Skip to main content

Membaca, Menulis dan Mengikuti Lomba Blog




Belakangan ini, saya sedang keranjingan mengikuti kompetisi blog. Entahlah, barangkali karena memang saya tak memiliki pekerjaan lain, selain menghabiskan waktu nongkrong depan laptop, menulis. Dan, jika lelah, maka saya akan menggeser kursi sedikit menghadap rak-rak buku sebelah meja tempat biasa saya menulis, kemudian membiarkan diri larut bersama buku-buku novel ringan yang sebenarnya beberapa di antaranya telah dibaca.


Sebenarnya, saya punya beberapa e-book, baik novel maupun beberapa bacaan lainnya dalam bentuk pdf, namun membaca di layar monitor membuat mata lebih gampang cape.

Membaca itu seperti berpetualang. Bedanya berpetualang atau berjalan tidak melulu membaca teks, tetapi juga membaca suasana, cuaca, tradisi dan kultur hingga menemukan kearifan di masing-masing tempat yang disinggahi, dengan berjalan akan lebih banyak hal diketahui, semakin banyak yang diketahui akan semakin menyadarkan diri bahwa lebih banyak lagi yang tak diketahui, berjalan sepatutnya menjadikan orang lebih tawadhu', karena perjalanan mengajarkan banyak hal tentang kekurangan. Ada banyak orang hebat di luar sana yang bisa ditemui selama perjalanan.

Begitu pun halnya membaca, semakin banyak buku yang dibaca seharusnya semakin tersadar dan tahu diri kita, bahwa teramat masih banyak buku yang tidak atau belumdibaca. Insyaflah diri, bahwa pengetahuan bagai setitik air di tengah samudera pengetahuan yang begitu luas, semakin tak sombong mestinya.

Setiap lembar buku yang kita baca, menghantarkan kita pada sebuah halaman luas yang memicu lahirnya ide baru. Membaca mendorong kita berkomentar, mengiyakan atau menolak dan mengkritisinya. Komentar itu semestinya bisa kita tulis, tulisanlah yang bisa merekam komentar kita saat membuka setiap halaman-halaman buku itu. Jadi, tulislah sebelum segalanya menguap!

Menulis adalah aktivitas yang tak boleh dipisahkan dari aktivitas membaca.

Ketika berjalan, sesungguhnya juga adalah aktivitas membaca. Membaca suasana satu tempat, menalar kultur dan tradisi dan masyarakatnya, mengagumi tata ruang kotanya. Dalam perjalanan, kita bisa melihat banyak hal, yang membuat kita pada satu waktu begitu takjub, dan di waktu yang lain begitu kalut. Pengalaman-pengalaman itu melahirkan rasa yang beragam, pujian sekaligus kritikan terhadap daerah-daerah yang pernah kita singgahi.

Lantas, kenapa ragam komentar itu tak ditulis. Membagi pengalaman kepada orang lain sekaligus merekam setiap pendapat yang lahir dari perjalanan itu.

Sekali lagi, perjalanan itu selalu mengajarkan pengalaman sekaligus pengetahuan. Dengan berjalan kita tidak sekadar tahu petatah petitih soal di atas langit ada langit, tetapi kita juga bertemu, menemukan dan mengalaminya, sehingga mengamalkan kata-kata bijak tentu lebih mudah daripada hanya sekadar berteori.

Perjalanan dari halaman ke halaman buku yang lain pun mestinya begitu. Termasuk perjalanan berpetualang di dunia maya. Ada banyak hal yang bisa ditemui, salah satunya adalah tantangan.

Saya seringkali bertemu orang-orang yang mengajukan pertanyaan; "Saya bingung mau nulis apa? Atau menulis tentang apa ya?"

Jika itu masalahnya, kenapa tidak menjawab tantangan yang berseliweran di internet, blog competition. Ya, lomba menulis di blog, ada banyak tantangan setiap bulan yang bisa ditulis, tentang banyak hal.

Ketika setiap halaman buku tidak cukup menantang untuk melahirkan ide, komentar dan kritik baru, pun setiap halaman tempat yang disinggahi juga tak bisa memunculkan ketakjuban dan kekalutan yang bisa ditulis, lantas kenapa tak mencoba menjawab tantangan-tantangan yang muncul di halaman-halaman web yang kita buka. Dan, tantangannya rata-rata cukup mudah, hanya cukup menuliskan 500 kata yang siap muntah dari komentar-komentar kita. Bukankah, kita memuntahkan ribuan kata setiap hari, yang sayangnya tak ditulis! Jadi, tak terlalu berat jika hanya menyisihkan 500 kata dari ribuan yang terbuang bukan.

Tantangan menulis blog, cukup menggiurkan, karena selain bisa menyalurkan hobi memuncratkan kata-kata ada iming-iming hadiah juga loh! Jadi, tunggu apalagi.


Selamat mencoba!

Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo



Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Sejarah Santa Maria dan Lahirnya RSUD Amad Yani

Sore itu, b eberapa orang laki-laki terlihat sedang duduk santai di halaman, tepatnya di area parkir Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA)atau lebih dikenal dengan Rumah Bersalin (RB) Santa Maria. Halaman yang terlihat sangat rapi dan bersih itu, menjadi alasan saya untuk menolak ajakan Paulus Triadi Santoso yang akrab disapa Mbah Riri ( 70 ), seorang Satpam yang telah mengabdi 3 6 tahun di Rumah Sakit tersebut, untuk berbincang di dalam ruangan.