Skip to main content

Menikmati Menu 4 Sehat 5 Puisi Studio Djajan Metro

4 Sehat 5 Puisi Studio Djajan Metro

Tak terlalu sulit menemukan lokasi Studio Djajan Metro (SDM), berada di Jl. Satelit, tepat di jalan belakang PB Swayalan Kota Metro, cafe yang dulunya pernah buka di Jl. Ahmad Yani, Simpang Kampus, Kota Metro ini, meneruskan mimpinya yang sempat buyar karena berpindah tempat, menjadikan tempat nongkrong sekaligus tempat baca dan kegiatan budaya. Selain menyediakan menu ringan, SDM juga menyediakan Studio Pustaka, tempat yang dirancang khusus untuk menyimpan buku-buku bacaan, dan sebuah garasi yang disulap sebagai ruang diskusi.

Tak hanya tempat yang mendukung kegiatan budaya dan literasi, SDM juga rutin menggelar acara-acara kesenian, seperti akuistik, musikalisasi puisi dan diskusi. Seperti hari ini (Jumat, 23/2/2018), selepas asar aku menghadiri undangan kawan-kawan pegiat seni, puisi dan teater untuk hadir di acara diskusi dilanjutkan dengan pertunjukan puisi malam harinya.

Berbincang  sembari menikmati kopi dan batangan rokok, memang menjadi kenikmatan tersendiri bagiku, apalagi ditemani oleh pegiat-pegiat seni yang terdiri dari mahasiswa dan para pelajar. Datang dari berbagai kampus dan sekolah yang ada di Kota Metro, bahkan ada yang jauh-jauh dari Bandar Lampung.

Di halaman Studio Djajan Metro, berjejer mobil dan puluhan motor. Andika Gundoel Septian, si pengundang aku hadir di acara tersebut segera mengajakku bersama peserta yang lain, duduk melingkar di atas tikar yang telah disediakan. Tak lama diskusipun dimulai, suasana berlangsung santai seperti ngobrol. "Diskusi Sosial Kota", tema yang sempat ku baca. Entahlah, aku tak terlalu mengerti maksudnya.

Untunglah Gundoel membantu menjelaskannya. "Kita ingin, realitas sosial di sekitar kita, realitas yang terjadi di kota kita, bisa juga kita tulis menjadi puisi yang indah," begitu kira-kira memberi pengantar diskusi itu.

Semua orang yang hadir menunjukkan antusiasmenya, bicara tentang cinta mereka atas Kota Metro, tentu juga soal keresahan.

Diskusi akhirnya terhenti dan ditutup, begitu adzan magrib berkumandang.

Acara dilanjutkan kembali selepas isya', kali ini acaranya adalah pembacaan puisi dari seniman Kosa Kata yang lumayan tersohor dengan musikalisasi puisinya. Meski dijeda cukup lama, dan beberapa peserta ada yang pulang, antusiasme terhadap acara tersebut tetap terlihat dari jumlah peserta yang bertahan hingga malam.

Aku datang agak telat, acara sepertinya telah berlangsung seperempat perjalanan. Aku segera mengambil tempat duduk yang bisa membuatku nyaman menyaksikan pagelaran seni, yang aku yakin pasti keren dan menarik itu.

Di depanku, di sebuah panggung kecil, telah ada 4 orang. Dua orang berdiri satu laki-laki dan satu perempuan, dan dua orang sisanya adalah laki-laki yang duduk di kursi, satunya memegang gitar dan seorang lagi memegang sebatang seruling.

Aku bilang kepada cinta//Marilah kuajak kau pergi ke utara//Bertemu dengan banyak mahasiswa//Ia menjawab tak mau aku//Sebab mereka memandangku//Hanya sebagai pentil dan susu//

Suara perempuan dari panggung itu membuatku kaget dan terdiam, ternyata acara pembacaan puisi sedang berjalan, padahal aku masih sempat mengajak guyon beberapa orang yang hadir. "Asu!" Pekikku dalam hati, kenapa juga pentil dan susu itu membuat tenggorakanku tersedak.

Untuk mengelabui beberapa mata yang memandangiku, aku pura-pura mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, selanjutnya aku ambil handphone untuk merekam pertunjukan di depanku. Suasana batinku kembali normal, tak salah tingkah.

Aku bilang jangan meremehkan//Mereka itu anak-anak pilihan//Di baju mereka tertulis: kaum cendekiawan//Ia membantah: jangan membesar-besarkan//Di kampus tak ada literatur kasih sayang//Mereka hanya diajari kekuasaan.

Suara Gundoel menyahuti bait pertama yang membuatku tersedak tadi. Di pertengahan pertunjukan, perempuan yang membaca puisi bersama Gundoel dan merangkap jadi pembawa acara tersebut, akhirnya ku tahu bernama Uul dari Kosa Kata.

Aku menikmati puisi Aku Bilang Kepada Cinta karya Emha Ainun Najib tersebut hingga bait terakhir. Selanjutnya secara bergantian, para seniman maju ke depan membacakan puisi-puisi yang keren. Ada Galih, Amin Paijo, Afriyan, Lady dan beberapa nama lain yang tak sempat ku ingat dan catat. Acara pun akhirnya usai, sekitar pukul 10 malam lebih.

"Om dan tante semua keren," ujar Muhammad Anugerah Utama, penulis novel Obladi Maria Diabla, ketika diberikan kesempatan maju ke depan, berbagi pengalamannya.

Semua pengunjung pun sepakat, bahwa acara Tajuk Kembang Kol, 4 Sehat 5 Puisi tersebut memang keren, dan berharap rutin acara serupa diadakan sebulan sekali.

Bagi yang tidak sempat hadir, sedikit cuplikan puisi dari sekian banyak puisi yang keren itu, bisa menikmatinya lewat link di bawah ini, walaupun hanya semenit.




Comments

  1. Wow... Bravo! Begini kok dibilang jelek. Sukak... Makasih Apresiasinya Bang. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Usnul Uul.. Senang banget dikunjungin penulis dan pembaca puisi yang keren... Kapan lagi baca puisi di Metro..???

      Delete
  2. Segera bergabung dan bermain dengan kami hanya di Saranapelangi dengan kartu yang baik untuk kemenangan anda setiap harinya.

    Saranapelangi Menyediakan :
    *8 Games 1 User ID (New Games *Bandar66*)
    *Bonus Turnover 0.5% Dibagikan Setiap Harinya
    *Bonus Referral 20% Seumur Hidup
    *Minimal Deposit & Withdraw : 20.000

    Info Lebih Lanjut :
    - Website : saranapelangi<.dot>link
    - BBM : 2B47BB9C
    - Line : csnini
    - CALL (Whatsapp) : +85581508599

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum