Skip to main content

Jeda


Jeda

Setiap sesuatu memerlukan jeda. Jeda adalah ruang kosong yang tak memiliki aktifitas apa-apa, meskipun sebenarnya sangat sulit untuk menemukan ruang kosong yang tak berisi sama sekali. Jeda manusia dari beragam aktifitas sehari-hari, sebutlah misalnya tidur, maka jeda yang dimaksud juga berisi, jeda permainan sepakbola di antara dua babak, juga tetap berisi aktifitas, jeda kata dengan kata yang lain berupa spasi juga memiliki makna.

Jeda, akhirnya memiliki kesulitan untuk dimaknai sebagai sebuah istirahat total. Karena hakikatnya tidak ada sesuatupun yang hidup dan bergerak hampa aktivitas. Jeda bukan;ah kekosongan aktivitas, jeda adalah kebermaknaan.  Tiada satu katapun yang membentuk kalimat bermakna tak memiliki ruang jeda atau spasi, karena sesungguhnya justeru jeda itulah yang membuat semuanya menjadi bermakna. Maka jeda bisa dimaknai sebagai ruang ikhtiar untuk menemukan makna tertinggi dalam kehidupan.

Jeda bukanlah kekosongan, ia adalah sesuatu yang benar-benar ada dan berisi. Bahkan Jeda begitu pentingnya, karena kata tanpa jeda akan kehilangan makna, kita tanpa jeda tak bisa menemukan diri kita sendiri, kita tak mampu melihat apa-apa tanpa jeda. Jeda adalah media mengantarkan kita, memberi jarak agar kita bisa melihat dan menilai, bukan untuk memisahkan.

Batas adalah tipuan, kita tak pernah mampu mengetahuinya dengan pasti. Kapankah tepatnya siang digantikan malam? Kapankah tepatnya batas antara malam dan pagi? Semua terasa begitu kabur. Manakah batas antara lautan dan daratan? Pantai? Sedang air laut terus bergerak-gerak tak menetap. Manakah batas terang dan gelap?

Dalam sastra jeda dipahami sebagai penghentian atau kesenyapan. Jeda juga berhubungan dengan intonasi, penggunaan intonasi yang baik dapat ditentukan pula oleh penjedaan kalimat yang tepat. Untuk kalimat panjang penempatan jeda dalam pengucapan menentukan ketersampaian pesan. Dengan jeda yang tepat pendengar dapat memahami pokok-pokok isi kalimat yang diungkapkan. Penggunaan jeda yang tidak baik membuat kalimat terasa janggal dan tidak dapat dipahami.

Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring [/], tanda koma [,], tanda titik koma [;], tanda titik dua [:], tanda hubung [-], atau tanda pisah [--]. Jeda juga dapat memengaruhi pengertian atau makna kalimat.

Dalam perspektif bahasa, sebagaumana dikatakan Muslich (2008), jeda atau kesenyapan terjadi di antara dua bentuk linguistik, baik antar kalimat, antar frase, antar kata, antar morfem, antar silaba, maupun antar fonem. Jeda antara dua bentuk linguistik yang lebih tinggi tatarannya lebih lama kesenyapannya bila dibanding dengan yang lebih rendah tatarannya. Jeda antar kalimat lebih lama kesenyapannya bila dibanding dengan jeda antar frase. Jeda antar frase lebih lama bila dibanding dengan jeda antar kata. Begitu juga seterusnya.

Jeda, sering dibagi dalam bentuk, jeda final dan jeda non final. Dalam tataran kalimat, penggunaaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis sering menimbulkan kekaburan makna. Dalam penulisannya, jeda final ditulis dengan tanda titik. Sedangkan untuk jeda non final dapat menggunakan tanda hubung atau tanda koma.

Jeda dan Hidup

Mengutip Teddi Prasetya Yuliawan, bahwa “Kematian adalah sahabat kehidupan. Ia memberikan arah dan harapan, akan perjumpaan kembali dengan Dia Yang Maha Hidup. Kepastiannya tak perlu kau risaukan. Maknanya bagi hidupmulah yang perlu kau nikmati.”

Berbeda dengan mati, hidup adalah sebuah aktifitas gerak rutin untuk diri sendiri, tetapi juga adalah aktifitas kebermanfaatan buat orang lain. Hidup adalah pengabdian diri sepenuhnya pada kebaikan. Baik akan menitiskan yang baik. Setiap jiwa baik dalam diri kita harus hidup dalam diri orang lain. Sebab hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti.

Maka, jeda dalam kehidupan bisa dimaknai sebagai upaya memulihkan energi untuk lebih maksimal melakukan pengabdian untuk kebaikan, inilah jeda non final, jeda untuk memberi ruang yang lebih bermakna pada aktifitas kehidupan sebelumnya. Jeda, yang hanya boleh berhenti sementara.

Jeda dalam hidup bisa dimaknai sebagai rentang jarak, ancang-acang yang bisa membuat lompatan lebih tinggi dan jauh. Setiap kata butuh jeda agar membentuk kalimat sempurna dan bermakna, kita butuh jeda agar bisa bekerja maksimal dan bermanfaat bagi sesama. Jeda, bisa jadi juga ruang muhasabah.

Karena jeda nafasku tertata, karena jarak pandanganku lega, karena batas aku berduka.




Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum