Skip to main content

Renungan Kehidupan


Renungan Kehidupan. Omah1001.blogspot.com


“Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbânî dengan apa yang engkau senantiasa ajarkan dari Al-Kitab, dan dengan apa yang kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79)

Pagi yang indah, lahir dari harmoni. Syahdu kicau burung, bening bulir embun, hangat sinar mentari, sejuk udara pagi dan hati yang bahagia. Keragaman semesta dan kelapangan jiwa, disempurnakan dengan kesyukuran dan baik sangka. Setiap anasir bekerja tanpa dengki, menjegal terlebih menjatuhkan.

Nyayian syahdu dan kepak sayap burung, bertengger indah pada ranting pohon, menjatuhkan tetes embun yang menggenang di daun, hangat cahaya matahari pagi mengembangkan senyum kelopak mawar, belai lembut angin menerbangkan serbuk sari hingga bertemu kepala putik. Burung tak berharap jadi bunga, bunga tak bermimpi menjadi mentari, mentari pun tak pernah iri kalah cantik dari melati.

Setiap ciptaan hidup dengan kelebihan sekaligus kekurangannya. Penderitaan lahir karena raibnya rasa syukur, menolak apa yang menimpa raga, membayang keju kala menikmati singkong, berharap tuah air putih di tangan berubah arak kala diteguk.

Kebahagiaan dan keindahan bukan produksi pikiran, kebaikan dan kebenaran tidak lahir dari kecerdasan akal. Banyak jelata yang buta aksara tak kalah beradab dari yang berpengetahuan tinggi, mereka mereguk bahagia meski berpagi dengan sepinggan singkong goreng dan secangkir kopi pahit, mereka tak diburu jam kantor apalagi digulung cemas kemacetan jalan, meski hanya tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota yang jalanannya becek kala hujan.

Kebahagiaan adalah selaksa kesadaran menjadi siapa dan apa, titik lebur akal pikiran dan hati atas apa yang menimpa raga, suka-duka disikapi sebagai siklus hidup biasa dan niscaya, serupa air tenang menerima apa saja yang menimpanya, menenggelamkan segala sesuatu, dan menyisakan riak lingkaran di permukaan yang perlahan menipis kemudian hilang.

Ikhtiar menjadi baik adalah ikhtiar mengumpulkan kesadaran bahwa tiada yang abadi, baik dan jahat, bahagia dan derita, datang dan pergi silih berganti. Semakin sedikit menyalahkan dan menyibukkan diri untuk mengurusi kesalahan orang lain. Terkadang ia setia menjadi murid, belajar terus menerus menyempurnakan sikap, menambal kelemahan yang tak pernah habis, membaca tiada henti, bertanya tiada batas, mencari jawaban hingga ke seberang.

Terkadang pula, bersikap layaknya guru, bertindak sebagai teladan, sikap dan ucapnya layak digugu dan ditiru, tak berucap kasar apalagi mencela, tak memanggil dengan panggilan buruk.

Muhammad SAW memberi contoh, baik baginya tak selalu, jahat juga begitu. Setiap orang berkesempatan menjadi apa saja, yang baik sangat mungkin bisa menjadi jahat, seperti sejawat yang diuji harta tak kuat. Yang jahat tetap berpeluang menjadi baik, sebutlah misal sahabat Umar yang bertobat dari jalan sesat.

Barangkali, banyak orang yang mempersepsikan laut biru nan lembut. Tetapi, laut bukanlah bentang biru membayang cakrawala indah semata, laut juga adalah debur ombak bahkan amuk gelombang yang berbahaya.

Begitu juga hidup yang tak melulu tawa, tetapi juga nestapa yang mengundang duka. Setiap kali berjumpa turunan, mestilah diri bersiap, di hadapan tanjakan menghadang. Pejuang pastilah surut berpantang, bukan meminta jalan lurus lapang terbentang melainkan kaki kokoh, kuat dan tak gampang meradang.

Duhai syahwat yang menyempitkan hati dan mengerdilkan pikiran, kubuatkan kau anjungan sebagai 'suporter', di sekeliling kelapangan hati tanpa dengki dan dendam, menyemangati setiap jiwa yang saling memaafkan, menebar peduli dan kasih, menghindarkan penyesalan sebagai kobar neraka yang paling menyesakkan.

Jumat Pagi, 05 Oktober 2018
Rahmatul Ummah

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi

Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi , bisa banyak udang di balik batu.