Skip to main content

Sumur Putri, Potensi Wisata Kota Metro yang Terabaikan


Sumur Putri atau sebagian besar warga Kota Metro menyebutnya dengan Sumur Bandung, bukan hanya aset daerah yang bisa dikelola menjadi tempat tujuan wisata sebagai sumur tertua di Kota Metro, Sumur Putri yang berada tepat di belakang Gedung Wanita yang telah dirobohkan atau di seberang rumah sakit tertua Santa Maria, juga memiliki nilai dan rentetan sejarah yang panjang. Sumur tersebut, pada zaman dahulu adalah sumber mata air yang menghidupi tiga wilayah besar di sekitarnya, Trimurjo, Kota gajah dan Pekalongan.

Sumur tersebut bahkan menurut cerita para tetua dan tokoh yang ada di Kota Metro lebih tua umurnya dari HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, dibangun antara tahun 1935-1942 atau telah berumur sekitar hampir 80 tahun. Sumur tersebut dulunya, berbentuk  lingkaran 2,5 meter dan dikelilingi batu kali setinggi setengah meter, lokasinya di cekungan kira-kira 7 meter dari dasar bangunan rumah dinas Camat Metro dulu.

Menurut pengakuan orang-orang tua yang pernah penulis temui, air Sumur Putri sangat jernih, saking jernihnya tak jarang anak-anak nekad nyemplung ke dalam sumur.

Sisi menarik yang lain dari cerita keberadaan Sumur Putri adalah kisah yang beredar dari mulut ke mulut, bahwa dahulu warga sekitar atau orang-orang yang mengambil air di sumur tersebut sering mendengar suara beberapa gadis (putri) yang sedang bercanda dan tertawa. Konon, berawal dari kisah tersebutlah, penamaan sumur tersebut menjadi Sumur Putri.

Andai pemerintah Kota Metro peka terhadap potensi wisata ini, sebenarnya tak perlu anggaran besar untuk merivatalisasi sumur ini menjadi tempat wisata yang memiliki nilai-nilai sejarah, termasuk mendorong Sumur Putri menjadi tempat wisata anak-anak muda, mengingat lokasinya yang berada di tengah kota. Hanya butuh mendesain lokasi menjadi seperti taman, sumurnya dikembalikan bentuknya seperti semula, disedikan beberapa kursi panjang sehingga berbentuk seperti taman, maka jika itu bisa dilaksanakan pastilah Sumur Putri bisa menjadi lokasi kekinian yang asyik untuk berfoto-ria.

Itu sih menurutku, kawan.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum