Skip to main content

Mengapa Menulis Tak Semudah Bicara?


Ayo Menulis, Omah1001

Pertama kali kita duduk di bangku sekolah, kita diajarkan dua hal secara bersamaan. Membaca dan menulis, sisanya adalah berhitung! Membaca seperti halnya bicara adalah hal yang tak mungkin kita tinggalkan, semenitpun. Setiap hari selalu saja ada yang kita bincangkan, setiap menit selalu ada yang kita baca, membaca apa saja, entah nama jalan, nama toko, tulisan di belakang angkot atau truk, membaca running text di TV, berita gosip, berita hoax atau bacaan-bacaan penuh nutrisi yang merangsang perkembangan otak dan menambah pengetahuan.

Menulis pun, sepertinya bukan aktivitas yang asing. Menulis status, menulis pesan pendek, atau sekadar menulis curahan hati. Jika tak setiap hari, tapi rasanya mustahil tak menulis apapun dalam seminggu.

Menulis sama seperti membaca dan bicara, bukanlah bakat tertentu yang hanya dimiliki oleh orang tertentu, menulis bakat yang melekat pada setiap orang. Menulis dan membaca diabadikan dalam narasi suci, Alquran. Membaca sebagai wahyu pertama, pena sebagai simbol kepenulisan terekam dengan istimewa dalam satu surat 'al qalam'.

Untuk itulah saya meyakini dan berusaha membuktikan bahwa menulis itu semudah bicara, saya menulis setiap saat, setiap hari. Soal tulisan tak indah, tak enak dibaca samalah dengan bicara, tak semua cuap-cuap sedap didengar, tak semua kata yang terlontar berkualitas. Jika redaksi tulisan ada yang tak berpola dan bernash, maka narasi lisan pun tak sedikit yang ngawur tak berdalil.

Tradisi bertutur baik lisan maupun tulisan, keduanya sama, perlu diksi yang baik, perlu alur yang runut, perlu logika yang tertib. Dalam tradisi pendidikan Islam, dikenal ilmu manthiq, ada gramatika (nahwu), ada ilmu perubahan kata (sharaf), ada ilmu balaghah, ada istilah fashahatul kalam dan fashahatul kalimat.

Tapi, mengapa menulis tak semudah dan seenak bicara?

Karena kita tak pernah melatih kebiasaan menulis seperti kita membiasakan bicara. Setiap saat kita menyimpan imajinasi dan gurat-gurat kenangan yang indah, merekam apa yang kita lihat dan dengar, menyimpannya secara apik dalam memori, tapi kita tak pernah berusaha menuliskannya. Maka, ia ada sepanjang ingatan, tak seperti tulisan yang mengabadi, melampui usia ingatan dan si empunya ingatan.

Barangkali, alasan yang paling logis mengapa bicara lebih mudah daripada menulis, karena banyak orang berbicara enggak pake mikir. Maksudnya, begitu ia melepas kata dan kalimat, jarang ia pikirkan ulang, tidak seperti tulisan yang setiap alinea, setiap kata perkata, setiap huruf, dieja, dibaca pelan-pelan, dibongkar, diedit, dihapus dan ditulis lagi.

Bahkan, tak jarang orang gagal melanjutkan menulis alinea kedua, ketiga dan seterusnya, karena terlalu fokus dengan alinea pertama yang baru ditulisnya, dibaca, dikoreksi, dibongkar, dihapus, begitu terus menerus, sampai akhirnya ia lupa dan buntuk mau menulis apa di aline berikutnya. Ia melakukan dua tiga pekerjaan sekaligus, menulis, membaca dan mengedit. Ini masalah klasik yang menimpa hampir semua penulis pemula, para penulis paragraf pertama.

Bicara begitu dilepaskan, seolah sudah selesai, ringan seolah tanpa beban. Tak ada kewajiban mereview-nya, meski tak sedikit kata yang terlontar juga menyakiti. Hal yang maksimal dilakukan atas kesalahan bicara adalah minta maaf.

Mestinya, sisi bicara yang tak bisa direview, alih-alih diedit, sehingga seolah ringan tanpa beban itu, mendorong kita untuk lebih bergairah menulis dan menghemat bicara, menjadikan tulisan lebih memiliki peluang dan ruang narasi yang berkualitas, karena tulisan lebih memungkinkan untuk dibaca ulang, dibongkar dan diedit sebelum dipublikasikan.

Dan, jika boleh jujur, bagi saya secara pribadi, menulis dan membaca adalah terapi untuk mengurangi banyak bicara, jika selama ini saya mengeluarkan kata permenit, minimal sebanyak 40 kata, berarti perjam setidaknya ada 2400 kata yang saya hemat, sedangkan waktu yang saya habiskan untuk menulis dan membaca dalam sehari, rata-rata  4 jam. Artinya selama sehari, saya telah menghemat 9600 kata untuk keperluan bacot tak jelas.

Jika dituliskan, 9600 kata itu setara dengan 15-20 halaman.

Jadi, mengapa menulis tak semudah bicara? Karena tak semua orang seperti apa yang mereka katakan dan inginkan. Semua suka kejujuran, tetapi betapa banyak orang yang suka berbohong. Semua orang ingin dan suka bicara kualitas, tetapi betapa banyak yang memilih jalan pintas.

Bicara tentu lebih mudah daripada menulis, tetapi menulis yang lahir dari proses berpikir, telaah ulang dan editing, tentu mutunya juga tak sebanding dengan bicara yang 'mudah' itu.

Namun, tentu tak semua bicara juga mudah dan tak mutu, ada bicara sebagai bagian dari narasi literasi, dialektis, bicara yang logis dan argumentatif, bernas.

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.