Skip to main content

Titik Singgah Kota Metro, Kuliner Berkonsep Taman


Taman Kuliner Titik Singgah Kota Metro, omah1001

Awal Januari yang lalu, tepatnya Minggu, 7 Januari 2018, sore hingga malam, ratusan orang berkumpul di satu titik. Titik Singgah, namanya. Wisata kuliner baru yang terletak di kawasan Jalan Ki Hajar Dewantara, 15A Iring Mulyo, Metro Timur. Melihat ratusan motor dan puluhan mobil yang memadati bahu jalan, saya mengurungkan niat untuk mampir.

Namun, dari pamflet yang disebar dan diposting di media sosial, saya mengetahui bahwa hari itu, adalah Grand Opening Titik Singgah, kuliner berkonsep Pujasera atau Pusat Jajanan Serba Ada. Acara Grand Opening tersebut dimeriahkan oleh band-band lokal dan beberapa hiburan lainnya.

Sesuai konsepnya, tersedia banyak outlet makanan (tenant), ada Angkringan Samber, Siomay Kota Intan, Nasi Bakar Mang Sahu, Juragan Dimsum, Bakso Malang Cak Mansur, Tea Thailand Sut Sut, Djoeragan's Juice, Seblak Nyinyir, Dr. Food, Ayam Geprek Jawa, Pempek Kikiki dan beberapa tenant lain.

Kehadiran Titik Singgah di Kota Metro semakin mengukuhkan Kota Metro sebagai pusat kuliner di Lampung. Terletak di kawasan cukup strategis, pusat sekolah dan  beberapa perguruan tinggi, benar-benar menjadikan keberadaan Titik Singgah sebagai tempat pavorit anak-anak muda, belum lagi harganya yang relatif murah dan terjangkau oleh kantong mahasiswa dan anak kos.

“Kami sengaja menggunakan konsep yang terbuka, semi-outdoor garden, melibatkan banyak usaha kuliner, sehingga lebih beragam,”  kata Sandy Aziz, Manajemen CV Baskara Karya sebagaimana dirilis Lampung Post, beberapa waktu lalu.

Taman Kuliner, begitu pemilik Titik Singgah ini menyebutnya, sudah mulai beroperasi sejak soft opening pada Sabtu (23/12/2017), memang sengaja membuat konsep terbuka untuk memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi pengunjung. 

Tempat nongkrong yang cukup luas, dibangun di atas ruang terbuka seluas 1.500 m2, penuh udara segar, dan tanaman yang didesain layaknya taman/kebun serta parkiran yang memadai membuat Taman Kuliner Titik Singgah ini menjadi tempat berkumpul yang cukup menyenangkan.

Saya sendiri, baru bisa berkunjung setelah sekian bulan paska-launching, itupun karena penasaran melihat suasana asyik dan nyaman yang tampak dari luar. Sajian musik dengan lagu-lagu dinamis berbagai genre dan lampu warna-warni yang ditata menarik di atas tempat duduk dan beberapa pojokan membuat suasana Taman Kuliner Titik Singgah ini pada malam hari sangat hidup.

Selain itu, Taman Kuliner Titik Singgah secara rutin juga menggelar pertunjukan musik dengan melibatkan talent--talent local dan acara nonton bola bareng.

Usaha kuliner di Kota Metro memang terus tumbuh dan menggeliat, hal ini menunjukkan trend positif bahwa peluang bisnis di kota ini masih sangat terbuka luas. Masyarakat Metro yang dikenal ramah dan sangat terbuka dengan kemajuan, ikut mendorong setiap peluang usaha dan bisnis.

Berada konsep dan kreatifitas, usaha kulinet di kota ini terus menjamur. Nyaris setiap bulan, tumbuh dan hadir tempat nongkrong baru di Kota Metro. Salah satu yang mengawali tahun 2018 ini adalah Titik Singgah, melibatkan banyak pengusaha kuliner yang ada di Kota Metro dengan tidak perlu membayar terlebih dulu, mereka cukup mendapatkan potongan dari pendapatan bulanan.

"Itu sebabnya, para konsumen tidak membayar kepada mereka, tetapi ke kasir Pujasera. Sistemnya satu pintu," jelas Azis, pengelola Titik Singgah ini.

Titik Singgah memang berhasil menghadirkan suasana baru yang berbeda dengan suasana cafe yang selama ini telah lebih awal ada di Kota Metro. Meski Titik singgah masih tergolong baru, saya mengamati orang terus berdatangan datang setiap hari, terutama di akhir pekan.

Sumber Foto : Lampung Post

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.