Skip to main content

Mengisahkan Awal Mula Metro Photography (Bagian 2/4)


Tak terhenti hanya mengadakan workshop dan kumpul-kumpul, para fotografer yang kebetulan terlibat di kepanitiaan dan beberapa orang yang menjadi peserta, berniat untuk membentuk komunitas yang bisa menjadi wadah dan perekat (katalisator) bagi para fotografer di Kota Metro. Mereka mengutarakan itu di rumah, ketika kumpul-kumpul paska kegiatan workshop.

Saya tentu saja niat baik tersebut, meski saya belum paham banyak soal foto saya mendorong komunitas tersebut bisa menjadi ajang berbagi pengetahuan, tak membedakan pemula-junior, merek bahkan jenis kamera, semua penyuka foto dipersilahkan untuk bergabung.

Setelah rencana tersebut disosialisasikan, ternyata antusiasme fotografer dan penyuka foto ternyata sangat besar, bukan hanya mereka yang tinggal di Kota Metro, beberapa orang dari luar Metro juga menyatakan maksud untuk bergabung, bahkan beberapa fotografer senior dari Bandarlampung juga mengungkapkan ketertarikannya untuk bergabung, tentu tidak semua bisa diakomodir.

Singkat cerita, Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) MP sebagai aturan main komunitas dibuat, dan tanggal 24 April 2014 di D'Atmosfer Cafe, Iringmuyo Metro Timur, 30 orang lebih berkumpul sekaligus untuk mengambil keputusan dan membentuk pengurus, pertemuan tersebut juga ditetapkan sebagai Musyawarah MP yang pertama, sekaligus menjadi tanggal hari lahir MP.

Pertemuan yang akrab, hangat dan penuh kekerabatan, berdasarkan musyawarah-mufakat memutuskan bahwa Yudhi Ramli, Andhika Desta F dan Andi Hendri masing-masing sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendahara Metro Photography (MP) periode pertama, beserta kelengkapan pengurus lainnya, dan saat itu juga saya bersama Ronald Wahyudi, Luthfi Azis serta Leksi Mufachir ditunjuk sebagai Dewan Pembina MP.

Ada yang menarik, yang mesti saya abadikan dalam tulisan ini, bahwa yang hadir di acara Musyawarah Anggota I Metro Photography tersebut, dari latar belakang profesi, selain mereka yang berprofesi fotografer, ada mahasiswa, ada pegawai, ada pengusaha dan ada juga yang berprofesi sebagai polisi. Semua guyub dan akrab tanpa sekat.

Suasana keakraban dan kekeluargaan terus terjalin sesama anggota MP, Grup Facebook Metro Photography yang dibuat sebelum pembentukan pengurus, anggotanya terus bertambah. Animo anak-anak muda untuk belajar dan berbagi pengetahuan tentang foto terus meningkat. Bahkan warga Kota Metro yang berada di luar Lampung, yang di dalam negeri maupun luar negeri menyatakan diri ikut bergabung di MP.

Sebulan setelah kepengurusan terbentuk, tepatnya tanggal 25 Mei 2014, pengurus mengumumkan sayembara pembuatan logo secara sukarela bagi anggota grup MP, di luar ekspektasi ternyata ada banyak anggota yang mengirimkan desain logo karyanya, sehingga semua pengurus lumayan kesulitan menentukan, loga mana yang harus ditetapkan sebagai logo resmi MP. Namun, meski ada perbedaan penilaian, semua pengurus sepakat bahwa karya yang akan dipakai menjadi logo resmi MP adalah karya Agus Supriyatna, Mahasiswa Desain Grapis UGM Yogyakarta asal Kota Metro.

Hari-hari berikutnya, untuk mengakomodir keinginan anggota yang terus bertambah MP secara berkala mengadakan kopi darat (kopdar) meski tak formal, bertemu dan berkenalan dengan anggota baru, mengadakan hunting foto kecil-kecilan, berbagi teknik dasar fotografi, bahkan setiap ada event, gelaran musik, acara Metro Fairs, keliling pasar atau sekedar berkumpul di Taman Kota, pengurus selalu mengagendakan dan menyediakan waktu untuk kumpul bareng.

Saya masih ingat dulu, ada Eno, Febi, Elisa, Apriliani Rusadi, Lina dan beberapa nama lain, cewek-cewek generasi pertama di MP yang sering diajak foto dadakan, bahkan tak jarang beberapa senior fotografer seperti Danismore dari Tulang Bawang Barat, Andri Jangkung dan Widio Atok dari Bandarlampung datang ke Metro, untuk sekedar menemani motret bareng atau sesekali berbagi pengalaman dan ilmu fotografi.

Kumpul-kumpul secara berkala itulah sarana paling efektif untuk menjaga kekompakan pengurus dan anggota yang multi-karakter, ditambah anggota yang semakin banyak membuat warna MP semakin beragam, ada yang pemalu-pendiam, ada yang cerewet, ada yang penyabar dan ada yang emosianal, ada yang cuek-masabodo, komplit dan ada yang sensipek alias gampang tersinggung, ada yang modus ada yang tulus, ada juga yang tulus tapi modus, ada yang modus katanya sih tulus.




Bersambung ...


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum