Skip to main content

"Cis", Begitu Kodenya

Korupsi: "Cis", Begitu Kodenya

Operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Lampung Tengah dua hari berturut-turut, Rabu dan Kamis, (14-15/2/2018), bagi saya, sebenarnya bukanlah hal mengagetkan dan tak istimewa-istimewa banget. Model 'uang persetujuan' untuk anggota dewan sudah lama menjadi rahasia publik, nyaris terjadi di hampir setiap moment persetujuan legislatif, di hampir semua kabupaten/kota. Setiap ketuk palu sidang itu selalu ada gemerincing bunyi, cis. Saking seringnya, hampir-hampir saja setiap ketukan palu dewan itu (andai palunya bisa bicara),  tak lagi berbunyi tok tok tok, tetapi cis, cis, cis, cas eh sah.

Untuk itu saya lebih tertarik membahas istilah cis sebagai kode dan sandi bagi para pelaku rasywah ini.

Jika dalam beberapa episode kejadian korupsi di negeri ini, kita sangat akrab dengan beberapa istilah seperti Apel Malang, Apel Washington, atau Salak Bali dalam kasus korupsi Hambalang, Pustun dan Jawa Syarkiah dalam kasus Ahmad Fathanah, atau istilah liqo' dan juz dalam kasus Yudi Widiana tahun 2015, kini muncul istilah ciss dalam peristiwa OTT KPK di Lampung.

Ada banyak istilah, meski tak lebih populer dari istilah-istilah di atas, undangan, pengajian, paket, dua meter, dan beberapa istilah lain, yang menunjukkan betapa 'kreatif'nya para koruptor itu menggunakan kode atau sandi.

Cis adalah istilah yang sangat familiar bagi warga Lampung. Tak asing kita mendengar kata, ”ada cis-nya enggak?" Cis, dalam bahasa pergaulan warga Lampung sering dirujuk pada uang. Biasanya, untuk menunjuk uang pelicin atau uang sogokan.

Dalam kasus OTT di Lampung Tengah, kata cis ini pun digunakan. “Untuk mendapatkan pinjaman, dibutuhkan surat pernyataan yang disetujui atau ditandatangani bersama dengan DPRD Lampung Tengah. Sebagai persyaratan MoU dengan PT SMI. Untuk memberikan persetujuan diduga terdapat permintaan cis  sebesar Rp 1 miliar," jelas Wakil Ketua KPK, Loade M. Syarif di Gedung KPK, Kamis, 15 Februari 2018.

Cis tiba-tiba menjadi trending, padahal sebelumnya 'kita' memang dekat dengan istilah itu, sangat dekat malah, saking dekatnya sebagian kita permisif dengan praktik-praktik cis dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip salah satu ungkapan Ranggawarsita, “Amenangi zaman edan; Ewuh aya ing pambudi; Melu edan ora tahan; Yen tan melu anglakoni; Boya keduman milik; Kaliren wekasanipun; Ndilalang kersaning Allah; Begja begjaning kang lali; Luwih begja kang eling lan waspada."

Cis pilkada adalah salah satu yang sering dianggap lumrah itu, barangkali karena ikut rumusan, Ranggawarsita di atas,  - Menyaksikan zaman edan; Tidaklah mudah untuk dimengerti; Ikut edan tidak sampai hati; Bila tidak ikut, tidak kebagian - bahkan sebagian orang malah menganggapnya sedekah, sebuah anggapan yang sangat gegabah dan sesat karena dengan berani mengaitkannya dengan bahasa-bahasa teologis.

Cis dalam konteks pelaksanaan proses politik atau rekrutmen jabatan politik seperti pilkada, diberikan dengan tujuan yang diberi mau memilih yang memberi, sedangkan sedekah dalan konsepsi iman, diberikan sebagai bantuan atau santunan kepada orang yang lemah atau lebih karena kewajiban teologis dari Tuhan, untuk itu ia tak boleh berharap balasan selain dari balasan dari Tuhan.

Cis, sebagai suap atau sogok haruslah dipandang ilegal dan haram, untuk itu harus dijauhi. Apapun bentuknya, dan berapa pun nominalnya, berupa gula, sabun, minyak tanah atau uang tunai.

Prinsip dalam memperjuangkan kebenaran dan kebaikan adalah meraih sarana untuk melakukan kebenaran dan kebaikan haruslah dengan niat, cara, dan tujuan yang benar dan baik. Tidak mungkin kebenaran dan kebaikan diraih dan diperjuangkan dengan melalui cara-cara yang bertentangan dengan kriteria kebenaran dan kebaikan itu sendiri.

Jika kita telah memiliki prinsip menolak dan melawan cis termasuk dalam konteks politik uang dalam pilkada nanti, maka sepertinya barulah memiliki legitimasi moral yang kuat untuk berkata "tidak, untuk korupsi!", tetapi jika kita masih senang, maka rasa-rasanya, setali tiga uanglah perilaku dengan cis yang hari ini ramai kita bincang di media sosial.

Selain istilah cis, istilah angpao juga sepertinya populer. Selamat Hari Raya Imlek.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.