Skip to main content

Tanggungjawab


Pernahkah terpikir, bahwa dalam kesalahan orang lain ada kesalahan kita, kesalahan karena membiarkannya salah atau tak mampu membuatnya menjadi benar. Tak ada segala sesuatu yang berdiri sendiri, selau hadir berpasangan, baik-buruk, miskin-kaya, tinggi-rendah, dan seterusnya. Pasangan-pasangan tersebut bukan untuk membandingkan mana yang terbaik, tetapi saling melengkapi, saling menguatkan dan saling memberi manfaat.

Bila tak ada yang buruk, kemana yang baik hendak mengajak, andai tak ada yang miskin bagaimana yang kaya hendak berderma?

Begitulah. eksistensi kemanusiaan kita selalu diukur dengan sejauhmana kita berguna dan bermanfaat bagi orang lain, bagaimanapun keadaan dan apapun profesi kita. Orang baik tentu akan lebih bermanfaat ketika kehadirannya bisa membuat orang yang kurang atau tidak baik menjadi baik, tak terbayangkan betapa sedih dan tak bergunanya si kaya, tatkala orang-orang miskin tak lagi mau menerima bantuannya.

Maka, sungguh benarlah seruan Tuhan yang menegaskan predikat khairu ummah kepada manusia yang keluar untuk menyeru sesamanya kepada kebaikan (ma'ruf) dan menghalangi orang lain melakukan kerusakan atau keburukan (munkar), tentu dengan cara yang hikmah (bijak), nasihat yang baik dan dialog yang santun.

Setiap orang wajib mengambil peran dan tanggungjawab, selama ia masih mau disebut sebagai sebaik-baik manusia (khairunnas), manusia yang dibutuhkan keberadaannya karena banyak memberi manfaat atas sesamanya, ada-nya membuat bahagia dan setiap orang akan merasakan kehilangan dengan ketiadaannya.

Bukan sebaliknya, sebagaimana istilah populer di kalangan santri wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Realitasnya ada, tapi sama saja dengan tidak ada. Hidup tapi tak berguna, tidak punya kontribusi sedikit pun, ada yang menyebut manusia seperti ini manusia mubah, adanya tidak menambah, perginya tidak mengurangi. ada tak membuat bahagia, hilang tak membuat sedih.

Bahkan, ada yang lebih parah lagi adamuhu khairun min wujudihi, ketiadaannya lebih baik daripada keberadaannya. Kehadirannya tidak diharapkan, bahkan orang lain sangat senang jika dia tidak ada. Sering membuat onar, menjadi biang kerok dari setiap masalah. Manusia seperti ini, bukan hanya gagal menjadi penyelesai masalah, melainkan justeru lebih sering ada sebagai  masalah yang harus diselesaikan.

Nah, barangkali takaran eksistensi kemanusiaan minimalis adalah, jika tak bisa membuat orang lain bahagia, maka minimal tak membuatnya susah. Jika tak mampu membantu orang lain menyelesaikan masalahnya, minimal tak menjadi biang kerok yang justeru memperumit masalah tersebut.

Akan lebih baik, andai setiap kita sadar, bahwa dalam kemiskinan, kebodohan, kejahatan dan kejelekan orang lain tertulis tanggungjawab kita masing-masing, maka persoalan umat dari berbagai segmentasinya akan bisa ditunaikan dan diselesaikan secara baik, karena semua orang akan lebih banyak bicara tanggungjawab daripada terus menyalahkan dan mengutuk kegelapan.

Maka, tepatlah kiranya apa yang disampaikan Rasulullah, bahwa "ketika kamu melihat sesuatu yang munkar (buruk), maka rubahlah dengan pelukan penuh kasih, jika kamu tak memiliki kemampuan nasihatilah dia dengan nasihat yang baik, jikapun engkau tak sanggpup jua, maka doakanlah ia dengan penuh kasih sayang, semoga menjadi orang baik, tetapi ingatlah, merubah sesuatu hanya dengan berdoa adalah selemah-lemah iman."

Manusia adalah satu kesatuan yang utuh, meniadakan dan tak menganggap penting orang lain, sama artinya menghilangkan bagian-bagian penting kemanusiaan. Tak ada kehidupan yg layak diamputasi, setiap yg tercipta memiliki hikmah dan pelajaran sendiri-sendiri, apapun kealpaan manusia, di situ ada tanggung jawab manusia lainnya yg tak selesai.

Terlalu sering kita menyalahkan orang lain tanpa mau disalahkan. Suami menyalahkan istri, istri menyalahkan suami, orang tua menyalahkan anak, anak menuduh orang tua kolot, penguasa menyalahkan rakyat, rakyatpun terjebak pada krisis kepercayaan terhadap kekuasaan. Alangkah indahnya, tatkala kita berebut untuk berkata: "Oow... ternyata ini salahku, ada tanggungjawab yang tak ku tunaikan!!"

Maka tanggungjawab yang tak kalah pentingnya adalah, mengobati rasa yang "kesemutan" atau bahkan telah "mati" dengan sekuat tenaga menepuk dan mengagetkannya dengan kata-kata, "ini tanggungjawabku! keberadaanku tidaklah sama dengan ketiadaanku!!"


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum