Skip to main content

Mengisahkan Awal Mula Metro Photography (Bagian 3/4)


Dinamis. Ya, kegiatan dan pertemenan di MP sangat dinamis. Tak melulu bahagia dan senang-senang yang menyertai perjalanan pengurus dan anggota MP. Tak jarang ada yang bersitegang bahkan tak bertegur sapa sesama pengurus dan anggota. Kekanakan dan norak banget? Bukan! Ribut dan salah paham itu biasa, sangat manusiawi. Jangankan di MP, kakak-adik dalam satu keluarga saja biasa ribut hanya persoalan-persoalan sepele.

Ada banyak hal yang melatari perselisihan dan salah paham di antara pengurus atau anggota tersebut, mulai soal ledek-ledekan yang tak sekedar masuk kantong ajaib Doraemon, tetapi juga nembus ke hati, soal persaingan sampai ada juga yang parah hilangnya sikap saling menghargai, sering merendahkan karya orang lain, dan sikap khianat atas kawan, sampai ada istilah populer teman makan teman. Semua kejadian itu pernah dialami dan terjadi di MP.

Masalah dan perselisihan umumnya, seperti keributan-keributan kecil yang terjadi dalam satu keluarga, semuanya pasti bisa diselesaikan. Persoalan tersebut menjadi rumit titik-temunya (ishlah), ketika salah seorang menarik diri atau memosisikan diri bukan lagi sebagai keluarga alias sudah menjadi orang lain.

Resiko berkomunitas dengan beragam karakter, membuat sebagian orang memang sulit beradaptasi dan menurunkun ego-nya, sifat merasa paling senior dan lebih pintar mendorong beberapa orang di MP cenderung merendahkan karya temannya. Namun, sikap seperti itu biasanya tak bertahan lama, secepat mungkin yang bersangkutan bisa menyesuaikan diri, karena hal tersebut tentulah ia sadari tak terpuji, atau jika tak bisa beradaptasi, dia akan cepat-cepat hengkang dari MP karena pasti susah berteman dan diterima.

Ada juga cerita yang unik dan lucu, datang dan belajar bersama di MP, mulai bertanya soal merek kamera, jenis lensa, mendapatkan foto yang keren dan enak dilihat, sampai bertanya soal cara cari pacar dan modusin mode,l hampir tiap hari selalu bersama. Begitu sudah merasa mampu, sudah banyak teman, kacang lupa kulit. Bukan hanya jarang lagi berkumpul, tetapi hilang dari peredaran bahkan di luar sana, bicara seenaknya dan cenderung menjelekkan karya kawan-kawan yang dulu menjadi temannya belajar di MP, padahal dulu jangankan mencet tombol shutter menghidupkan kamera saja tak bisa. Sadis bukan? Tapi santai saja, datang dan pergi itu biasa. Toh, tak ada pesta yang tak berakhir.

Namun, bukan berarti yang hilang itu karena bermasalah semua,  ada juga yang menghilang dan tak pernah kumpul, karena memang sedang melanjutkan kuliah di luar Lampung, ada beberapa yang merantau karena tuntutan pekerjaan. Jadi, tidak semua yang hilang termasuk dalam kategori tidak tahu diri itu, Pak De Luthfi Azis, kalau baca tulisan ini, tidak perlu tersinggung.

Dinamis, perjalanan itu mengalir begitu saja. MP  tak pernah sepi dari kegiatan. Sekadar kumpul-kumpul dan motret di pinggir-pinggir jalan, sampai hunting kecil-kecilan sembari mengeksplore tempat-tempat eksotik yang bisa menjadi spot foto dan secara tak langsung mempromosikan kota di mana mereka tinggal, Kota Metro. Hingga sesekali juga iseng melepas penat dan suntuk dengan belajar foto nude dalam kelas terbatas (kate), eh maksudnya foto panning tapi foto nude pernah juga.

Begitulah singkatnya, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, kebersamaan itu dilalui dengan nikmat di MP. Hingga sampai pada titik dimana MP mengalami stagnasi, tepatnya ketika Ketua MP, Yudhi Ramli harus lebih banyak di Jakarta, karena tuntutan pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkan, kawan-kawan pengurus lainnya seolah kehilangan komandan hingga sibuk sendiri-sendiri.

Tepat satu setengah tahun masa kepengurusan Yudhi Ramli sebagai Ketua, beberapa orang akhirnya mengambil inisiatif untuk memecahkan kebuntuan dan stagnasi tersebut. Digelarlah rapat, Dhika Desta mengundurkan diri, diikuti oleh beberapa pengurus yang lain, ada beragam pendapat yang muncul dalam rapat, salah satunya restrukturisasi pengurus, dengan mengganti beberapa pengurus yang tidak aktif, hingga opsi reorganisasi, melakukan pemilihan ketua dan pengurus baru, dan akhirnya opsi kedua inilah yang disepakati. Reorganisasi.

Pada bulan Mei 2015 bertempat di Rumah Bersama Komunitas, akhirnya Musyawarah Anggota di gelar. Yudhi Ramli sebagai ketua yang sebenarnya sehari sebelum Musyawarah ada di Kota Metro dan sempat hadir dalam rapat persiapan Musyawarah, karena pekerjaan yang tak bisa ditangguhkan di Jakarta, terpaksa izin tak bisa hadir, tetapi sempat mengirimkan pesan bahwa dia berlapang dada dan menerima semua keputusan apapun yang dihasilkan dan diputuskan dalam Musyawarah tersebut, untuk kebaikan MP.

Dalam Musyawarah tersebut Muhammad Iqbal terpilih secara aklamasi sebagai Ketua, didampingi Johari Saputra sebagai sekretaris untuk menakhodai kepengurusan MP periode kedua. Semua pengurus dan anggota yang hadir menerima hasil musyawarah dan mengucapkan selamat atas terbentuknya kepengurusan baru MP, pengurus baru juga mengucapkan terimakasih atas sukses pengurus lama yang telah berhasil merintis, melakukan konsolidasi hingga MP tetap eksis hingga satu tahun lebih.

Pergantian pengurus tersebut menunjukkan bahwa MP memiliki stok kepemimpinan yang bisa tampil kapan saja, termasuk hendak menunjukkan bahwa MP berusaha berkomunitas secara benar, tak ada status quo atau ketua seumur hidup di MP, semua berjalan atas kehendak, dari, oleh dan untuk anggota MP. 

Darah segar kepengurusan baru, kembali membuat MP bergeliat selain hunting foto internal serentetan kegiatan pun sukses digelar, mulai kegiatan amal hingga lomba foto Metro dalam Lensa, mengambil peran strategis dalam kegiatan yang digelar oleh Komunitas Cangkir bertajuk Tribute to Lukman dengan menggelar pameran dan lomba foto, terlibat juga dalam kegiatan Metro Revival yang melibatkan 28 komunitas yang ada di Kota Metro.

Bersambung ...




Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum