Widget HTML Atas

Toleransi dan Narasi Piil Pesinggiri



Toleransi dan Narasi Piil Pesinggiri


Setiap daerah di Nusantara ini, memiliki adat dan tradisi yang menjadi rumusan untuk mengikat keragaman dalam harmoni yang indah, hidup berdampingan secara rukun, gotong royong dan saling menolong. Adat dan tradisi dari ribuan pulau di pelosok negeri yang memuat kebajikan itu adalah local wisdom yang harus dirawat dan dijaga terus menerus sebagai palung peradaban nusantara.


Sejak dulu kala, narasi peradaban yang ramah, gemar saling tolong dan gotong royong itu bak hamparan permadani mengalasi bumi khatulistiwa. Meski, barangkali publik hanya mengenali penduduk Jawa yang memiliki budi pekerti yang halus, sopan dalam bertutur, pandai menyembunyikan perasaan, narasi yang terus dibangun dan dijaga lewat sikap dan nada rendah saat bicara, berbeda dengan daerah lain, seperti wilayah Indonesia Timur dan Sumatera, yang terkesan dialek dan nada bicaranya keras.

Namun, fakta historis penduduk Indonesia di wilayah lain juga memiliki filosofi hidup yang sama, sama-sama gemar hidup bergotong-royong, saling membantu dan rukun. Misalnya, di Gorontalo orang mengenal tradisi huyula motiayo mopotihulo bele atau mapalus di Minahasa, gayah di Bali, Pawoda di Nusa Tenggara Timur, hoyak tabuik di Sumatera Barat, siadapuri di Sumatera Utara, paleo di Kalimantan Timur, Helem Foi Kenambai Umbai di Papua, dan berbagai istilah lain, yang semuanya menunjuk pada keluhuran budi, toleran, ramah dan gemar tolong menolong.

Hidup saling bahu-membahu dalam setiap kegiatan sosial adalah kerja-kerja yang membutkikan bahwa kehidupan masa lalu bangsa ini telah melampui gagasan toleransi yang hari ini kembali dikampanyekan karena rongrongan kelompok-kelompok radikal yang menebar teror dan kekerasan. Nenek moyang bangsa ini telah mewariskan tradisi hidup berdampingan secara rukun, bahkan saling meringankan beban, bergotong royong. Dan, perilaku intoleran, kekerasan dan radikalisme tidak memiliki akar budaya di Indonesia.

Maka, tak berlebihan jika Soekarno menjadikan gotong royong sebagai jati diri bangsa sejak awal Indonesia terbentuk. Sebagaimana pernyataan beliau di depan peserta sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!”

Bhineka Tunggal Ika, yang bisa dibaca dalam Kitab Sutasoma yang ditulis pada abad ke-14 oleh Mpu Tantular membuktikan bahwa persatuan di tengah keragaman budaya, adat-istiadat dan suku telah memiliki sejarah yang panjang. Masing-masing daerah memiliki kearifan masing-masing untuk menuntaskan segala macam perbedaan, termasuk salah satunya piil pesinggiri bagi warga Lampung.

Narasi Piil Pesinggiri

Secara harfiah menurut Abdul Syani (2013) piil pesinggiri dibentuk oleh dua kata, piil dan pesinggiri. Piil (fi’il) adalah adaptasi dari Bahasa Arab yang artinya perilaku, perbuatan. Sedangkan pesinggiri adalah bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu hak dan kewajiban. Jika dimaknai berdasarkan pengertian tersebut piil pesinggiri adalah perilaku yang bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu hak dan kewajiban, sehingga secara praksis orang yang memiliki piil (baca; piil pesinggiri) adalah mereka bermoral tinggi, berjiwa besar dan paham hak dan kewajibannya, bukan mereka yang jagoan tapi menanggalkan moral.

Rumusan piil pesinggiri terbentuk dari sikap bejuluk adok, nemui nyimah, nengah nyeppur dan sakai sambayan, yang secara filosofis dapat dipahami bahwa sesungguhnya tanpa keempat sikap itu tiada pula piil pesinggiri.

Bejuluk adok adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang telah melaksanakan kewajiban dan pengabdian. Nemui nyimah adalah upaya menjaga silaturahim yang dibangun melalui sikap saling menghormati dan menghargai, nengah nyeppur adalah sikap terbuka, toleran, suka bergaul dengan kelompok dan golongan apapun.

Dalam istilah Edward Syah Pernong, Sultan Kerajaan Adat Sekala Brak, dalam tulisan Pancasila Sebagai Kearifan Lokal Adat Sai Batin (Lampung Post, 27 Juni 2016), nengah nyeppur adalah perwujudan dari sila ketiga dari Pancasila, yakni sikap individu yang sadar peran kemanusiaannya untuk selalu menjaga persatuan. Sedangkan sakai sambayan adalah sebuah sikap gemar menolong dan bergotong royong.

Keempat sikap, bejuluk adok, nemui nyimah, nengah nyeppur dan sakai sambayan yang menjadi turunan dari piil pesinggiri sesungguhnya bisa dilacak dari kesejarahan orang Lampung. Lampung sebagai daerah kolonisasi dan transmigrasi dikenal sangat ramah, inklusif dan egaliter terhadap pendatang, bukan hanya kepada pribumi bahkan jua kepada nonpribumi.

Jadi, untuk menangkal budaya kekerasan, intoleran dan radikalisme yang kini justeru kembali marak di Lampung, cukuplah dengan kembali pada khittah piil pesinggiri sebagaimana yang diwariskan oleh para leluhur.

Jikapun kini representasi identitas piil pesinggiri menjadi buram bukan karena nilai-nilai filosofi hidup itu tak lagi relevan dengan dengan zaman, barangkali di sini penting mengetengahkan apa yang ditulis oleh Stuart Hall dalam The Question of Cultural Identity (1996). Menurut Hall, setiap orang berhasil bersikap aktif memproduksi makna identitas bagi dirinya, sehingga yang pasif mengalami keretakan makna. Piil pesinggiri menjadi yang pasif, dan para pelaku kekerasan cenderung aktif sehingga mampu menampilkan citra baru tentang Lampung.

Produksi ketakramahan, kasar dan intoleran di bumi Lampung yang disampaikan terus menerus lewat sikap aktif sebagian kecil orang Lampung dibantu dipopulerkan dan disebarkan oleh media hingga menjadi perbincangan publik, sukses memproduksi citra baru tentang Lampung, menggeser autentisitas identitas Lampung yang sebenarnya ramah, toleran dan suka menolong menjadi dikesankan kasar, begal, atau malas bekerja, tidak mau pergi ke ladang dan kebun. Lampung sebagai tanah lado, sai bumi ruwa jurai yang memiliki piil pesinggiri pun tergeser maknanya.

Padahal, meminjam istilah Abdul Syani (2013) piil pesenggiri sebagai filosofi hidup orang Lampung, bukan sekadar prinsip kosong, melainkan memiliki nilai-nilai nasionalisme budaya yang luhur yang perlu dipahami dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Unsur-unsur piil pesinggiri selalu berpasangan, juluk berpasangan dengan adok, nemui dengan nyimah, nengah dengan nyeppur, sakai dengan sambai, bukanlah tanpa sebab dan makna.

Simpulnya, ramah, toleran dan saling tolong menolong adalah prinsip dasar orang Lampung yang tertuang dalam prinsip piil pesinggiri, tak ada ruang sejengkalpun di Bumi Lampung bagi laku intoleran, teror dan radikalisme. Setiap perilaku kekerasan adalah aktivitas pengkhianatan terhadap warisan tradisi dan budaya leluhur Lampung.

Tabik.


Rahmatul Ummah (Warga Yosomulyo, Kota Metro)


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Toleransi dan Narasi Piil Pesinggiri "