Skip to main content

Distilasi Alkena, Untuk Mereka yang Pandai Mengikhlaskan


Distilasi Alkena, Untuk Mereka yang Pandai Mengikhlaskan

 "Asu!" Umpatku dalam hati, begitu kali pertama membuka halaman-halaman awal novel alay ini. Sumpah, demi semua manusia yang tak menyukai buku, aku sama sekali tak punya niat untuk membaca buku ini hingga selesai. Namun, pilihan-pilihan diksinya yang menyeretku secara paksa menjadi seperti remaja, mengenang hujan dan senja masa-masa usia 17-an, membuatku tak sadar dalam hitungan waktu kurang dari sejam, telah berada di halaman terakhir.

Novel ini sungguh mengingatkanku pada kebiasaan menuliskan surat untuk kawan ketika masih di pesantren dulu, tentang kawan yang sedang kepayang kepada adik kelas. Belasan surat dikirim lewat lipatan buku, atau diselipkan di balik mushaf al Qur'an, namun entah berapa kertas harum bercorak gambar aktor ganteng Jimmy Liem atau Aaron Kwok habis, namun tak pernah digubris sang gadis, alih-alih berbuah manis.

Semakin lama, hanya desir rindu yang melanda. Sampai remuk menelusup relung, hingga perih mengiris rusuk yang berkabung, di sini cerita tentangmu akan tetap utuh untuk bernaung. (hal. 19).

Itu benar-benar kata-kataku yang ku gores dengan segenap keperihan, seolah hendak ikut berduka atas nasib kawan yang cintanya tak kunjung diterima. Meski kala itu, pesimisme tetap saja ku garami dengan optimisme. Tak mengapa, cinta tak berbalas, karena bagiku engkau mau menerima surat ini, telah melebihi kebahagiaanku naik kelas. Kala kau terus melangkah menjauh dariku, tak perlu menengok ke belakang, sisakan saja jejakmu, agar surat-suratku tetap sampai di tujuan.

Maaf, aku hanya sedang membuka kembali memori yang mengalun dan terhentak akan kenangan menahun. Untukmu masa lalu, terimakasih atas lakumu nan anggun.

Meski, kawanku tak sesial kisah cerita penulis di novel ini, karena entah di surat ke berapa puluh, akhirnya jawaban yang ditunggunya tanpa lelah, di satu waktu selepas magrib, datang menyelinap di balik majalah, bersampul merah muda. Surat itu dibacanya berkali-kali hingga pagi. Cintanya diterima, menjelang 3 bulan sebelum kelulusan.

Wira Nagara, penulis novel Distilasi Alkena; Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja adalah komika lulusan SUCI 5, penampilannya memang ngesselin dan bikin gemes sekaligus mellas, hingga tak tega untuk memarahinya, meski berulang-ulang membuat jengkel.

Setelah sukses membuat jumpalitan ingatanku ke masa lalu, mengenang perihnya perjuangan kawan, ternyata tak membuat novel karya Wira ini berhenti. Di bagian Difraksi Kafsaisin, ia mengoyak memori hingga tulang rusukku. Kali ini bahkan bukan hanya kenangan tentang kawan, tetapi dengan cekatan ia menyinyiriku. Mencintai dalam diam.

Rinduku adalah barisan tanpa titik koma. Ia menyadur dalam resah, membuku dalam gelisah, kemudian terbit dalam lantunan doa pasrah, (hal. 63).

Begitulah novel ini, meski menggunakan istilah-istilah kimia rumit yang berhasil dijelaskan, secara piawai penulisnya juga mengaitkan dengan apa yang akrab dengan suasana hati para remaja. Al hasil, novel ini sangat refresentatif untuk mewakili perasaan semua orang. Merekam setiap peristiwa, seakan semua mengalaminya, menjadi tokoh dari setiap cerita yang ada di dalamnya.

Maka, sekali lagi atas nama semua orang yang membenci buku, tak menyukai bacaan dan sedang patah hati, lama menjomblo serta cintanya selalu bertepuk tangan, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, tetapi sebelumnya, jauhkan tali, silet, pisau, obat nyamuk cair dan segala jenis benda keras, serta dilarang membaca di ketinggian. Doaku, setelah membaca buku ini, menjadi titik awal tumbuhnya cinta. Mencintai buku!

Satu-satunya kekurangan novel ini adalah, ia tak layak dibaca oleh usia 30-an ke atas, terkhusus mereka yang tak pernah memiliki masa lalu. Tak punya kenangan berjuang untuk mendapatkan cinta, tak pernah memiliki air mata yang tergenang kala senja. Menikmati pantulan cahaya senja di atas laut, yang kemudian pudar dan berganti gelap.

Sekali lagi, buku ini jelek bagi mereka yang tak pernah punya masa lalu alay, lebih jelek lagi bagi mereka yang tak punya masa depan.

Wira Negara, Omah1001
Ini adalah wajah Wira, si Penulis yang ngesselin itu.

Data Buku :

Judul : Distilasi Alkena; Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja
Penulis : Wira Nagara
Penerbit : Media Kita
Tahun Terbit : 2016
Tebal : 172 Halaman

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum