Skip to main content

Melawan Rasa Malas



Serajin apapun orang, pastilah pernah merasakan rasa malas. Malas untuk melakukan segala hal, malas untuk beranjak dari tempat tidur, malas untuk mandi. Intinya rasa malas milik dan ada di setiap manusia. Barangkali yang membedakan adalah, ada yang menikmati rasa malasnya hingga berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hingga berbulan dan menahun.

Pernah ada yang mengalami, menumpuk pakaian hingga satu minggu bahkan tak tersisa lagi yang bersih untuk dipakai? Tak mencuci piring sampai piring bersih tak bersisa? Menunda tugas sekolah atau tugas kuliah, hingga tenggat waktu yang tersedia mepet, dan akhirnya dikerjakan dengan sistem kebut semalam. Tak maksimal, atau mengeluh lelah pekerjaan menumpuk?

Ada juga tipikal manusia yang terlalu banyak berdalih untuk tidak melakukan sesuatu, tidak melaksanakan salat misalnya atau tidak mau datang ke masjid, dengan berbagai alasan, padahal sebenarnya alasan utamanya adalah malas. Malas kadangkala sepele, tetapi kadang menjadi ancaman serius, jika dibiasakan terus menerus.

Namun, tatkala kita meletakkan rasa malas sebagai sesuatu yang negatif, menjajah dan harus dilawan, maka pastilah kita menemukan jalan untuk mengusir dan memenangkan, membebaskan diri dan merdeka dari rasa malas.

Buya Hamka pernah mewanti-wanti bahwa salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Banyak pula orang mengatakan, bahwa tak ada orang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanyalah mereka yang malas, malas belajar, malas mencari tahu, malas bertanya, meminjam istilah Einstein, mereka malas memakai otaknya. 

Memaknai sindiran Einstein dan nasihat Buya Hamka tersebut, sudah semestinya kita mengalahkan rasa malas dan mendayagunakan akal secara maksimal. 

Ada banyak tips dan trik mengatasi rasa malas, ditulis oleh banyak orang, bertebaran di media online atau media sosial, cukup ketik kata kunci cara mengatasi rasa malas, maka puluhan ribu laman akan muncul. Begitu dibaca, cara, tips dan trik itu biasa saja, sama seperti yang kita pikirkan sebenarnya. Kita hanya kebetulan malas berpikir, maka tak menemukan cara, tips dan triknya dalam pikiran kita sendiri.

Untuk itu, setiap kali ada yang bertanya bagaimana mengatasi rasa malas, seperti malas untuk membaca dan menulis, saya tak banyak memberikan tips, biarlah yang bertanya itu berpikir sendiri dan memungsikan akalnya secara baik. Jika pun terpaksa, maka saya paling maksimal akan menjawab, membacalah terus atau menulislah terus hingga rasa malas itu pergi.

Tulisan ini sendiri, adalah tulisan yang lahir dari rasa malas yang datang tiba-tiba. Setiap kali membuka layar komputer, tak menunggu lama, sudah ada keinginan untuk menutupnya kembali, membaca buku pun tak semangat.

Sempat melintas pikiran, "ah, ngeblog itu kan tak mesti 'update' tulisan tiap hari! Santai saja dulu!"  dan beberapa pikiran-pikiran lain yang mendorong untuk berbaring, atau hanya sekadar duduk dan bengong saja, hingga akhirnya terpikir kenapa tak menulis rasa malas saja, seperti yang sering saya sarankan kepada warga menulis, bahwa tulislah apa yang saat itu terlintas di pikiran hatta kebuntuan ide sekalipun.

Tulislah kenapa buntu, kenapa tulisan bisa macet, bagaimana agar tak macet, dan seterusnya.

Barangkali tulisan tersebut tak nyambung dengan judul tulisan dan paragraf sebelumnya, tapi setidaknya kita sudah membuat kemacetan menulis menjadi kembali lancar, dan bisa jadi paragraf yang tak nyambung itu malah menjadi tulisan baru yang utuh, menjadi tips dan trik bagi mereka yang juga mengalami hal serupa.

Setiap orang memiliki ekspektasi, tujuan dan hal-hal yang ideal dalam hidupnya, jangan korbankan segala harapan itu sirna hanya karena tunduk pada rasa malas. Kata Chelsea Islan dalam film Merry Riana, "hidup ini seperti mengenderai sepeda, kita akan melaju terus selama kita masih mengayuhnya!" dan untuk menjaga keseimbangan lebih lama, tentulah bukan dengan diam dan malas-malasan!

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum