Skip to main content

Politik, Gagasan, Kebohongan

Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Saya akan melanjutkan kolom sebelumnya tentang politik, surga dan neraka. Yang belum membaca, terpaksa membelok sebentar mengklik tulisan yang lalu. Pada intinya, politik berhubungan dengan ikhtiar pemegang kekuasaan untuk mengendalikan kekerasan (violence). Kontrol terhadap kekerasan, kata Runciman, itulah jantungnya politik.

Ada dua hal yang terkait hal ini: Pertama, kekerasan dipakai sebagai alat kontrol bagi masyarakat, agar taat dan patuh pada otoritas politik. Jadi, kekerasan dipakai sebagai alat kontrol politik. Kedua, kontrol terhadap masyarakat untuk tidak menggunakan kekerasan dalam politik.

Yang kedua ini dilakukan sebagai konsensus di mana masyarakat tak boleh mengedepankan kekerasan dalam politik. Kalau melanggar, penegakan hukum yang diajukan. Maka, negara berdiri di tengah-tengah antara pemaksaan dan konsensus. Negara harus punya wibawa.

Selain kekerasan, Runciman juga mengajak kita mempertimbangkan dua kata kunci lain: teknologi dan keadilan. Perkembangan teknologi, pun teknologi informasi, tentu juga teknologi persenjataan, merupakan fenomena yang, manakala tak terkendalikan, bisa menjadi bumerang. Tetapi, di atas itu semua, isu keadilan tetaplah abadi dalam politik. Ia terkait dengan konteks “pembenaran” alias legitimasi.

Maka, dalam politik, dialog membangun konsensus, tetaplah mendasar. Kalau konsensus tak tercapai, kembalilah kita ke aksioma Carl von Clausewitz, perang ialah kelanjutan semata-mata dari gagalnya ikhtiar diplomasi politik. Sampai di sinilah buku Runciman itu penting, ketika politik didekati sebagai kebijakan (pengendalian) dan konsensus.

Apabila dibandingkan dengan Andrew Heywood, yang juga bicara politik, maka kita akan menemukan perspektif lain yang tak kalah penting. Heywood dalam Politics (New York: Palgrave Macmillan, 2013) mengajak pembacanya untuk memandang politik sebagai kontestasi gagasan-gagasan. Kekuatan argumentasi, itulah yang menjadi penting dalam politik.

Karena itu, tak ada benar dan salah dalam politik. Yang ada apakah sikap, tindakan, dan kebijakan yang hadir didasari argumentasi yang kuat atau tidak. Maka, politik adalah sesuatu yang biasa saja dalam hal pro dan kontra.

Bagi Heywood,  “Semua orang adalah pemikir politik.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa semua berasal dari pikiran, termasuk politik. Tak ada politik yang berjalan tanpa pikiran-pikiran. Maka, kontestasi politik pun pada akhirnya juga kontestasi pikiran-pikiran, ideologi-ideologi.

Bahwa, kata Heywood lagi, “Entah mereka sadari atau tidak, manusia menggunakan berbagai ide dan konsep politik kapan pun mereka mengekspresikan opini atau mengutarakan pikiran mereka. Bahasa sehari-hari dipenuhi dengan ragam istilah seperti kebebasan, keterbukaan, kesetaraan, keadilan, dan hak.”

Kadang-kadang, dalam kontestasi politik itu, berkembang pikiran-pikiran yang utopis. Lantas mereka berkontestasi. Ideologi-ideologi sering dikritik sebagai sesuatu yang utopis. Perang ideologis korbannya tidak main-main pula. Perspektif ini, masih mengemuka dalam perspektif benturan antarperadaban versi Huntington. Ideologi dalam konteks ini diparalelkan dengan “peradaban-peradaban”.

Memang, catatan kritis segera mengemuka di sini dalam tesis Huntington itu. Bahwa “peradaban” yang dia maksud pun tidak tunggal, kan?

Tapi belakangan ini, politik nyaris identik dengan kontestasi kebohongan. Perkembangan teknologi informasi dipakai untuk mengembangkan fake news dan hoaks. Zaman post-truth, yang ditandai kemenangan Donald Trump di AS dan fenomena Brexit di Inggris, seolah menandai babak baru perkembangan politik sebagai kontestasi kebohongan.

Sampai di sini dulu. Kolom selanjutnya, akan kita lihat kecenderungan buku-buku yang mengulas fenomena kontestasi kebohongan tersebut. Yakni, buku-buku yang membahas fenomena post-truth. Wassalam. (rilis.id)

M. Alfan Alfian, Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum