Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2017

Omong Kosong Terbaik dan Kebohongan yang Ditembaki

Biar tahu konteksnya, saya ingatkan lagi ke pembaca bahwa kolom saya bertajuk “Jendela” (Red: untuk rilis.id yang kemudian diposting ulang di Kolom M. Alfan Alfian www.omah1001.net untuk kepentingan penyebaran pengetahuan) ini fokusnya ulasan buku-buku. Yang saya tulis ada rujukan-rujukannya. Ulasannya gaya bebas. Bahasanya sehari-hari. Sebagai penulis, saya sewaktu-waktu bisa, meminjam istilah Prof. Salim Said, “membawa lari” konteksnya. Pun mengajak pembaca berpetualang di dunia gagasan, informasi, dan imajinasi. Baik, kita lanjutkan pembahasan buku Evan Davis, Post Truth. Banyak hal yang dibahasnya. Tetapi ketika menyinggung ranah politik, masuklah Donald Trump yang sudah cukup identik dengan pasca-kebenaran. Dalam hal ini, Davis mengulas bagaimana kekuatan persuasi atau daya bujuk dalam komunikasi pun punya keterbatasan (hal. 215). Komunikator profesional yang bekerja sepenuh reputasi tak jarang justru mengalami ketekoran daya bujuk. Menerobosnya, Donald Trump sang pemen

Agar Kartu Tak Diblokir, Segera Registrasi Ulang

Mulai hari Selasa, 31 OKtober 2017 hingga 28 Februari 2018, seluruh pengguna layanan seluler Indonesia diwajibkan registrasi ulang atau mendaftarkan kartu SIM-nya menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK). Keharusan registrasi pakai NIK dan Nomor KK ini adalah untuk alasan validasi data, yakni demi mencegah terorisme, kejahatan, menanggulangi hoaks , tumbuhkan perekonomian dan mengamankan transaksi non tunai.

Gusti Ryandhi : Dulu Si Introvert, Kini MC Hebat

  "Ayo kawan-kawan, sebelum bubar kita foto bareng dulu. Kita tunjukkan bahwa komunitas di Kota Metro ada dan kompak!" Teriak Gusti sapaan akrab Gusti Ryandhi yang bertindak sebagai  Master of Ceremony (MC), pada Hari Kunjung Perpustakaan yang digelar di jalan depan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Metro, tanggal 26 September 2017 yang lalu,  sebelum menutup acara.

Jelang Munas KAHMI X : Inilah 35 Nama Bakal Calon Presidium KAHMI 2017–2022

Proses rekrutmen bakal calon Presidum KAHMI telah melalui beberapa tahapan, mulai dari, pertama , menyurati dan meminta kesediaan kepada 100 - 200 orang tokoh alumni HMI, yang dianggap teruji track record nya selama ini dan dipastikan sebagai alumni HMI. Kedua , para tokoh dengan berbagai latar belakang profesi diberi waktu 30 hari untuk memberikan jawaban atas permintaan tersebut. Ketiga, nama-nama para tokoh yang telah menyatakan kesediaan untuk mengabdikan waktu, tenaga dan pikirannya tersebut, direkap oleh MN KAHMI dan dikirimkan ke seluruh Majelis Wilayah (MW) dan Majelis Daerah (MD) KAHMI.

Jelang Munas KAHMI X : Undangan untuk Para Guru Besar dan Doktor Alumni HMI

Menjelang Munas X KAHMI di Medan, 17-19 November mendatang, KAHMI menggelar beberapa kegiatan sebagai rangkaian acara Munas, salah satunya adalah Simposium Guru Besar KAHMI dan Intelektual Alumni HMI.

Band Lokal Metro : Cerita Perjalanan Jatuh Bangun Nafas Band

"Tahun 2011 kami ke Jakarta. Kami pernah merasakan tidur di masjid selama sepuluh hari, mengamen untuk biaya hidup dan makan kami." Kenang Budi ketika menceritakan perjalanan Nafas Band pada Minggu, (29/10) di Cafe Mama.

Evan Dimas, Proses Kreatif, dan Jalan Nasib

Katakan ini kolom sela sebagai hiburan akhir pekan. Komentar para pembaca terhadap kolom saya, sebelum kolom lanjutan kali ini, tak disangka cukup meriah. Kolom itu berjudul “ Zaman Omong Kosong ”. Ada yang komentar serius ketika pembaca ketemu saya di jalan. Ada yang cukup berkomentar lewat sosial media. Antara lain, dari sekian komentar itu, karena penulis buku yang tengah saya perbincangkan substansinya dalam kolom “Zaman Omong Kosong” bernama Evan Davis, banyak yang nyeletuk, dia apanya Evan Dimas? Tentu saja Evan Dimas, tak lain, pemain sepak bola itu. Maka, jawaban saya cukup pendek: “Wk wk wkkk … dia mah pemain bola.” Lantas disahut pula dengan: “Wk wk wkk … oh kirain sodaranya.” Masalah kemiripan nama memang, dalam hal-hal tertentu, fenomenal. Di kita bahkan ada yang serius mengurus asosiasi persamaan nama se-Indonesia, bahkan sedunia.  Misalnya perkumpulan Asep, perhimpunan Joko, atau persatuan Endang. Bahkan, beberapa hari lalu, penulis Eka Budianta menulis di Ko

Resensi Buku: Ketika Jeroan ISIS Dibongkar

Secara lantang penulis buku ini sudah mengawali, bahwa dunia Barat masih belum sepenuhnya memahami apa itu ‘Islamic State’ (IS), lebih khusus lagi pada ISIS. Sejumlah pengamat atau reporter media sebelumnya sering melabeli ISIS sebagai ‘Ekstrimis Sunni’. Namun, apa yang membedakan ISIS dari ‘Ektrimis Sunni’ lainnya?

Jelang Munas KAHMI X : E-Voting dan Pemimpin Representatif

Untuk di HMI dan KAHMI yang anggotanya relatif setara, pemilihan one person on vote lebih cocok dan akan menghasilkan pemimpin yang lebih representatif dibandingkan dengan sistem pemilihan perwakilan (sistem perwakilan lebih cocok untuk pemilih yang tidak setara).

Jelang Munas KAHMI X : E-Voting dan Pemetaan Potensi Anggota

Sebagai sebuah model pemilihan pimpinan yang langsung one person one vote, e-voting dapat difungsikan sebagai mekanisme yang "memaksa" setiap organisasi menjadi lebih jujur dan transparan perihal jumlah anggotanya.

Terkendala Biaya, Tama Gagal Ikut AYIMUN 2017 di Malaysia

Berbeda dengan teman-temannya dari daerah lain yang rata-rata mendapatkan dukungan dan support dari kepala daerahnya, Muhammad Anugerah Utama harus mengurungkan mimpinya untuk berangkat ke Malaysia, mengikuti AYIMUN 2017 karena kendala biaya.

Jelang Munas KAHMI X : E-Voting dan Partisipasi

Sebuah organisasi akan hidup, tumbuh dan berkembang apabila organisasi tersebut dapat membangun budaya partisipatoris dari anggotanya. Anggota organisasi tersebut dengan sukarela terlibat aktif dalam membangun dan membesarkan organisasi tersebut.

Abdul Sang Pemimpi(n) Kota

Dalam remang-remang lampu teras belakang rumah mewah, dua sahabat lanjut usia terlihat sedang menikmati kopi dan pisang goreng yang tersaji di atas meja besar dengan ragam hias ekspresi tanaman menjalar, khas ukiran Jepara.

Resensi Buku Islamofobia, Rasisme Struktural

Islamofobia sebenarnya bukan gejala baru di dunia. Gejala ini sudah tampak ratusan tahun lampau dan menghinggapi wilayah geografis yang luas. Hanya saja, belakangan, gejala tersebut meningkat tajam usai tragedi 9/11 di New York, AS. Kian banyak orang di Barat, terutama dari kalangan politisi dan elit pemerintahan, yang curiga terhadap komunitas atau kelompok-kelompok Islam. Ditambah lagi, munculnya al Qaeda serta ISIS yang mengusung ideologi kekerasan.

Tama Akan Menjadi Salah Satu Wakil Indonesia di AYIMUN 2017

Muhammad Anugerah Utama, Siswa SMA Negeri 1 Kota Metro akan mewakili Kota Metro, Lampung dan Indonesia dalam ajang bergengsi Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2017. AYIMUN 2017 adalah ajang simulasi akademis MUN (Model Persatuan Bangsa-Bangsa) internasional yang bertujuan memperkenalkan bagaimana PBB bekerja, sekaligus melatih kemampuan leadership (kepemimpinan), kemampuan analisis, diplomasi, dan public speaking serta melatih kemampuan para peserta untuk menyelesaikan masalah internasional dan mengembangkan kemampuan diplomasi.

Jelang Munas KAHMI X : E-Voting dan Pendataan Anggota HMI/KAHMI

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas)  ke 10  di Hotel Dyandra Santika, Kota Medan, Sumatera Utara, pada 17-19 November 2017 yang akan datang. Pertanyaannya adalah apakah HMI/KAHMI perlu memiliki daftar anggota yang riil dan konkrit? Atau cukup klaim saja? Menurut hemat saya, jawabannya adalah perlu data anggota yang akurat termasuk potensi-potensinya yang dapat dikembangkan dan dikolaborasikan.

