Skip to main content

Acara Photography Reborn - Metro Photography

Para fotografer yang tergabung di Metro Photography kembali menghelat kegiatan bertajuk Photography Reborn pada, Minggu (24/9) untuk semua pecinta foto yang ada di Lampung. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Rumah Kue, yang berlokasi di belakang LEC Kartika, Margorejo Metro Selatan. 


Acara Photography Reborn tersebut dimeriahkan dengan menghadirkan tiga talent (model) lokal, antara lain adalah Alda Alora, Adel Maharani dan Mia Felicia dengan melibatkan perias Bella Make-Up. Acara tersebut juga didukung penuh oleh Rumah Kue, Omah1001.net dan Jhon Graphic.

"Mengingat terbatasnya tempat, kegiatan tersebut dibatasi pada 40 peserta saja," jelas Ragil Utama, Ketua Panitia Photography Reborn, Kamis (15/9).

Berikur peraturan yang wajib ditaati oleh peserta yang ingin mengikuti Photography Reborn MP, yang disampaikan oleh Ragil :
  •  Peserta terbatas hanya untuk 40 orang fotografer;
  • Peserta wajib registrasi dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 35.000,- (inklud biaya makan dan minum untuk peserta);
  • Peserta wajib mengenakan tanda pengenal (pita) yang disediakan oleh panitia;
  • Sebelum foto, peserta dibagi dalam tiga kelompok sesuai jumlah talent (model), dan masing-masing kelompok akan dipandu/dikoordinir oleh dua orang panitia; 
  • Setiap peserta yang sudah mendapatkan kelompok, tidak boleh pindah ke kelompok lain kecuali atas izin panitia;
  • Masing-masing kelompok ditentukan spot/lokasi fotonya oleh panitia;
  • Setiap peserta dilarang merusak fasilitas, menginjak tanaman dan menganggu kenyamanan pengunjung Rumah Kue; 
  • Setiap peserta wajib bersikap ramah dan tertib; 
  • Panitia akan me-roling kelompok setelah dianggap waktunya cukup (30 menit), sehingga masing-masing peserta memiliki kesempatan yang sama untuk memotret masing-masing talent (model); 
  • Panitia menyediakan makan dan minum, sesuai jumlah peserta yang daftar, 
  • Makanan yang dipesan peserta di luar yang disediakan panitia, peserta wajib langsung membayarnya ke Kasir agar tidak merepotkan penagihan Pihak Rumah Kue.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum