Skip to main content

Seonggok Kenangan Pantai


Minggu pagi, biasa kita bermain berkejaran hingga ke bibir pantai. Hanya bercelana pendek tanpa baju, bukan? Bukan, bukan bercelana pendek melainkan hanya memakai selembar cawat yang bagian belakangnya telah bolong seperti sepasang mata belong.

Kau berlari kencang sembari menenteng sebuah senapan ikan, yang terbuat dari kayu, pelurunya dari bekas jari-jari sepeda yang sudah tak terpakai. Ujung depan jari-jari sepeda dibuat tajam tapi dibentuk seperti pancing, agar ikan tak lepas setelah tertembak, ujung belakangnya diikat dengan benang, agar peluru tak dibawa lari ikan.

Sedangkan aku, hanya membawa gulungan tasi. Tali pancing yang dililitkan ke bekas kaleng cat.

Kita memang beda, kamu lebih lincah. Berlari, meloncat ke laut dan tiba-tiba muncul di lebbasan, batas antara air dangkal dengan terusan. Di pinggiran batu, tempat biasa aku berdiri melepas kail, dan menunggu ikan memakan umpan.

Sedangkan aku, harus terlebih dahulu menyusuri pantai mencari kalimomah untuk umpan. Setelah urusan umpan beres, aku baru bisa memulai aktivitas mancing, berdiri di pinggir batu lebbasan. Dan, kau dengan pongah telah memamerkan beberapa ekor ikan yang tertembus peluru.

Tak jarang kau iseng, menyelam hilir-mudik di area tempat aku melempar kail. Jika, aku marah, maka tak segan engkau mengarahkan senapan ikan mu ke arahku.

Akhirnya aku diam, tak melawan.

Namun, sebenarnya kau tak jahat. Karena, ketika aku tak dapat ikan, tak berat engkau berbagi. Bahkan, seringkali kau rela memberi ikan lebih besar untuk ku bawa pulang. Alasanmu, agar aku tak dimarah Emak dan besok kita tetap bisa bermain di pantai lagi.

Aku pun senang, mesti tentu tetap kecewa. Karena tak satu pun ikan yang memakan umpan yang ku pasang di ujung kail, karena kau usik.

Minggu sore, jika air laut tak terlalu pasang, biasanya kita akan kembali ke laut untuk mencari nener. Kali ini kau pasti sangat baik, membantuku menarik oter, alat yang terbuat dari daun pisang yang dipintal dan disambung hingga panjang seperti seekor naga. Oter biasa kita tarik melingkar, hingga lingkar terkecil untuk mengurung nener, kemudian kita serok menggunakan sasaok, serokan yang terbuat dari bekas kain sarung yang diikatkan ke kayu berbentuk seperti layar kecil.   

Setelah aku selesai, kau biasanya meminjam sasaok ku. Itulah alasan, kenapa kau begitu baik, karena kau tak punya sasaok.

Kita sangat bahagia, jika nener yang berhasil kita dapat lumayan banyak. Karena itu artinya, kita bisa beli baju baru atau buku tulis baru.

Kita biasanya mengumpulkan nener-nener itu berhari-hari, hingga tiba waktunya pabulecco datang, menawar nener-nener kita dan membarternya dengan buku, pensil atau baju baru. Baju baru yang dengan hati gembira kita simpan baik-baik di lemari, hingga tiba hari raya.

Laut memang telah memberi kita banyak hal.

Masa kanak-kanak yang menyenangkan. Asin airnya yang kadang kering di badan, melahirkan garis putih berbentuk gambar-gambar pulau seperti di peta. Selepas mancing atau nyanyaok, menangkap nener, jika ngerri bagal, air laut surut hingga ke lebbasan, maka kita seringkali tak langsung pulang, biasanya kita akan nebbe, mencari kerang, kekedde atau kekempan.

Laut adalah arena kita bermain sekaligus kekayaan yang bisa kita tukar dengan segala hal yang orang kota bisa dapatkan dengan uang hasil meminta orang tua.

Namun ...

Kini, setelah 30 tahun berlalu. Semua telah terasa sulit.

Bukan, karena kita tak pandai lagi berenang dan menyelam, bukan pula tak lagi mahir melempar kail di lebbasan. Bukan karena daun pisang telah habis untuk membuat oter, dan sisa kain sarung tak diberi emak lagi.

Ikan di pinggir pantai kita, di batu lebbasan telah tiada. Mungkinkah ikan-ikan itu juga pergi merantau jauh, seperti kita anak-anak pulau?

Lalu, kemana nener-nener yang ada di sekeliling pulau kita, di setiap pinggir pantai kita. Padahal, kala musimnya tiba, nyaris tak ada lagi orang-orang pulau berdiam di rumah, semua turun ke laut.

Anak-anak dan remaja sekarang barangkali tak pernah tahu lagi bagaimana bentuknya, bahkan jangan-jangan mereka tak tahu apa itu oter?

Lantas, bagaimana kau akan bercerita pada anak dan cucu mu tentang nener dan otter? Bagaimana kau bisa menceritakan sembari mencontohkan keasyikan menembak ikan dan nyanyaok, saat ikan dan nener itu benar-benar telah tiada?

Ah, seonggok kenangan laut kita!

Minggu, 07.25
Metro, 21/1/2018




Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.