Cerpen Raudal Tanjung Banua - Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil

KARYA seni adalah persimpangan jalan, tulis Milan Kundera, saat ia kubaca dalam perjalanan. Bahuku terguncang karena batu dan lubang jalanan, tapi kuteruskan membaca, menyusuri sebuah pikiran. Jumlah jalan yang bertemu, lanjut Kundera, akan menentukan mutu seninya. Aku berpikir, jika kota dapat dikatakan sebagai karya seni, jalanan seperti apakah gerangan yang akan menentukan mutu sebuah kota?

Penguasa dan Pemodal Tak Pernah Salah!

Melanjutkan tulisan saya soal membangun kota adalah kebutuhan warga bukan kebutuhan pengunjung dan tulisan berjudul Persekongkolan Menggusur Warga Miskin dan PKL Metro Melawan , berikut ini saya akan tunjukkan beberapa fakta perjalanan bagaimana pedagang kaki lima (PKL) dan rakyat kecil itu lemah dan tak pernah benar! Dulu sekali, sekitar tahun 1998 ketika kali pertama saya tinggal di Kota Metro, saya masih sering melihat pedagang klontongan yang berjualan menggunakan gerobak di Simpang Kampus, juga ada penjual sate, warung-warung kecil yang berjualan sembako dan kebetulan saya mengenal beberapa orang di antara mereka. Namun, setelah berdiri toko ritel nan megah Alfamart di antara mereka, satu persatu dari mereka gulung tikar, tak ada protes. Semua senyap! Saya yang ketika itu masih semester awal, juga tak pernah bertanya kemana mereka dan bagaimana nasib mereka. Saya hanya berpikir, setelah Alfamart itu berdiri, "Wow keren, kota ini sedang berbenah! Kota sedang hend

Zaman Omong Kosong

Di antara buku-buku tentang “post-truth” yang mampir ke rumah saya adalah Evan Davis, Post Truth, Why We Have Reached Peak Bullshit and We Can Do About It (London: Little, Brown, 2017). Kita tahu, “post-truth” alias pasca-kebenaran ialah kata tahun ini pada 2016 versi Oxford Dictionaries. Ihwal ini sesungguhnya sudah banyak diulas orang. Fenomena peristiwa khususnya juga sudah lewat: Brexit dan menangnya Donald Trump di AS. Tapi, di sini, masih banyak yang kurang ngeh dengan hal itu. Misalnya, suatu sore, mahasiswa saya mengejar saya hanya untuk menyampaikan gagasan bahwa dia mau teliti (untuk ditulis dalam rancangan usulan proposal tesis) mengapa Donald Trump menang di AS. “Oh, kalau itu perspektifnya, bisa populisme politik atau bisa yang lain. Tapi, yang jelas, dia juga bersinggungan dengan post-truth, kata yang populer di zaman kita itu,” kata saya persis ketika pintu lift telah membuka. “Apa itu, Pak?” tanyanya. “Post ... truth, post-truth.” “Apa?” Oh, berarti

Panwaslu Metro Perpanjang Masa Pendaftaran Panwascam 3 Kecamatan

  Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kota Metro me mperpanjang masa pendaftaran bagi calon anggota Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan (Panwascam) untuk 3 Kecamatan, yaitu kecamatan Matro Barat, Metro Utara dan Metro Selatan . Perpanjangan pendaftaran dilakukan kerana untuk ketiga kecamatan tersebut belum terpenuhinya jumlah kuota minimal pendaftar.

PKL Metro Melawan!

  Keadilan tidak bisa dipersepsikan dengan memberi gelanggang yang sama terhadap pemilik sabuk putih dan hitam, kemudian membiarkan mereka bertarung dengan aturan yang sama. Seperti halnya, keadilan ekonomi tidaklah mungkin bisa dimaknai dengan memberi ruang yang sama terhadap para pedagang kecil dan pedagang dengan modal besar.

Tale Gagal Move On

Menjadi nelayan itu enak. Menjadi petani juga enak. Begitulah yang terlihat dari obralan Tohir dan Wak Tan.

Politik, Gagasan, Kebohongan

Saya akan melanjutkan kolom sebelumnya tentang politik, surga dan neraka. Yang belum membaca, terpaksa membelok sebentar mengklik tulisan yang lalu. Pada intinya, politik berhubungan dengan ikhtiar pemegang kekuasaan untuk mengendalikan kekerasan (violence). Kontrol terhadap kekerasan, kata Runciman, itulah jantungnya politik. Ada dua hal yang terkait hal ini: Pertama, kekerasan dipakai sebagai alat kontrol bagi masyarakat, agar taat dan patuh pada otoritas politik. Jadi, kekerasan dipakai sebagai alat kontrol politik. Kedua, kontrol terhadap masyarakat untuk tidak menggunakan kekerasan dalam politik. Yang kedua ini dilakukan sebagai konsensus di mana masyarakat tak boleh mengedepankan kekerasan dalam politik. Kalau melanggar, penegakan hukum yang diajukan. Maka, negara berdiri di tengah-tengah antara pemaksaan dan konsensus. Negara harus punya wibawa. Selain kekerasan, Runciman juga mengajak kita mempertimbangkan dua kata kunci lain: teknologi dan keadilan. Perkembangan tek

Cerpen Sungging Raga - Kota Ingatan

DI matanya tersimpan ribuan kenangan yang ganjil tentang kota itu. Kota yang sekujur bangunan dan tanahnya—serta jurang semestanya—kini telah berselimut debu, tak tersisa bahkan reruntuhan secuil nisan pun, semuanya mendadak abu-abu seragam, seperti bangunan sejarah yang menganga, dengan masih menyisakan beberapa helai napas penduduknya.

PRMI dan Metro Bergeliat Gelar Nonton Liga Champion di Cafe Mama

Pena Real Madrid Indonesia (PRMI) Region Kota Metro mengajak Madridista dan para pecinta El Real untuk hadir dalam acara nonton bareng Real Madrid vs Tottenham Hotspur, Rabu dinihari 18 Oktober 2017 mulai open gate dari jam 01.00 WIB (kick-off 01.45 WIB) di Mama Cafe & Resto Kota Metro.

Band Lokal Metro : Simfoni Perjalanan Phyla Project

Dari "Ngamen" Hingga Menjadi Band Kebanggaan Anak Muda Metro Ribuan mil perjalanan selalu dimulai dari satu langkah. Pandangan hidup itu jugalah yang diyakini oleh para personil Phyla Project, Tiara (Vokalis),  Ferdy Andes (Drumer),  Miftahul Huda (Gitaris) dan Igo (Additional Basis). Sebagai band indie lokal di Kota Metro, Phyla Project memulai karir bermusik dari bawah, dengan sabar dan tekun mereka ' ngamen ' dari cafe ke cafe, undangan-undangan acara perpisahan dan grand opening.

Metro Bergeliat Dan Cafe Mama Gelar Nonton Big Match Liverpool Vs. Manchester United

Laga Liverpool akan menjamu Manchester United pada lanjutan Premier League 2017-2018 di Stadion Anfield, Liverpool, Sabtu (14/10/2017) Pukul 18.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Laga nanti diprediksi berlangsung menarik, meski kedua tim kehilangan beberapa pemain kunci. Bagi para fans kedua club, yang ingin menonton bersama silahkan ke Mama Cafe and Resto di Jl. Pala No. 8/15A Kota Metro.

Panwaslu Kota Metro Memanggil untuk Bergabung di Panwascam

Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kota Metro membuka pendaptaran bagi calon anggota Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) untuk 5 (lima) kecamatan yang berada di wilayah Kota Metro. Rekrutmen Panwascam dilakukan guna melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung 2018, Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019.

Persekongkolan Menggusur Warga Miskin

Ruang khalayak yang selayaknya menjadi tempat berkumpul, berinteraksi dan menghimpun berbagai ragam latar belakang, profesi dan identitas berubah menjadi tempat yang diperebutkan, sebagai area persaingan usaha dan bisnis. Para pedagang kaki lima (PKL) membuat kaplingan kepemilikan begitupun juga para juru parkir, ruang publik yang seharusnya lapang dan ramah pengunjung, menjadi sempit, sumpek dan kadang membuat risih. Ruang warga yang mestinya gratis tiba-tiba menjadi komersil. Begitulah gambaran rata-rata latar ruang publik kota-kota di Indonesia. Berakar-urat dalam tradisi manajemen perkotaan yang tak kunjung tuntas dibedah, alih-alih diselesaikan secara manusiawi. Tercanggih dan paling mutakhir, penyelesaian yang paling sering digunakan adalah mengamputasi (baca; menggusur) para PKL. Sekilas sikap itu tentu terkesan tak salah! Namun, terpaku pada apa yang terlihat di permukaan memungkinkan untuk mengambil kesimpulan keliru. Maka, cobalah sesekali lihat akar mula kenapa terja

