Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Kehormatan Palsu, Diburu dan Didaku

Di suatu siang,  ketika hendak menjemput anak, di pelataran parkir sekolah, saya bertemu kawan lama yang juga sedang menunggui anaknya, lama tak bertemu, menjadikan kamu saling mengingat dan mengenangkan  aktivitas selama masa kuliah dulu.  Kawanku ini tak banyak berubah, relegius dan ahli dakwah, setidaknya begitu aku memahami dari pendapat dan caranya menilai masalah di sekitarnya, yang merasa prihatin dengan kondisi sekitar yang sekali lagi menurutnya semakin jauh dari jalan kebenaran, sehingga perlu dibenahi. Tak terasa obrolan singkat tersebut akhirnya harus diakhiri, karena anak-anak kami sudah keluar, dan aku juga masih harus menjemput putra pertamaku yang sekolah di tempat lain. Namun, sebelum berpisah kawanku ini berpesan agar aku memotong rambutku, yang memang sudah terlihat panjang, sembari ia memberi alasan agar terlihat lebih santun dan terhormat, tidak seperti preman. Di tempat lain, seorang kawan lain yang merasa telah berhasil dan sukses, menuliskan kata

Aroma Karsa, Antara Obsesi dan Keserakahan

"Gila! Entah seliar apa imajinasi Dee Lestari, masalah 'bau' saja, bisa jadi novel sekeren ini!" Begitu yang terlintas di benakku, sesaat ketika aku menuntaskan membaca Aroma Karsa , novel terbaru karya Dee Lestari setebal 696 halaman ini. Konon, membaui adalah aktivitas indera penciuman pertama manusia. Aroma bisa melemparkan orang dengan kuat pada sebuah kenangan tentang seseorang, membuat terdiam dan hening beberapa saat, berhasil menyusun kepingan-kepingan tentang masa lalu, tanpa bisa memverbalkannya, walaupun begitu membaui adalah hal yang paling sulit diungkap secara verbal dan kebahasaan. Kesulitan menarasikan bau secara panjang lebar itulah, yang menjadi 'kegilaan' Dee Lestari dalam novel ini. Bak peracik parfum yang handal, seperti tokoh Jati Wesi dan Suma dalam novel Aroma Karsa ini, Dee Lestari sangat pialang meracik beragam unsur, mulai dari bau sampah di TPA Bantar Gebang, perusahaan parfum, petualangan di Gunung Lawu, serp

Wajah Kota dan Optimisme Perubahan (Bagian 2/2)

Tak dapat dicegah, Kota Metro terus berkembang dan semakin padat. L ahan perkotaan semakin sempit dan tidak proporsional dengan laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi . Kota Metro dikhawatirkan menjadi tersegmentasi baik secara fisik maupun sosial. Padahal, proses segmentasi masyarakat perkotaan inilah yang disinyalir para ahli sosial sebagai ancaman terjadinya berbagai konflik di masyarakat. Makin terpecah-pecahnya ruang fisik dan ruang sosial mengakibatkan hilangnya trust (kepercayaan), network (jaringan) atau hubungan sosial, dan local wisdom (kearifan lokal) yang ada di masyarakat. Namun, hadirnya beragam ruang publik di Kota Metro seperti taman, lapangan hingga cafe dan warung tempat nongkrong bisa mencegah warga kota dari segmentasi yang mengarah pada sikap individualistik, bergerak ke arah saling tidak mengenal yang pada akhirnya akan kehilangan identitasnya sebagai makhluk sosial, yang seharusnya saling membutuhkan . Langkah pemerintah melakukan penataan ter

Wajah Kota dan Optimisme Perubahan (Bagian I)

Membincang Kota Metro menarik bukan hanya karena kita bermukim dan menjadi penghuni kota yang sejuk dan bersahabat ini, namun karena Kota Metro memang memiliki kekhasan dan keistimewaan ter sendiri, posisinya yang tepat berada di tengah-tengah Provinsi Lampung dan penghuninya yang sangat heterogen dan nir-konflik, menjadi salah satu alasan kota ini layak mendapat apresiasi. Sisi lain yang layak diungkap tentang Kota Metro adalah keramahan warganya yang jauh dari kesan individualistik warga kota pada umumnya, Kota Metro yang sebenarnya masih relatif berusia sangat muda, sejak memisahkan diri dari Lampung Tengah sebagai kabupaten induknya, tengah bergeliat membangun dan menegaskan diri sebagai Kota Pendidikan , dan para era kekuasaan Paijo (2015-2020) menjadi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga , barangkali maksudnya hendak memadu-padankan antara wisata dan pendidikan, sehingga tercipta wisata yang bernuansa pendidikan . Pemerintah baik yang dulu maupun yang sekarang,  t

Maling dan Kursi Kehormatan

Jangan pernah bermimpi akan ada harakiri di Indonesia bagi mereka yang melakukan kesalahan memalukan seperti korupsi. Alasannya simpel, pertama, harakiri jelas bukan tradisi dan budaya Indonesia, kedua, para pelaku korupsi tersebut jelas tak memiliki malu dan telah mati nuraninya. Hal yang membuat miris, para pelaku korupsi tersebut, meski sudah ditangkap justeru tak sedikit yang bangga dengan berteriak "Allahu akbar!" Barangkali, kesalahan tak sepenuhnya milik para koruptor itu, budaya kita juga turut menjadi pendorong tidak langsung perilaku korup, dengan menempatkan kekayaan, prestise dan gengsi jabatan sebagai sesuatu yang terhormat dan begitu sangat berharga. Saya ingat persis, bagaimana kawan saya gundah karena ditolak calon mertuanya, bukan karena ia tak memiliki pekerjaan, melainkan karena ia bukan pegawai negeri atau aparat negara lainnya. Maka tak mengherankan, jika masih banyak orang yang menghalalkan cara sampai rela menyogok hingga ratus

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Jalan Setapak Kaum Miskin Kota di APBD

Metro sedang bergeliat, bersolek menata wajah kota. Seluruh taman dipercantik, jembatan dicat warna-warni dan dihiasi lampu. Jalan, meski masih banyak yang berlubang telah sukses ditambal-sulam. Tak ketinggalan gedung-gedung kantor juga dirias, ada yang direnovasi, ada pula yang dibongkar pagarnya, kemudian dibangun kembali, salah satunya adalah kantor DPRD Kota Metro. Pagar lama dibongkar diganti dengan pagar baru yang lebih tertutup seperti tembok. Pagar tertutup itu barangkali membantu untuk menutupi aktivitas yang sepi dalam gedung wakil rakyat tersebut, membantu menghalangi pemandangan bahwa jam 11 ke bawah, mobil-mobil dinas masih sedikit yang terparkir di halaman gedung berpendingan nan berisi kursi empuk itu. Isu utama kota seperti lapangan kerja dan kemiskinan warga yang ter manifestasi dalam bentuk kekumuhan kota belum menjadi arus utama kebijakan dari pemerintah daerah . Kelihatannya penanggulangan kemiskinan belum menjadi isu seksi yang menggiurkan , sala