Widget HTML Atas

Runtuh Sunyi Gamelan Nyai Bandinah


Runtuh Sunyi Gamelan Nyai Bandinah


Lelaki itu merasa dirinya terlalu cepat menjadi tua. Rambutnya yang memutih, kulit keriput, pipinya kempot dan ia terlihat ompong. Entah karena zaman yang semakin menua, ataukah pengabdi seni yang mulai menghilang ditelan zaman, seorang penabuh gamelan benar-benar telah merasa tua,.

Hikmat cerita sepasang sejoli yang di ujung tanduk. Luka sepenggal kata yang tergores di setiap keduanya. Cinta hanya sebuah persinggahan dalam garis kehidupan.

Benih-benih cinta seorang lelaki di batas usia muda yang mendambakan seorang gadis berparas jelita yang tak sanggup diutarakannnya.

Diawali kata sapa, “hei..., kepada gadis jelita yang terpana merona. Seorang pemuda di batas usia muda, mencoba menancapkan panah Cupid[1] yang baru saja ia curi, kepada sang gadis di hadapan, tanpa busur dan langsung tertancap ke sukma.

Sambil dihidupkannya sebatang rokok,  lalu dihembuskannya, wusss... bunyinya, asap pun mengepul menyebar tak karuan arah, begitulah kiranya perasaan yang kini menderanya.

Cupid pun terhenyak membisu, lalu berkata, “busurku adalah keputusan tajam untuk memilah rasa, dan kini telah dicuri, aku takkan bertanggung jawab atas akibatnya!!!”.

Rupanya kekesalan pun tampak di raut wajah sang malaikat cinta, dan berubah merah berapi karena kesal, lalu pergi menghilang meningalkannya.

Titik  waktu menjelma, masa di mana seorang pemuda berhasil melemahkan benteng rasa cinta terhadap lawan jenis.

Pemuda yang sudah mendekati batas umur seorang pemuda, yang menginginkan mempersunting gadis yang terpaut jauh dari umurnya.

Lelaki itu bernama Ki Hadi, yang bersama angan terbang ke pelosok sebagai penabuh gamelan yang disebut Nayaga[2]. Istrinya bernama Nyai Bandinah, seorang pesinden[3] utama yang berhasil dipersunting.

Nyai Bandinah pernah dalam sebuah lakon pentas wayang mengatakan pada suaminya, ia terlalu tua untuk menjadi seorang nayaga kembali, dengan kulit yang semakin menua dan rambut yang semakin memutih.

Dua puluh tahun tahun sudah Ki Hadi dan Nyai Bandinah menjalani kehidupan rumah tangga, tanpa dikaruniai seorang anak. Begitulah Nyai Bandinah tetap setia menemani Ki Hadi  sebagai seorang istri.

Burung perkutut di teras rumah yang terkurung dalam kandang, bernyanyi tanpa beban, seolah-olah tak ada permasalahan yang mengganggu. Angin bertiup lirih bersenandung, menggoyang rimbun pohon dan menerbangkan dedaunan.

Pagi itu hening sunyi, khas suasana rumah di pedesaan. Ki Hadi duduk dengan tenang di teras rumah, sembari memanggil istrinya untuk menemani menikmati pagi. Ki Hadi mengepalkan tangan dan mulai terlihat urat-urat kecil di tangan yang menegang dengan kulit  keriput.

Kepada Istrinya Ki Hadi berseloroh,Nduk, istriku. Pekerjaan ini sungguh mulia namun melelahkan. Aku sangat lelah dan ingin sekali aku ber-istirahat”

Ki Hadi merenggangkan tubuhnya ke-kanan dan ke-kiri.

“Istriku, teringat dulu pada saat pertama kali kita bertemu di pagelaran wayang, kita masih hijau, pada saat berkenalan lalu bertatap wajah, saat itu pula aku masih terlihat muda dan engkau pun masi ranum seperti bunga mawar yang baru merekah indah,” ucap Ki Hadi. 

“Ada apa toh, Mas? Kok tumben sekali Kangmas mengingat kembali masa-masa itu?”  tanya Nyai Bandinah dengan serius.

Nyai Bandinah memperhatikan tubuh suaminya gemetar seolah menggigil, dari tadi ia memperhatikan suaminya dengan penuh cemas.

Ki Hadi lalu memeluk istrinya dengan erat, lalu mencium keningnya dan membelai rambutnya dengan mesra.

 Nduk, istriku. Baiknya kita memikirkan kemungkinan terburuk...”

“Ada apa toh, Mas?” tanya Si Nyai dengan penuh keheranan.

Tlah lama aku igin mengutarakan hal ini kepadamu, wahai istriku,” ucap Ki Hadi.

Baiklah, Mas, katakanlah apa yang seharusnya ingin engkau katakan, aku akan mendengarkannya, sebab itulah bentuk bakti istri kepada suami,” sergah Nyai.

“Sejujurnya aku menginginkan keturunan, sebab kita tlah lama menjalin kisah dan kasih percintaan, dan aku ingin kau mengerti.” Ucap Ki Hadi.

Tubuhnya perlahan gemetar, linu lirih seperti kesemutan menjalar di sekujur tubuh itu. Kini Nyai Bandinah ikut gemetar, merasakan getaran yang amat terasa hebat. Getar di sekujur tubuh, tatkala berusaha menahan gempuran airmata yang melabrak kelopak matanya.

Mas, apakah engkau menyesal menikahiku?” tanya Nyai kepada suaminya.

“Nduk, istriku yang ku cinta, sesungguhnya aku tiada menyesal untuk memilihmu sebagai pasanganku, namun aku sungguh menginginkan keturunan untuk melanjutkan garis hidup keluarga kita kelak.” Ucap Ki Hadi.

Seketika rumah itu terasa panas, entah karena suasana kaget yang diterima ataupun sebab lain, hawa panas kekesalan bercampur kesedihan.

Bila perasaan Nyai Bandinah menjadi kalut, itu bukan karena ucapan Ki Hadi yang menginginkan keturunan, tapi karena perasaan yang tak mungkin mampu dilaksanankannya.

“Ini menyulitkan, tapi aku hanya mampu berhenti pada keinginan saja, takkan sanggup aku untuk mengutarakannya,” ucap Nyai Bandinah dengan terbata-bata.

Sejenak Ki Hadi perlahan berdiri lalu berjalan ke arah jendela. Tubuhnya menegang. Lalu ia duduk tak bergerak, terpaku. Matanya menengadah ke langit-langit rumah yang dipenuhi kelatu bergantungan.

Daun berguguran, angin menderai masuk ke selasar rumah hingga merangsek  bertaburan, disusul bunga ilalang yang seolah tak ingin dilupakan.

Langit tak sebenderang ketika Ki Hadi memanggil datang istrinya, Nyai Bandinah. Burung-burung pun berteriak bersautan tak lagi seindah biasanya, seolah menyadari bahwa hari tak lagi sama.

Siang mulai rubuh, ketika waktu yang pucat terpaku dipecah teriakan, seruan, jeritan tangis dari Sang Nyai, nafasnya memburu, air mata yang tak lagi terbendung, lalu ia menjerit sejadi-jadinya, melihat keadaan suaminya yang menjadi kaku dengan mata tertutup, memejam pasrah.

20 november 2018


***

- Benny -



[1] Dewa Cinta Romawi. Sebutan lainnya bagi dewa ini adalah Amor. Sebagai Amor, ia digambarkan sebagai anak kecil bersayap yang nakal, serta membawa busur dan panah, yang dapat membuat manusia maupun dewa jatuh cinta
[2] Nayaga: Sekumpulan orang yang memiliki keterampilan khusus menabuh gamelan, terutama dalam mengiringi Dalang dalam pementasan wayang.
[3] Pesinden: Wanita yang bernyanyi mengiringi gamelan.

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Runtuh Sunyi Gamelan Nyai Bandinah"