  ontologi , yang berarti kajian tentang ada. Apa yang kurang dikaji adalah apa yang  tidak  ada. Dapat di

Definisi

Pengantar Banyak kekeliruan memahami pokok persoalan, karena salah ‘mengerti’, salah memberikan ‘makna’ atau salah mendefinisikan. Maka, untuk masuk dalam pembahasan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI sangat penting untuk mengetahui tentang definisi, bagaimana kaidah menetapkan definisi. (Saya juga pernah menulis tentang takrif di sini ) Berikut ini adalah tulisan Azis Anwar yang menurut saya cukup detail membahas tentang definisi. ----- Dari sejak zaman Aristoteles, Ibn Sina, al-Ghazali,  as-Sullam al-Munawraq , hingga  Madilog -nya Tan Malaka, ilmu logika/mantiq menyatakan bahwa definisi yang sempurna ( hadd tamm ) disusun oleh genus terdekat ( jins qarib ) plus differentia ( fashl ) yang membentuk esensi dari X (yang membuat X adalah X). Bila definisi itu disusun dengan genus jauh ( jins ba’id ), definisi itu kurang sempurna ( hadd naqish ). Bila definisi memakai sifat/aksiden (‘ ardh ), baik umum maupun khusus, dan bukan dengan differentia, maka ia disebut des

Prolog; Selamat Datang di Ruang NDP HMI

Banyaknya permintaan kader HMI untuk memuat tulisan terkait Nilai Dasar Perjuangan (NDP) atau segala hal berkait-ikat dengan NDP, maka dengan ini saya tampilkan secara khusus Ruang NDP di blog ini. Ruang ini tentu tak melulu berisi tulisan dan pemikiran-pemikiran saya. Bahkan, bisa jadi akan lebih banyak pemikiran para alumni, instruktur atau kader HMI yang lain. Harapannya, Ruang NDP bisa menjadi ruang dialog terbuka, dinamis dan interaktif antar pemikiran. Prolog; Selamat Datang di Ruang NDP HMI Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan NDP HMI pada awalnya oleh para perumusnya berpikir untuk diberi nama Nilai Dasar Islam (NDI), akan tetapi berdasarkan pertimbangan bahwa pemberian nama tersebut akan menjadikan klaim kita menjadi lebih besar untuk kemudian menyebutnya sebagai Nilai Dasar Islam. Sehingga penamaan dengan Nilai-nilai Dasar Perjuangan itu disesuaikan dengan aktivitas kita sebagai mahasiswa, dan berdasarkan peran HMI se

Mencintai Bahasa Indonesia

Berbahasa Indonesia bukan hanya soal berbahasa yang baik dan menggunakan ejaan yang baku, tetapi juga soal berbahasa yang logis. Menuruti kredo Om Iqbal Aji Daryono dalam buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira , kelogisan menuntut orang untuk mempekerjakan akal secara kreatif, sedangkan baik-benar umumnya berpaku pada pakem. Berbahasa Indonesia dengan logis, bukan pula soal 'sok-sokan' atau juga berlagak layaknya 'Polisi Bahasa'. Di facebook,  saya mengunggah foto yang saya temukan 'berseliweran' di media sosial, soal penggunaan bahasa atau istilah-istilah yang terlihat atau terbaca sangat aneh --jujur sangat menganggu. Unggahan tersebut, direspon banyak kawan. Barangkali ada yang menganggap saya nyinyir, absah saja. Namun, selain nyinyir, saya ini juga humoris. Saya bukan tak pernah didamprat karena tertangkap menggunakan istilah-istilah 'lucu dan aneh' dalam berbahasa Indonesia.  Udo Z Karzi   adalah salah satu senior yang s