Skip to main content

Tale Gagal Move On


Menjadi nelayan itu enak. Menjadi petani juga enak. Begitulah yang terlihat dari obralan Tohir dan Wak Tan.

Angin kencang selama seminggu, menyebabkan Tohir tak bisa melaut, hingga persediaan makanan mereka ludes sudah. Hal yang sama juga terjadi pada Wak Tan. Bahkan bukan hanya beras yang di simpan di tong yang terbuat dari tanah, tanaman padi dan jagung semuanya tumbang-tiarap mencium tanah gegara angin ribut. Tetapi mereka tetap bisa tertawa, menghisap rokok kreteknya dalam-dalam kemudian melepaskan asapnya tanpa beban.

Namun, tidak begitu halnya dengan Tale. Kepala desa yang baru saja dilantik, yang menurutnya menang dengan cara curang, dengan menggunakan isu-isu etnis, tetap saja tak pantas menjadi kepala desa. Ada banyak catatan dari sambutan kepala desa saat dilantik yang menurutnya bermasalah dan berpotensi memecah masyarakat nelayan dan petani di Kampung Nelayan itu.

Kata-kata yang menurut catatan Tale paling bermasalah adalah saat Sang Kepala Desa menyampaikan bahwa nelayan sebagai penduduk asli Kampung Nelayan, sedangkan petaninya adalah pendatang, untuk itu perekonomian kaum nelayanlah yang harus menjadi sasaran prioritas pembangunan, padahal nelayan dan petani di Kampung Nelayan sudah tak bisa dipisahkan.

"Kamu, kenapa to Tale?" seru Tohir kepada anak tunggalnya itu.

" Prihatin dengan pidatonya kepada desa, Wak!" cetus Tale

"Lah, kenapa?"

"Pernyataan kepala desa itu berpotensi memecah belah,  Wak," kata Tale

"Ah, kamu terlalu membesar-besarkan. Kamu saja terlalu baperan, karena kebetulan tak memilih kepala desa sekarang. Buktinya, Uwak dan Wak Tan biasa-biasa saja. Uwakmu ini nelayan, Wak Tan petani, kita juga berbeda pilihan dengan mereka. Perbedaan itu kan menjadi masalah, jika dibesar-besarkan apalagi bercampur sentimen yang selalu dipelihara, dirawat dan dikampanyekan (disebut-sebut) terus!"

"Nah, kepala desa itu lah yang menyebut-nyebutnya terus Wak, sampai menjadi bagian isi pidatonya!"

"Kamu dan kawan-kawanmu yang sepaham juga ikut membesar-besarkannya dan menggosoknya menjadi kebencian." Jelas Tohir.

"Coba kamu instrospeksi, sampai mencorat-coret tembok rumah dengan tulisan
#BukanKepalaDesaku, padahal kamu selalu ngoceh kemana-mana sebagai orang yang rasional, melakukan segala sesuatu harus dengan alasan. Nah, sekarang apa alasanmu menggalang kebencian itu, apakah itu menguntungkan warga Kampung Nelayan!"

Tale terdiam.

"Belajarlah pada para petani, Nak. Beberapa waktu lalu seluruh tanaman mereka rusak, bawang yang mereka tanam selama kemarau kekurangan air dan harus mereka siram tiap hari itu, tiba-tiba karena hujan seharian seluruh tanaman itu busuk, dan harapan mereka untuk panen menjadi bubar. Setelah itu, mereka diperhadapkan dengan isu-isu yang membuat mereka lebih sakit. Padahal selama ini mereka baik-baik saja!"

"Belajarlah kepada mereka, bagaimana caranya tetap legawa dalam situasi terburuk sekalipun!"

Tetap terdiam, Ia berdiri dan berjalan gontai menuju pantai. Ia berpikir tentang alasan-alasannya menggalang kekuatan untuk tak menyukai kepala desa terpilih. Menyangkal realitas, suka tak suka kepala desa itu akan memimpin pembangunan di Kampung Nelayan selama lima tahun.

Tale terus berjalan menyusuri pantai, membiarkan kakinya tersapu air laut. Ia terus berjalan hingga tebing di ujung pulau, memperhatikan beberapa batu-batu besar yang pecah karena dihantam ombak terus-menerus.

"Move on adalah kunci!" Serunya

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum