Widget HTML Atas

Haji Dalam Dimensi Sosial


Haji Dalam Dimensi Sosial


Haji sebagai ibadah individual, keberhasilannya sangat ditentukan oleh kualitas pribadi tiap-tia pumat Islam dalam memahami aturan dan ketentuan dalam melaksanakan ibadah haji. Yang tidak kalah pentingnya dari ibadah haji adalah makna sosial, yaitu bagaimana para jamaah haji memiliki pengetahuan, pemahaman mengaplikasikan pesan-pesan ajaran yang  ada dalam pelaksanaan ibadah haji ke dalam konteks kehidupan masyarakat.

Syarat dan rukun dalam ibadah haji tidak semata-mata hanya untuk kepentingan transendental (antara manusia dengan Allah) tetapi justru yang paling penting adalah dijadikan pelajaran para pelakunya untuk membentuk kepribadian atau moralitas pergaulan antara sesama manusia. Dengan demikian, memahami dan menemukan makna sosial dalam ibadah haji menjadi suatu keniscayaan bagi setiap umat Islam umumnya dan para jamaah haji kususnya.

Substansi Ibadah Haji

"Kami sambutseruan-Mu yaAllah, kami datang menunaikan panggilan-Mu ya Allah, kami datang ke-Hadlirat-Mu, ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, yaAllah, segala puji, nikmat dan kekuasaan adalah untuk-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, ya Allah."

Kalimat ini selalu menggema di saat musim haji seperti sekarang ini. Kalimat ini mengandung makna pengakuan, kepasrahan, ketaatan dan kepatuhan dari seorang hamba (makhluk) kepada Sang Pencipta (Kholiq) Yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kepatuhan dan ketaatan, dan pengakuan terhadap keagungan Allah merupakan sarana paling efektif untuk mewujudkan kejujuran, keiklasan yang bisa menghilangkan aneka bentuk kejahatan dan kesombongan manusia dalam menjalankan tugas, peran dan tanggung jawab sehari-hari. Siapa pun yang memiliki pengakuan terhadap keagungan Allah berarti manusia itu memiliki kesiapan untuk bersikap dan berbuat yang sesuai dengan perintah Allah dalam arti tidak akan mau melanggar aturan, etika dan norma yang berlaku.

Ibadah haji tidak cukup dengan ketepatan, rutinitas syarat dan rukunnya. Siapapun yang berniat melaksanakan ibadah haji senantiasa harus memelihara ucapan agar tidak mudah menimbulkan fitnah yang mengakibatkan orang lain tersinggung. "Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan ini akan mengerjakan haji maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197).

Dalam tafsir Al-Maraghi, kata rafats diartikan segala ucapan, sikap dan perilaku yang bisa menimbulkan birahi, tidak senonoh, ketersinggungan, malapetaka bagi orang lain yang mendengar dan melihat. Selama  menjalankan ibadah haji, para jamaah dianjurkan selalu berdzikir (ingat) kepada Allah SWT. (QS. Al-baqarah: 198).

Dzikir tidak hanya sekadar bagaimana manusia melafalkan kalimat "Laa ilahaillallaah", tetapi yang terpenting bagaimana mengimplementasikan makna kalimah dzikir ke dalam kehidupan sehari-hari.

Barang siapa yang menjalankan ibadah haji hendaknya memahami dan mampu mengambil hikmah dari tiga peristiwa masa lalu (sejarah). Peristiwa pertama, pada bulan haji ini, secara serentak umat Islam dianjurkan melaksanakan sholat sunah Idul Adha di lapangan terbuka. Kekompakan itu melambangkan adanya pelajaran bagi umat Islam, baik yang melaksanakan ibadah haji maupun yang belum agar selalu menjalin dan menjaga persatuan dan kesatuan (ukhuwah) di antara sesama manusia.

Predikat haji yang diperoleh bukan untuk sarana kebanggaan atau kesombongan, melainkan sebagai sarana untuk melatih dan membangun kesabaran, penghargaan, penghormatan kepada sesama umat manusia. Peristiwa kedua, pada bulan haji ini semua umat Islam bagi yang mampu melakukan penyembelihan hewan (kurban) serta ada mengalir darah hewan di mana-mana. Hal ini menandakan kesediaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji harus berusaha membunuh atau membuang sifat-sifat kebinatangan (nafsu hewaniah) yang hanya menitikberatkan pada masalah nafsu emosional, keserakahan tanpa mengenal aturan dan etika, berganti menjadi mentalitas manusia yang selalu menjunjung tinggi rasional, perasaan, menghargai dan menjunjung tinggi etika, norma dan aturan yang berlaku baik secara sosial maupun agama.

Peristiwa ketiga, pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci akan dihadiri oleh jutaan manusia di dunia yang berasal dari manca negara dan memiliki budaya, kerakter, warna kulit, keyakinan agama yang sangat berbeda-beda. Mereka semua bisa bersatu padu tanpa memperhatikan dan mempersoalkan asal-usul, warna kulit budaya maupun keyakinan agama. Artinya, siapa pun yang memiliki niat menjalankan ibadah haji harus berusaha menumbuhkan perasaan atau mentalitas pluralistik dalamsegala hal, dengan cara menumbuhkan semangat kebersamaan, toleransi, saling menghormati dan menghargai manusia.

Makna Sosial

Selama ini ibadah haji cenderung lebih dipahami sebagai ibadah ritual daripada ibadah sosial. Artinya, predikat haji bagi seseorang hanya dilihat dari kemampuan berangkat dan datang kembali ke Tanah Air dengan disertai cerita-cerita atau pengalaman religius yang beraneka warna. Padahal, ibadah haji lebih banyak makna sosialnya daripada makna ritual (transendental). Hal ini didasarkan pada substansi Islam adalah agama rahmatan lil'alamiin. (QS. Al-Anbiya:107).

Makna sosial ibadah haji dapat diambil dari serangkain kegiatan yang dilakukan selama ibadah haji berlangsung dan juga dikategorikan sebagai syarat dan rukun ibadah haji. Di antara kegiatan ritual haji yang mengandung makna sosial antara lain: PertamaIhram, mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan, mengkosongkan diri dari mentalitas keduniawiaan, membersihkan diri dari nafsu serakah angkara murka, kesombongan serta kesewenang-wenangan. Umat Islam yang telah memakai pakaian ihram harus berjiwa stabil, tidak dikendalikan nafsu emosional terhadap material (kekayaan/harta). Kalaupunmencari kekayaan/ harta harus selalu memperhatikan, menghormati dan menjunjung tinggi aturan yang ada. Praktek KKN, menumpuk kekayaan sementara oranglain menderita, menimbun barang pada saat orang lain kesulitan mencari harus segera ditinggalkan, kalau umat Islam sudah mengenakan pakaian ihram ditanah suci.

KeduaThowaf, mengandung isyarat keluar dari lingkungan manusia yang buas masuk ke dalam lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati. Sebelum thowaf, jamaah haji terlebih dahulu melontar jumrah sebagai pertanda mengusir setan yang menggoda Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS dan Siti Hajar. Itu artinya, setiap jamaah haji harus selalu berusaha mengusir godaan setan yang bersarang dalam dirinya.

Ketiga, Sa'i, mengandung isyarat kesediaan menjalankan tugas dan tanggung jawab (berjalan) bagi jamaah haji ke arah hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Artinya, siapa pun yang sudah menjalankan ibadah haji harus bisa mengambil makna sa'i yang menyimpan makna perlunya perilaku yang positif baik untuk dirinya maupun oranglain (masyarakat).

Keempat, Al-hulqu/Tahallul, (memotong rambut) mengandung isyarat pembersihan, penghapusan sisa-sisa cara berfikir yang kotor yangmasih berada dalam kelopak kepala masing-masing manusia. Jamaah haji yang telah menjalankan tahallul mesti harus memiliki cara pikir, konsep kehidupan yang bersih,baik tidak menyimpang dari etika dan norma sosial maupun agama. Dengan kata lain, tahallul berarti mengajarkan kepada umat Islam yang menjalankan ibadah haji agar bisa memiliki dan mengeluarkan pikiran yang baik dan positif.

Makna sosial ibadah haji adalah mengajarkan kepada umat Islam umumnya dan jamaah haji khususnya senantiasa merubah pikiran, sikap serta perilaku (tindakan) yang lebih bermanfaat untukmasyarakat dan orang lain, jangan sampai memiliki persepsi bahwa ibadah haji itu hanya untuk Allah, justru yang paling esensial adalah ibadah haji itu diperuntukkan bagi sesama manusia dengan cara selalu menjaga,  menghormati, menghargai serta saling menjunjung tinggi martabat manusia.

Sabda rasul dalam dalam kitab Ruhul Bayan Jilid II: "Tidak akan berhasil bagi orang yang melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci sekiranya tidak membawa tiga hal; (1) sikap wara' yang  membendung dirinya melakukan yang diharamkan, (2) sikap sabar yang dapat meredam amarah, (3) dan bergaul baik dengan sesama manusia."  

Di sinilah makna sosial dari ibadah haji. Semoga saudara-saudara Muslim yang sekarang diberi kenikmatan dapat menjalankan ibadah haji bisa mengambil makna sosial dari ibadah haji, tanpa harus mengurangi kualitas amalan ritual dalam ibadah haji, amiiin. Wallahu a’lam.


Rahmatul Ummah (Warga Yosomulyo). Artikel ini pernah diposting di Kompasiana, 10 November 2010


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Haji Dalam Dimensi Sosial"