Skip to main content

Satu Semester "Ngeblog"

Omah1001, Satu Semester "Ngeblog"

Omah1001.net, blog ini telah genap berusia satu semester. Tepatnya tanggal 26 Agustus 2017 adalah tanggal pertama kali saya posting tulisan di blog ini,  dengan tulisan Obat Kuat, Proses dan Kenikmatan. Sebenarnya, tulisan tersebut bukan tulisan yang benar-benar baru, sebelumnya aku pernah menulis artikel yang hampir secara keseluruhan isinya sama di Kompasiana.

Tahun 2004 hingga 2007 sebenarnya aku pernah juga ngeblog, menuliskan kembali beberapa tulisan yang pernah dikirim ke media massa, baik yang dimuat maupun tak dimuat, bedanya jika dulu saya hanya posting dan tak pernah berusaha belajar serius untuk menata tampilan blog, bahkan untuk memotong tulisan agar tak tampil semua di halaman utama blog, saya pun tak paham.

Maka, kali ini selain belajar ke guru google dan youtube, saya juga banyak bertanya ke Bang Budi Hutasuhut dan Afriyan Arya Saputra. Keduanyalah yang banyak berkontribusi atas tampilan blogku hingga bisa eksis seperti saat ini. Tak hanya tampilan, mulai domain, hosting hingga kode-kode html yang rumit itu pun, mereka berdualah yang mengajarkannya. meski masih sangat sedikit yang ku mengerti.

Oh ya, meski ngeblog ini adalah hobi baru, bulan-bulan pertama begitu sangat mengasyikkan untuk gonta-ganti template, bahkan tak pernah terduga beberapa kawan meminta bantuan untuk dibuatkan atau diajarkan juga ngeblog, tiga diantaranya malah rela membayar. Maka, jadilah ngeblog ini sebagai profesi sampingan baru.

Sebenarnya, ketertarikan untuk kembali ngeblog karena beberapa alasan. Pertama dan utama adalah karena melihat padatnya aktifitas kawan-kawan komunitas di Kota Metro, termasuk banyaknya sosok anak muda kreatif, terpikir kala itu,  sayang banget jika aktivitas-aktivitas keren mereka itu, tak diabadikan dalam tulisan.

Kedua, sebagai orang yang hobi ngoceh, sesekali ingin juga berubah menjadi pribadi pendiam, salah satu caranya adalah dengan menulis. Istilah kerennya, merubah tradisi lidah menjadi tradisi naskah, tradisi lisan menjadi tulisan. Dan, sukses! Saya berhasil menjadi pribadi pendiam, minimal ketika sedang menulis.

Alasan ketiga adalah memantaskan diri alias tahu diri. Saya sangat sadar, bahwa tak semua tulisan saya, terutama tulisan yang suka-suka selera saya layak dimuat di media orang lain, meskipun pemilik media tersebut adalah Mbah sendiri, apalagi Mbah memang tak memiliki media. Maka, ngeblog-lah satu-satunya jalan untuk melampiaskan hasrat agar tulisan tersebut tetap terpublikasikan, soal publik mau baca atau tidak, saya yakin ada yang baca, buktinya dalam satu semester ini, pengunjung omah1001.net telah mencapai 100 ribu lebih pengunjung, meski ada juga satu orang pengunjung setia yang suka bolak-balik.

Keempat, ini agak lumayan ideal. Ingin menginspirasi dan berbagi bacaan kepada generasi milineal. Jika selama ini alasan mereka, tak punya cukup uang untuk membeli buku, maka mudah-mudahan dengan berbagi buku dalam bentuk file pdf , mereka menjadi memiliki kesempatan untuk membaca, dan pahala pemilik buku-buku tersebut juga mengalir terus-menerus.

Membagi buku-buku pdf tersebut sungguh sangat dilematis, terkesan tak menghargai hak cipta penulisnya, tetapi rata-rata buku pdf yang saya bagi di blog sebenarnya adalah hasil berburu online juga. So, dasarnya memang sudah menjadi milik publik, saya hanya memudahkan teman-teman yang sering mengakses informasi dari akun media sosial yang saya miliki, baik di facebook, twitter atau googleplus.

Kiwari, usia blog saya telah menginjak satu semester. Sedikitnya telah ada 325 postingan, ada hampir 150 file buku pdf yang telah saya bagi, dan 150 lebih tulisan saya. Artinya, hingga saat ini saya masih bisa menulis minimal satu tulisan perhari.

Di usia, satu semester ini, saya mencoba merubah tampilan blog ini lebih personal, friendly dan enak dibaca, meski barangkali tak perlu.

Sekali lagi, di usia 6 bulan blog ini, saya ingin mengutip sebuah pantun seorang anak SD, sebagai menutup tulisan, tak usah takut juga khawatir, ini kentut bukan petir!

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.