Politik, di Antara Surga dan Negara

Buku itu tipis saja. Saya menemukannya di kios buku sebuah bandara. Sudah menjadi kebiasaan, ketika di bandara, kalau waktunya agak longgar, menujulah saya ke kios buku. Baru warung kopi. Tentu kios-kios buku di bandara dipenuhi buku-buku sekadarnya. Fiksi mendominasi. Nonfiksi menyusul. Baru majalah-majalah. Pengunjung selintas mencari, apa yang baru, kalau bukan yang menarik. Nah, kali ini, buku tipis itu menarik perhatian. Ia bicara soal politik. Sebagai orang yang jalan hidupnya “kesampar kesandung”, dan akhirnya terdampar di tepian ilmu politik, itu buku menarik perhatian. Yang menulis profesor ilmu politik kenamaan. Tampaknya, dia diminta saja oleh penerbitnya, menjelaskan tetek bengek politik untuk segmen pembaca yang luas. Apa kira-kira yang hendak disampaikannya? Profesor David Runciman tak muluk-muluk menjelaskan tema serius dan menantang ini: politik. Secara ekstrinsik, dia juga dikenal sebagai penulis, kolumnis, sehingga kalimat-kalimat yang dipakainya mengalir sa

Metro Metropolitan: Kebutuhan Siapa?

Kota Metro sedang bergeliat membangun. Jika Kota Metro ingin menjadi Kota Metropolitan maka yang perlu diingat pembangunan Kota Metro tak boleh dibentuk seperti Jakarta dan Bandarlampung! Metropolitanisasi adalah keinginan internal dalam kota sendiri untuk membuka ruang lebih luas agar kehidupan dalam kota tak sumpek dan jenuh, kebutuhan-kebutuhan eksternal hanyalah respon teknis, tak lebih!  Membangun kota tak boleh hanya berorientasi menyenangkan orang luar kota, tetapi mengabaikan kenyamanan orang dalam (warga) kota. Pembangunan Metro Mega Mall (M3) yang merampok ruang publik Taman Parkir, Masjid Taqwa yang menggusur amal jariyah dan nilai-nilai sejarah, dan kini membangun Metro Convention Center (MCC) dengan menghancurkan dan meratakan Gedung Wanita, eks Perpustakaan Daerah, Gedung Pramuka dan Kantor Lingkungan Hidup itu harus benar-benar menjadi evaluasi, kajian dan bahan pemikiran untuk proyeksi perencanan pembangunan kota ke depan, apakah benar-benar sebagai langkah pemenu

Cerpen Saroni Asikin - Striptease Jendela

SEGALANYA bermula Jumat malam itu. AC di kamar apartemen Eva mendadak mati. Udara yang memang gerah malam itu membuat kamar serupa pendiangan penuh bara menyala. Eva baru menyadari itu ketika dari dahinya berleleran keringat dan jatuh menetes ke bagian bawah dasternya. Begitu juga, tubuhnya mendadak serasa terbakar.

Luckty, Pegiat Literasi Perempuan Berpengaruh dari Kota Metro

Barangkali warga Metro tak banyak yang mengenal sosoknya, tetapi dunia literasi para penulis, bibliofil, pustakawan, penyuka dan kolektor buku dari seantero negeri pastilah tak asing dengan namanya. Luckty Giyan Sukarno. Sebenarnya, bukan hanya di kalangan perempuan Luckty berpengaruh, tetapi juga di kalangan pegiat literasi laki-laki. hehehe

Masih Perlukah Membaca?

Akhirnya dia keluar juga. Gadis bermata bening itu berjalan pelan, mendekat. Lalu di sebelah saya ia duduk, sambil menoleh melihat buku setengah terbuka di tangan saya. "Baca apa to, Mas?" Sambil menahan desir di dada akibat wajah teduhnya yang tersapu pandangan saya, juga wangi badannya yang terhirup sekejap di hidung saya, saya menjawabnya. "Ini, novel. Ca Bau Kan ." Wajahnya langsung mengernyit heran. "Loh. Kan sudah ada filmnya? Kok baca bukunya?" Saya tercenung mendengarnya. Memang benar, novel karya Remy Silado tentang kisah cinta seorang perempuan Betawi dan saudagar kaya peranakan Tionghoa pada zaman kolonial itu baru saja difilmkan. Namun kalimat si gadis bermata bening membuat saya gundah. "Loh. Kan sudah ada filmnya? Kok baca bukunya?" Lepas dari malam itu, saya merenung lama. Akhirnya, karena terlalu gundah mengingat kalimat yang ia ucapkan, saya memutuskan untuk meninggalkannya. Kisah dan dialog itu melintas lagi