Skip to main content

Jelang Munas X KAHMI : Hari Ini Simposium Para Guru Besar dan Doktor KAHMI Digelar


Majelis Nasional KAHMI, hari ini hingga besok (14-15) menggelar simposium nasional profesor dan guru besar, dengan tajuk 'Membangun negeri memihaki bangsa sendiri'. Acara tersebut dilangsungkan di Gedung Nusantara V MPR RI.

Menurut Mahfud MD, Koordinator Presidum MN KAHMI, simposium tersebut intinya untuk memberi padangan bagaimana pembangunan tidak sekadar mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga pemerataan dan memperkecil ketimpangan sosial.

"KAHMI punya ribuan profesor yang bekerja di perguruan tinggi, dan doktor-doktor yang bekerja di berbagai profesi. Simposium profesor dan doktor alumni HMI ini, intinya untuk memberi pandangan bagaimana pembangunan tidak sekadar mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi," Jelas Mahfud, beberapa waktu lalu.

Hal senada juga ditegaskan oleh Ketua Panitia Pengarah Simposium yang juga peneliti senior LIPI Siti Zuhro, bahwa kesenjangan sosial ekonomi akan mendapat perhatian yang besar dalam acara ini. Ada enam perspektif untuk mendekati isu tersebut dalam simposium ini, antara lain demokrasi, budaya, pendidikan, ekonomi, hukum dan HAM, serta sains dan teknologi. Keenamnya dipilih dan berangkat dari permasalahan kesenjangan sosial dan ekonomi dalam rangka menyongsong pembangunan Indonesia merdeka 100 tahun di 2045 mendatang.

"Ada 6 subtema yang dalam hal ini dilihat interdisipliner, ada dilihat dari perspektif demokrasi, otonomi daerah dan birokrasi pemerintah, yang kedua isu mengenai subtema agama, ideologi, dan budaya. Yang ketiga itu pendidikan, yang keempat tentang ekonomi, kelima hukum dan HAM, keenam itu sains dan teknologi," terang Siti.

"Paling tidak 6 subtema itu kita maksudkan bisa memberikan gagasan ide baru yang bagaimana ini solutif dan implementatif. Tentu kita harus berpihak pada bangsa sendiri karena tidak boleh kita bangsa yang sudah merdeka 72 tahun tapi merasa terjajah. Kita harus menggugat itu kalau memang itu yang kita rasakan," lanjutnya.

Sebagian gagasan dan pemikiran guru besar dalam simposium tersebut, telah dituangkan dalam buku "Membangun Negeri Memihaki Bangsa Sendiri."

Para Guru Besar dan Doktor Alumni HMI, berfoto sebelum acara dimulai
Prof. Muhajir Efendi sedang menyampaikan paparannya
Prof. Didin S. Damanhuri dan Dr. Suryani Sidik Motik di sela-sela acara


Sumber : KBA HMI Pecinta Buku


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.