Skip to main content

Menikmati Perubahan Lampung Timur

 
Gajah Nunik sedang bermain dengan pengunjung di Pusat Latihan Gajah Way Kambas
Hari ini selepas jum'atan (10/11/2017) saya bersama kawan-kawan Metro Photography (MP) berkunjung ke Way Kambas. Lepas dari tugu perbatasan Kota Metro memasuki wilayah Lampung Timur, saya cukup menikmati perjalanan, meski belum semulus jalan-jalan utama di Kota Metro, jalan menuju ke Way Kambas sungguh terasa telah mengalami perubahan signifikan dari sebelumnya.

Awal 2016 yang lalu, begitu masuk wilayah Tridatu kekiri menuju Way Kambas, perjalanan yang mestinya bisa ditempuh belasan menit, bisa dilalui hingga sejam, berbatu dan penuh lubang, sehingga terasa semakin lama dan menyiksa.

Begitu pun ketika sampai dan masuk ke area Way Kambas, sejak melewati plang hijau pintu gerbang Taman Nasional Way Kambas hingga Pusat Latihan Gajah (PLG) sudah terasa lebih nyaman, tak ada lagi jeglongan yang bisa mengaduk-aduk isi perut seperti dulu.

Bukan hanya itu, kesan angker kiri-kanan jalan pun sudah sirna. Setibanya di PLG, saya juga tak lagi menemukan wajah tak sedap untuk dilihat seperti tempo dulu, semua menjadi murah senyum dan ramah.

Apakah Lampung Timur telah berubah?

Awalnya saya menyangka Lampung Timur akan butuh waktu lama untuk berubah secara fisik terlebih mental warganya. Oleh karena itu, saya menganggap kehebohan-kehebohan di media sosial tentang gerakan perubahan dan kampanye wisata Lampung Timur, tak lebih dari kampanye dan branding belaka, soal realisasi perubahan tersebut mungkin butuh waktu 10 hingga 25 tahun lagi.

Namun, sangkaan itu tentu harus saya geser. Saya harus memberikan pengakuan jujur bahwa Lampung Timur telah berubah, dan warganya meskipun barangkali belum semua, tetapi sikap sopan dan pelayanan yang diberikan oleh warga yang kebetulan kami temui sepanjang perjalanan pergi-pulang Way Kambas telah menunjukkan gelagat warga sadar wisata.

Saat perjalanan pulang lepas Magrib, kami sempat berhenti di beberapa lapak pedagang durian (duren), ketika menawar bahkan ketika tak jadi membeli, tak ada lagi kesan marah dan tersinggung yang ditunjukkan oleh para pedagang di beberapa lapak duren tersebut, bahkan dengan sopan salah seorang pedagang lapak itu ada yang menjawab, "maaf Mas, durennya belum matang, baru sampe dari Tanggamus, mungkin besok. Jadi, kalo untuk di makan sekarang belum bisa!"

Kondisi yang pasti tidak akan pernah ditemukan, jika kami berkunjung dan membeli duren di pinggir jalan Lampung Timur lima tahun lalu.

So, saya percaya Lampung Timur tak perlu menunggu hingga 200 tahun untuk maju. Apalagi jika kesadaran membangun Lampung Timur menuju "Lampung Timur Berdaya" menjadi kesadaran bersama warga Lampung Timur. Toh, untuk disebut maju Lampung Timur tak perlu menjadi Kota Metro, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Bali atau bahkan Bandarlampung yang justeru kini warganya banyak mengeluhkan soal kemacetan dan banjir.

Lampung Timur memiliki karakter dan kearifan lokal sendiri, indikator daerah maju tak bisa merujuk ke kepadatan penduduk suatu tempat, termasuk juga tak bisa diukur dengan berdirinya gedung-gedung megah padahal di sisi lain, warganya justeru teralienasi.

Toh Lampung Timur, setahun terkahir ini, diakui atau tidak turut berkontribusi terhadap naiknya kunjungan wisatawan lokal maupun wisatawan asing ke Lampung, yang konon menurut Gubernur Lampung kunjungan wisatawan nusantaranya melampui Bali.

Meski Gubernur sendiri menyebut peningkatan itu lantaran Hari Keluarga Nasional dan Hari Kopi Internasional, namun wisatawan yang datang ke Lampung Timur pastilah juga masuk dalam jumlah seluruh wisatawan yang datang ke Lampung tersebut kan?

Akhirnya, apapun itu saya pribadi selama dalam perjalanan menuju, ketika di Way Kambas, ketika mampir makan di Sukadana hingga perjalanan pulang meninggalkan Lampung Timur, sangat menikmati perubahan itu.

Selamat Menikmati Festival Way Kambas, 11 - 13 November 2017.

Tabik.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.