Skip to main content

Kelas Menulis

Omah1001

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada setiap orang yang pernah mengajarkan saya sehingga bisa menulis, baik soal tertib, syarat dan rukunnya hingga yang hanya sebatas memberi motivasi, menyarankan rajin membaca, mengarahkan agar lebih memperkaya dan memperhalus kata dengan banyak membaca karya sastra, kalian semua adalah guru, orang-orang penting yang tak akan pernah saya lupakan jasanya, dan atas semua jasa itu saya haturkan segenap terimakasih dan do'a semoga ilmu yang pernah diberikan itu terus mengalirkan pahala dan kebajikan yang tiada henti.

Namun, sekali lagi, saya ingin menyampaikan permohonan maaf, karena saya menolak segala tertib, segala teknik dan aturan-aturan baku soal menulis benar, bagus dan baik. Untuk semua kelas menulis yang pernah saya selenggarakan, semua orang selalu diposisikan sebagai guru dan semua bisa menulis. Tugas saya dan kelas menulis, adalah memfasilitasi, menyediakan cambuk, termasuk juga caci maki dan 'alat paksa' agar semua segera menulis dan harus menulis, tanpa dibayang-bayangi 'hantu' teori dengan segala tetek bengek tertibnya.

Kelas menulis adalah kelas yang longgar teori, menyarankan atau memaksa mereka menulis tentang apa saja yang bisa mereka bincangkan, baik yang dilihat, didengar dan dirasa. Menulis fakta maupun imajinasi, curhat pribadi hingga masalah orang lain dengan sejumlah solusi.

Dalam setiap pertemuan kelas menulis, saya selalu mengatakan semua bisa menulis, terutama yang paling aktif menulis status di facebook atau caption di instagram, menulis itu bukan kekhususan untuk seorang dua orang saja, menulis adalah bakat semua manusia yang hanya perlu dilatih, jika menulis di media sosial hanya maksimal empat baris, cukup diperpanjang menjadi empat paragraf.

Saya cukup mewanti-wanti, jangan menulis fitnah! Dan menulislah dengan bahasa yang kamu mengerti dan orang lain juga mengerti. Soal EYD, nanti sajalah! Itu proses, meski pada titik tertentu itu niscaya, terutama ketika kamu menginginkan tulisanmu dimuat di media tertentu, yang memberlakukan segala aturan. Tak perlu rumit juga memikirkan soal kepala, badan dan ekor tulisan, tak perlu juga pening soal judul tulisan. Menulislah dengan nyaman dan menyenangkan, sebagaimana engkau menulis surat cinta ketika lagi birahi (kasmaran).

Menulis itu selayaknya bicara, hanya karena menulis itu engkau yang merekamnya sendiri, maka sesungguhnya menulis itu lebih mudah untuk diedit, dipikirkan dan dikoreksi ulang sebelum dikonsumsi khalayak, tak seperti bicara yang setelah tersembur ia langsung ditangkap, jika ia buruk maka akan lukai hati, diedit barangkali hanya bisa dengan pernyataan, 'maaf, saya salah'.

Barangkali, yang lumayan berat dari kelas menulis adalah kewajiban untuk membaca buku minimal empat judul yang berbeda. Kenapa wajib membaca dan empat buku? Sebenarnya, ini hanyalah soal filosofi sederhana dari meja yang umumnya memiliki empat kaki, empat yang membuatnya seimbang dan terlihat kokoh, maka membaca minimal empat buku sesungguhnya adalah membangun kaki yang kokoh untuk sebuah tulisan, sebelum membentang ide, menghadirkan narasi yang layak.

Selain membaca, saya menganjurkan peserta kelas menulis juga untuk rajin berdiskusi, membicang tulisan mereka atau membincang buku yang telah mereka baca.

Jadi, sekali lagi untuk semua guru, izinkanlah saya meminjam semangat, menularkan ilmu yang pernah engkau ajarkan, meski secara serampangan, tak tertib. Hingga, suatu saat, ketika semuanya telah terbiasa menulis, dan telah menetapkan tekadnya secara konsisten untuk terus menulis lazimnya bicara, saya akan meminta tolong kalian semua untuk mengenalkan segara aturan, etik dan tertib menulis itu. Tabik, ngalimpuro.

Kelas menulis telah berjalan dua angkatan, dan kini saatnya untuk membuka angkatan ketiga, semoga tetap ada yang berminat.

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.