Skip to main content

Maling dan Kursi Kehormatan

Maling dan Kursi Kehormatan, Omah1001

Jangan pernah bermimpi akan ada harakiri di Indonesia bagi mereka yang melakukan kesalahan memalukan seperti korupsi. Alasannya simpel, pertama, harakiri jelas bukan tradisi dan budaya Indonesia, kedua, para pelaku korupsi tersebut jelas tak memiliki malu dan telah mati nuraninya.

Hal yang membuat miris, para pelaku korupsi tersebut, meski sudah ditangkap justeru tak sedikit yang bangga dengan berteriak "Allahu akbar!"

Barangkali, kesalahan tak sepenuhnya milik para koruptor itu, budaya kita juga turut menjadi pendorong tidak langsung perilaku korup, dengan menempatkan kekayaan, prestise dan gengsi jabatan sebagai sesuatu yang terhormat dan begitu sangat berharga.

Saya ingat persis, bagaimana kawan saya gundah karena ditolak calon mertuanya, bukan karena ia tak memiliki pekerjaan, melainkan karena ia bukan pegawai negeri atau aparat negara lainnya. Maka tak mengherankan, jika masih banyak orang yang menghalalkan cara sampai rela menyogok hingga ratusan juta rupiah untuk bisa menjadi pegawai negeri. Sekali lagi, bukan semata karena pekerjaannya, tetapi karena gengsinya di tengah masyarakat.

Tak terlalu sulit untuk mengetahui 'kehormatan' itu berlaku dan diperlakukan dalam budaya kita di hampir semua tempat, cukup bagaimana melihat orang-orang kaya dan para pejabat penting, tak peduli apakah ia korup atau rentenir, hadir dalam sebuah pesta, hajatan atau bahkan acara keagamaan, selalu disediakan tempat 'istimewa' atau ditempatkan di barisan terdepan atau barisan utama. Bandingkan, dengan tukang sapu jalan, yang uangnya sedikit tetapi jasanya banyak.

Sanksi sosial yang sering diperbincangkan dalam forum-forum ilmiah hanyalah omong-kosong dan isapan jempol, apalagi saat kita melihat yang mulutnya berbusa-busa membincangkan sanksi sosial itu, masih terlihat membungkuk-bungkuh hormat kepada para pejabat, meski belum ditangkap KPK, telah ada banyak indikator ia korup, dan umumnya diketahui dan diiyakan publik.

Semua bisa diatur dengan uang dan jabatan. Kehormatan, popularitas hingga elektabilitas (keterpilihan), bahkan kebenaran dan harga diri orang pun bisa ditakar dengan uang. Tak ada lagi idealisme pilihan, ketika berhadapan dengan segepok uang dan sekantong sembako ketika musim pemilu. Minyak tanah, beras dan susu begitu sangat menggiurkan.

Tidak berhenti di situ, uang dan jabatan juga tak jarang juga membeli "tumbal" dan "kambing hitam". Para pejabat seringkali tak langsung bersentuhan dengan perilaku korup, seperti 'setoran proyek" atau "transaksi jual beli jabatan" atau berbagai jenis suap lainnya, maka mereka akan menunjuk oknum dan menjadikannya kambing hitam, jika suatu saat tersangkut masalah. Melabelkan oknum pada orang tertentu seolah menjadi alat yang efektif untuk mengaburkan perilaku koruptif yang sebenarnya sistemik, masif dan terstruktur menjadi keteledoran oknum semata.

Memberikan label oknum kepada orang yang telah terpilih menjadi kambing hitam, mampu menjadikan segala masalah dianggap selesai. Kambing hitam dan oknum adalah tumbal yang memang dipersiapkan oleh para pimpinan dan pejabat yang memang sedang merencanakan kejahatan. Kambing hitam dan oknum adalah juru selamat pejabat dan korp, sekaligus bukti dari harga diri yang bisa dibeli, bukti dari kedigdayaan jabatan dan uang.

Entah sudah berapa pimpinan, pejabat dan lembaga negara yang terpelihara “nama baik”nya berkat kambing hitam dan oknum. Namun, tentu saja untuk tak gratis,, mereka dibayar dan diiming-imingi 'sesuatu' sehingga rela memikul tanggung jawab pimpinan, pejabat dan lembaga-lembaga yang bermasalah, menyelematkan kedudukan, dan prestise para penjahat.

Pejabat kita memang belajar untuk tidak bertanggung jawab, melainkan berlatih terus menerus melempar tanggungjawab. Dan kita, sebagai tuan rumah selalu mau berunding dengan maling yang merampok rumah kita. Tak hanya itu, kita selalu menyediakan kursi kehormatan untuk mereka.


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum