Skip to main content

Jelang Munas KAHMI : KAHMI Dan Masa Depan Peradaban


Peradaban manusia, yang terekam oleh sejarahwan kira-kira telah berlangsung sekitar 8000 tahun. Jika ditelusuri hingga ke era Sumeria, (5000 tahun SM) hingga dewasa ini rangkaian peradaban manusia itu telah menghasilkan ribuan Bangsa, dengan aneka bahasa dan kebudayaan. Ratusan Bangsa yang telah punah, demikian halnya bahasa yang pernah digunakannya.

Rezim yang berkuasa silih berganti, masing-masing menampilkan suatu tradisi yang terbaik dimasanya. Lalu jatuh, runtuh digantikan oleh rezim baru dengan tradisi yang baru pula. Diantara yang mampu bertahan cukup lama bahkan hingga ribuan tahun lamanya, kita dapat belajar tentang keunggulan apa yang mampu membuat mereka bertahan. Umumnya Bangsa yang mampu bertahan lama karena rezim yang silih berganti memimpin Bangsa itu mampu menjaga legitimasinya untuk memimpin Bangsanya.

Upaya membangun dan mempertahankan legitimasi salah satu yang banyak memperoleh perhatian para sejarahwan. Jejak peradaban menunjukkan bahwa segala macam cara ditempuh untuk mempertahankan legitimasi. Klaim sebagai keturunan Dewa, dukungan ahli sihir dan tukan tenun, kepemilikan benda pusaka yang diwariskan secara turun temurun, rekayasa silsilah keturunan, invasi dan perluasan wilayah kekuasaan, hingga ke kepenguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru, semuanya pernah digunakan untuk mempertahankan legitimasi kekuasaan. Bahkan rekayasa tradisi dalam agama-agama pun tidak terlepas dari upaya memperkuat legitimasi atas suatu rezim agar dapat mempertahankan kekuasaannya. Hasilnya adalah munculnya beragam sekte-sekte dalam berbagai agama.

Apapun yang ditempuh manusia dalam rangka mempertahankan legitimasinya untuk berkuasa, dapat kita simpulkan bahwa tiap-tiap rezim memerlukan kepercayaan untuk mempertahankan legitimasi kekuasaannya. Mempertahankan kepercayaan, itulah kata kunci dari para pemimpin Bangsa-Bangsa yang unggul sejak dahulu hingga dewasa ini. Kehilangan kepercayaan, berarti kehilangan legitimasi, kehilangan legitimasi akan disusul kehilangan pengaruh dan pada akhirnya runtuh baik karena sebab sebab yang datang dari gejolak internal maupun karena akibat serbuan atau desakan dari bangsa yang lain.

Merebut legitimasi dan mempertahankan legitimasi itulah hal pokok yang senantiasa penting untuk diperhatikan suatu kelompok sosial dalam menjaga survivalitasnya. Semakin besar modal kepercayaan yang dimiliki, semakin besar legitimasi dan pengaruh kelompok sosial tersebut di tengah masyarakat.

KAHMI dan Legitimasi
Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sebagai wadah bagi alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki tujuan mewujudkan suatu masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Rumusan tujuan seperti itu bukannya tanpa alasan. Setidaknya ada tiga kesadaran yang bersifat profetik yang melandasi perumusan tujuan tersebut.

Pertama, kesadaran sebagai makhkuk ciptaan-Nya, yang diberi amanah untuk memelihara dan menjaga kelangsungan alam semesta. Menjadi rahmatan lil 'alamiin. Kesadaran seperti itu mengalir dalam nafas Islamnya maupun imannya bahwa Allah SWT senantiasa menyertai dalam setiap aktivitasnya.

Kedua, kesadaran bahwa tiap-tiap alumni HMI merupakan himpunan manusia yang tercerahkan, yang telah mengenyam pendidikan tinggi diberbagai belahan dunia. Di antara mereka, ratusan orang telah meraih gelar Guru Besar (Professor), ribuan diantara mereka telah meraih gelar Doktor tentu saja menjadikan KAHMI salah kelompok elite dalam strata pendidikan di tanah air. Jejaring para professor, doktor, magister itu tidak lagi sebatas wilayah NKRI, tapi sudah mengglobal. Tidak berlebihan jika pikiran pikiran yang muncul dari KAHMI semestinya pun telah memiliki dampak/pengaruh secara global. Jika belum seperti itu, berarti potensi yang ada tersebut belum dimaksimalkan.

Ketiga, kesadaran akan komitmen keummatan dan kebangsaan. Kesadaran seperti inj mengharuskan KAHMI yang memiliki kemampuan berpikir dan merumuskan konsep yang pengaruhnya berdimensi global harus senantiasa memiliki kesadaran untuk memperhatikan hal hal yang bersifat lokal, detail dan spesifik yang terjadi dalam konteks keummatan dan kebangsaan.

Dengan ketiga kesadaran itu, KAHMI mestinya dapat memiliki legitimasi yang kuat, pengaruh yang besar untuk melakukan berbagai inovasi dalam rangka menjawab aneka tantangan yang dihadapi bangsa dan negara kita.

Kuncinya sekali lagi merebut dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Semoga KAHMI dan seluruh keluarga besar HMI dapat memperhatikan pentingnya merebut dan mempertahankan kepercayaan dimanapun mereka beraktifitas.

Selamat ber-Munas, jangan merusak kepercayaan. Masa depan peradaban di tangan mereka yang mampu meraih dan menjaga kepercayaan.

Wallau a'lam bi-al shawab.

Hasanuddin, Ketua Umum PBHMI Periode 2003-2005

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.