Skip to main content

Subali dan Sugriwa


Subali dan Sugriwa, Omah1001

Tersebut dalam sebuah kisah pewayangan, Subali dan Sugriwa. Dua bersaudara yang masa kecilnya selalu ribut. Suatu waktu, mereka memperebutkan “cupu manik astagina”, tak bisa dilerai dan dihentikan, ayahnya kemudian melempar cupu tersebut ke telaga Madirda, Subali dan Sugriwa akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam telaga, dan betapa kagetnya mereka begitu keluar dari telaga, tubuh mereka telah ditumbuhi bulu yang banyak, dan mereka berubah menjadi kera.

Subali dan Sugriwa pun menangis menghadap sang Ayah, berjanji tak lagi akan ribut berebut mainan. Mereka pun dinaseheti, agar belajar mengendalikan diri, di mulai dari mengendalikan fisik, makan dan minum, mengendalikan energi, mental, emosional dan intelegensia. Mereka berdua diperintah Ayahnya untuk bertapa, agar bisa melampui sifat kekeraan, yang serakah, sembrono dan terburu-buru.

Subali dan Sugriwa pun menjalani tapa pertapaan hingga bertahun-tahun, namun sifat mereka tak juga kunjung berubah.

Hingga suatu ketika, mereka mendapat tantangan dari para Dewa untuk membunuh dua raksasa, Lembusura dan Maesasura, yang selama ini menjadi musuh para Dewa. Maka, berangkatlah Subali dan Sugriwa menuju Goa Kiskenda. Setibanya di depan mulut Goa, Subali meminta kepada Sugriwa untuk menunggu di luar, dan berpesan :

Darahku putih, apabila di mulut goa ini mengalir keluar darah merah berarti aku menang, apabila yang mengalir darah putih, berarti aku mati, maka tutuplah goa ini dengan batu besar dari luar, sehingga kedua raksasa itu tidak bisa keluar lagi.”

Lamat-lamat dari dalam Goa terdengar pertempuran sengit, dan tak lama kemudian mengalirlah darah merah bercampur darah putih keluar dari Goa, maka Sugriwa segera menutup Goa, dan melaporkan kejadian tersebut kepada para Dewa, bahwa Lembusura dan Maesura telah mati, tetapi Subali juga ikut terbunuh, karena yang mengalir ke luar dari Goa adalah darah merah bercampur darah putih.

Begitulah kesemberonoan dan ketergesaan Subali menyampaikan pesan kepada Sugriwa, padahal ia tahu bahwa Lembusura dan Maesasura juga punya darah putih yang ada di otaknya. Pun, sama halnya dengan Sugriwa yang tergesa-gesa menutup pintu Goa, padahal sebenarnya yang terbunuh adalah Lembusura dan Maesasura, dan darah putih yang mengalir bersama darah merah tersebut adalah berasal dari otak Lembusura dan Maesasura yang pecah, dan sangat sedikit.

Namun, kesempatan itu seolah memang sedang ditunggu oleh Sugriwa, agar hadiah yang dijanjikan oleh para Dewa tidak jatuh ke tangan Subali. Sugriwa paham bahwa yang mengalahkan raksasa adalah Subali, sehingga yang berhak mendapat hadiah adalah Subali, akan tetapi Sugriwa tetap mau menerima tahta dan hadiah Dewa, dengan alasan Subali telah mati. Maka, Sugriwa kemudian menjadi raja kera dan memerintah istana Kiskenda serta mendapat hadiah Dewi Tara yang cantik sebagai isterinya.

Begitulah Sugriwa menikmati kekuasaan dari perjuangan Subali, sedangkan Subali yang telah berhasil mengalahkan dua raksasa Lembusura dan Maesasura, harus dengan susah payah keluar dari Goa yang tutup rapat oleh Sugriwa, hingga berbulan-bulan lamanya. Dan, betapa kecewanya ia setelah mendengar  Sugriwa sudah menjadi raja dan mendapatkan istri Dewi Tara.

Subali marah, ia pun bermaksud hendak menyerbu Sugriwa, tetapi ia segera mengurungkan niatnya begitu mengingat pesan ayahnya.

“Subali dan Sugriwa, pada suatu saat kalian akan menjadi raja kera. Subali kau akan membantu dunia melenyapkan raksasa musuh Dewa. Hari ini kalian berselisih memperebutkan “cupu” mainan, karena kalian masih anak-anak. Pada suatu saat kau akan berselisih dengan adikmu memperebutkan tahta dan wanita. Manusia tak pernah lepas dari keterikatan. Di waktu anak-anak obyek keterikatan adalah mainan, menjelang dewasa obyek keterikatan adalah lawan jenis. Setelah merasa mandiri, obyek keterikatan adalah harta dan tahta, dan di masa tua obyek keterikatan adalah obat-obatan.”

Subali akhirnya sadar bahwa ada misteri dalam setiap nasib. Mungkin apa yang ia dapatkan juga karena datangnya akibat dari perbuatan dirinya di kehidupan yang lalu. Ia pun akhirnya meluapkan kemarahannya dengan melayani ajakan  Rahwana mengadu ilmu kanuragan, yang belakangan kembali menghasutnya untuk menyerbu Sugriwa setelah Rahwana berpura-pura menjadi murid Subali.

Dalam kehidupan politik dan kekuasaan, peristiwa yang dialami Subali dan Sugriwa juga tak terlalu asing, bahkan acap hadir dalam keseharian kita, ada banyak sosok Sugriwa yang berkeliaran di lingkungan tempat tinggal kita. Ada banyak politisi yang sembrono, tergesa-gesa dan tak memiliki perencanaan, serakah dan tamak duduk di kursi empuk kekuasaan. Mereka mengorbankan dan melupakan perjuangan dan mengabaikan amanah rakyat yang telah memilihnya, bahkan sebagian mereka ada yang mengorbankan saudaranya seperti Sugriwa mengorbankan Subali.

Andai para politisi yang berebut kekuasaan yang dilatarbelakangi keserakahan itu bernasib sama seperti Subali dan Sugrawa, ditumbuhi bulu yang banyak dan berubah menjadi kera?

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum