Skip to main content

"Ngangkring": Dari Curhat Tukang Parkir Hingga Curhat Arafah

Arafah Rianti, Stand Up Comedy, Omah1001

Minggu (11/2/2018) matahari bersinar cukup terik. Puluhan orang terlihat berjejer tak beraturan di halaman Wisma Haji Al Khairiyah Kota Metro. Ada yang duduk-duduk, ada yang berdiri, ada pula yang mondar-mandir seperti orang bingung mencari kawannya yang hilang.

Saya yang hari itu datang sendirian, juga bingung, tapi tak ikut mondar-mandir, saya segera memutar balik sepeda motor dan segera mencari rokok untuk stok, berhubung yang di kantong hanya tersisa beberapa batang.

"Acara apa dek," tanya Ibu pemilik warung rokok yang lokasinya tak jauh dari Wisma Haji.

"Acara stand up, Bu."

"O, seperti yang di tivi-tivi itu ya?"

Aku segera berlalu, ingin sebenarnya ku sampaikan ke Ibu warung itu, bahwa dua dari beberapa komika pengisi acara tersebut, memang yang sering nongol di tivi yang ia maksud, namun ku urungkan niat itu, khawatir ia nekad nonton dan warungnya ditutup.

Anak-anak muda Kota Metro memang seperti tak pernah jeda untuk beraktifitas. Ada banyak event, baik yang rutin maupun event besar yang diagendakan bulanan atau tahunan. Band lokal, seni drama, tari, musik, teater, lukis, hingga kegiatan-kegiatan out dor seperti BMX, Skate, dan sejenisnya, hampir tiap minggu digelar.

Kegiatan anak-anak muda tersebut, tentu saja tidak bisa dianggap semata sebagai kesenangan dan hiburan untuk mereka saja. Anak-anak muda ini telah berkarya memperkenalkan kotanya kepada khalayak luar, bahkan setiap event yang digelar, berdampak juga bagi warung sekitar lokasi event digelar dan pengusaha kecil yang pandai memanfaatkan moment keramaian.

Event kali ini yang berhasil memberikan keuntungan ganda tersebut adalah acara Ngangkring alias Ngakak, Ngakrab dan Sharing yang digelar oleh Stand Up Comedy Metro, pada Ahad (11/2/2018) di Wisma Haji Al Khairiyah Kota Metro, baik dalam rangka mempromosikan Kota Metro pada warga luar, berdampak pula bagi pengusaha kecil seperti warung dan pedagang kecil keliling, termasuk memberi keuntungan bagi tukang parkir.

Siang itu, tak terhitung jumlah kendaraan roda dua dan roda empat yang memenuhi tempat parkir Wisma Haji Al Khairiyah, hingga beberapa mobil terpaksa diparkir di luar pagar Wisma Haji, menggunakan bahu jalan.

Para penonton yang berdatangan dari berbagai daerah di Lampung tersebut memadati halaman, sebagian lagi ada yang telah masuk ruangan dan sebagian lagi antri di tangga pintu masuk. Penonton yang bejubel itu, bukan hanya datang dari daerah-daerah yang ada di sekitar Kota Metro, seperti Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Tengah dan Lampung Timur, mereka ada yang mengaku sengaja datang dari Lampung Selatan, Lampung Utara dan Lampung Barat.

Tak hanya datang sendirian, ada yang sengaja diantar oleh orang tuanya dari Kotabumi, Lampung Utara.

Acara yang menghadirkan Ate, nominasi 6 besar Stand Up Comedy Akademi (SUCA) 3 dan Arafah, juara kedua SUCA 2 itu, disambut bahagia oleh para pedagang kecil, seperti pedagang es dawet dan shiomay yang berjualan di pelataran halaman wisma haji, termasuk wajah sumringah para tukang parkir yang juga ketiban berkah.

Duduk berderet sembari menunggu kawan, saya menguping pembicaraan para tukang parkir yang sedang senang tersebut.

"Kalau setiap hari ada acara seperti ini selama enam bulan, bisa berangkat umrah gua," seloroh salah seorang dari mereka.

Iseng bertanya berapa pendapatan mereka hari itu, kompak mereka tak mau menjawab. Hanya sebaris senyuman yang seolah dibuat seragam dari ketiga juru parkir itu yang ku dapat.

"Banyak yang ngaku panitia, Bang," ujar mereka hampir bersamaan.

Lain cerita kebahagiaan para juru parkir, lain pula kebahagiaan para penonton di ruang atas. Hampir sepanjang pertunjukan Stand Up yang menampilkan 5 komika lokal, Ridho, Sigit, Aryo, Richard dan Gusti serta komika alumni SUCA, Ate dan Arafah, suara tawa dan tepuh tangan seakaan tak pernah jeda.

Penonton terlihat sangat bahagia dan puas, ditambah lagi secara kreatif pihak penyelenggara menyediakan banyak game dan doorprize dari pihak sponsor. Sehingga suasana benar-benar cair, akrab, pecah dan menghibur.

Seusai break untuk menunaikan salat Ashar, suasana semakin pecah dan bergemuruh, ketika pembawa acara menyebut nama Ate dan Arafah akan segera tampil. Para penonton bertepuk tangan sambil berdiri.

Arafah tampil sebagai komika pamungkas, selain menyajikan materi yang mengundang gelak tawa penonton yang tak henti-henti.

"Menurut saya, perempuan yang baik itu adalah perempuan yang menutup auratnya," Arafah sengaja membuat jeda. Penonton terdiam seperti menunggu apa kelanjutan dari pernyataan Arafah yang seperti terpotong itu. "Dan, perempuan yang jahat itu adalah perempuan yang membuka aib orang lain." Suara tepuk tangan pun akhirnya pecah.

Penonton kembali dibuat penasaran, ketika Arafah menyampaikan bahwa ia mengidamkan pendamping hidupnya adalah seorang yang memiliki beberapa syarat.

"Pertama, ..." Arafah kembali sengaja tidak melanjutkan.

Penonton pun hening, sembari beberapa cowok berbisik ke teman di sampingnya. "Pasti, gua banget tuh kreteria cowok idaman Arafah,"ujarnya sembari menunggu apa syarat yang akan diajukan Arafah.

"Pertama, manusia... tentu saja harus manusia," kata Arafah.

"Tuh, kan! Gua banget itu, gua manusia sedangkan elo ikan lele!" penuh percaya diri cowok tadi memonyongkan bibir ke arah temannya, sambil terkekeh senang.

"Kedua, dia tahfidz, hafal Qur'an," suara Arafah dari atas panggung Stand Up.

"Mampus loh, Monyong, ngaji aja elo enggak lancar!" Kali ini kawan cowok tadi yang bersuara.

"Ini mah Arafah curhat. Mana ada di sini yang hafal Qur'an." Kata beberapa penonton laki-laki yang barangkali berharap syarat-syarat yang disampaikan Arafah sesuai dengan diri mereka. Beberapa penonton memang tampak terlihat baper melihat penampilan Arafah, terlebih saat dia menyampaikan kreteria lelaki idaman yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Selain, menyampaikan materi stand up, Arafah juga sempat menyampaikan kesannya tentang Kota Metro. "Orangnya ramah dan baik-baik," ujar Arafah dengan gayanya yang lugu.

Demikianlah, keseruan dari siang hingga sore di Wisma Haji Al Khairiyah hari itu, para penonton yang berasal dari beragam latar belakang, membaur dalam suasana riang gembira bahkan hingga tukang parkir dan para pedagang kecilpun turut bahagia. Semua berharap, semakin seringnya anak-anak muda Kota Metro menggelar acara, semakin bahagialah warga kota.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.