Skip to main content

Mengisahkan Awal Mula Metro Photography (Bagian 1/4)

Dulu sekali, di awal tahun 2014 menjadi momentum yang sangat menyenangkan bagi saya, bukan karena saya memuncaki karir di mana saya mengabdi dan bekerja, bukan pula karena saya lepas menjadi 'kontraktor' karena telah menempati rumah sendiri (meski beli nyicil alias rumah kredit), melainkan awal tahun 2014 itu adalah awal saya berganti kamera dari pocket ke SLR, dan berkenalan dengan anak-anak muda yang gokil, sebuah dunia baru tentunya.

Lewat kawan dari Tulang Bawang Barat, Ansyori Aan dan Danismore saya akhirnya kenal dengan Andika Dhesta Felano, Muhammad Iqbal, Pendi Noris dan Yudi SF mereka adalah yang awalnya mengawaki Cendana Photograph. Cendana diambil dari nama gang Cendana di daerah 16c Mulyojati, tempat tinggal Pendi Noris, tempat mereka berkumpul yang juga akhirnya menjadi tempat pilihan saya nongkrong setelah ngantor.

Saya yang kala itu baru punya kamera SLR (Canon 60D dengan lensa standar 18-55 mm) tentu memiliki tingkat kerumitan memaksimalkan fungsi kamera saya, sehingga hasilnya kalah bagus dengan hasil jepretan kamera hape apalagi kamarea pocket. Jangankan untuk mengerti blur, komposisi, dan hukum fotografi yang rumit itu, mengatur diafragma, ISO dan speed saja saya tak bisa. Jadilah, mode auto sebagai pilihan instan dan favorit setiap kali event motret bareng.

Sebenarnya, ada banyak orang yang sepertinya bernasib sama denganku, mengambil jalan pintas mode auto, hal itu terlihat menjelang sore, beberapa anak remaja yang hilir mudik menenteng kamera di Taman Kota, sinar flash yang menyambar seperti cahaya kilat menunjukkan bahwa mereka juga sebenarnya butuh belajar dan dikasi tahu cara memaksimalkan DSLR mereka.

Dari situlah ide awal, rencana Workshop Photography pertama di Kota Metro, memilih tema ringan "Memaksimalkan Kamera DSLR", Dhika Desta didapuk menjadi Ketua Pelaksa Kegiatan Workhshop yang diadakan di almarhum "Gedung Wanita". Soal dedikasi, pengorbanan, militansi dan loyalitas dari Ketua Panitia penyelenggara, rasanya tak perlulah saya jabarkan secara detail, memori atau ingatan yang bagus, pasti akan mengingat itu dengan baik, bahwa ada banyak fotografer yang memulai karir fotografinya hingga sukses, adalah mereka yang bersama lahir dari acara itu.

Bertemu dengan geng Cendana, memang menjadi awal dan akhirnya sedikit demi sedikit membuat saya mengerti mode manual dan tentu saja workshop tersebut ditambah manual book yang didapatkan sepaket dengan kamera yang saya beli, dari mereka juga saya akhirnya paham bahwa sudut pengambilan (angle) sangat menentukan, singkatnya dari merekalah saya belajar soal foto, termasuk soal filosofinya.

Anggapan para fotografer yang angkuh, mereka patahkan dengan cara bergaul dan sikap yang guyub, saya pun akhirnya tak sungkan untuk membaur, selepas Ashar hingga menjelang Magrib, bercelana pendek sembari nenteng kamera, ikut nongkrong di perempatan Taman Kota, memotret setiap obyek yang bergerak atau cewek cantik yang terjebak lampu merah.


Bersambung ...

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.