Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2018

Ibu

Ibuku hanyalah seorang perempuan pulau. Sering kusebut perempuan laut, kupanggil Emak. Tak pandai bergaul, tak pandai pula melembutkan lidah agar kata-katanya terdengar indah, bahkan Emak jarang berkata-kata seperti perempuan pada umumnya. Jika gembira, rona wajahnya cerah, matanya binar. Tetapi, Emak juga akan tetap tersenyum meski memendam pilu.

Lesehan di Omah Yoso, Membincang Puisi Bersama Ari Pahala Hutabarat

Magrib baru saja berlalu. Beberapa obor dipancang di tengah halaman rumah. Cahayanya meliuk-liuk tertiup angin, membuat bayangan beberapa orang yang hilir mudik mempersiapkan acara 'Peluncuran dan Bedah Buku' Sehimpun Puisi: Metafora Kota ikut bergoyang. Tamu-tamu mulai berdatangan, ada yang duduk bersila di atas tikar, ada yang memilih tetap berdiri di halaman, berbincang sembari menunggu acara dimulai.

Smith

Bahar Smith ramai dibincangkan di media sosial. Bukan kerana lakon sebagai penyempurna kemuliaan akhlak ( innama buitstu li utammima makarimal akhlaq ) sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW tegaskan, bukan pula sebagai penebar rahmat bagi semesta ( wama arsalnaka illa rahmatan lil 'alaimien ) yang menjadi tugas utama kerasulan Muhammad, sama sekali bukan meski ia mengaku masih memiliki garis keturunan dengan Nabi SAW.

Serakah

Jangan belikan aku dua bungkus rokok! Aku akan lebih cepat menghabiskannya. Keserakahan acapkali hadir bersama fasilitas yang tersedia. Tak mampu mengendalikan diri untuk mengambil secukupnya. Keserakahan mewujud dalam ragam rupa, makan terlampau kenyang, mengeruk perut bumi hingga merusak alam untuk menumpuk kekayaan.

Oportunis

Dulu, di pertengahan tahun 2015, di sebuah kota di Lampung, pengajian begitu semarak di masjid-masjid. Shalat subuh berjamaah di masjid bergeliat, seorang kyai cum politisi, rela menerobos gerimis yang membuat gigil tubuhnya. Banyak warga mencemooh dan nyinyir, menduga pengorbanannya berbau politik, dikaitkan dengan keinginannya untuk menjadi walikota.

Semua Anak Cerdas

Besok pembagian raport. Besok pula akan kita dengar guru, orang tua atau anak-anak murid akan menentukan penilaiannya tentang anak cerdas dan anak tidak cerdas di sekolahnya masing-masing. Di negeri ini, kecerdasan akademik sangat diagulkan melampui kecerdasan lainnya. Deret angka hingga deret gelar dinilai sebagai prestasi dan prestise.

Kotak Suara Versus Otak Kardus

Lagi. Ruang publik media sosial ramai membicangkan kotak suara untuk pemilu 2019. Respon yang dijejali amarah dan low-trust. Pikiran-pikiran yang menciptakan ruang imaji sendiri, persis seperti yang digambarkan oleh Jean Baudrillard sebagai simulacra ( simalacrum ) , sebuah ruang yang berisi realitas-realitas semu. Ruang imajinasi yang tak menyertakan realitas atau referensi asli dalam proses produksinya.

Mencari Mahabbah

".../Sulit menjelaskan apa hakikat cinta/Ia kerinduan dari gambaran perasaan/Hanya orang/yang merasakan dan mengetahui/Bagaimana mungkin/Engkau dapat menggambarkan/Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang/dari hadapan-Nya, walau ujudmu/Masih ada karena hatimu gembira yang/Membuat lidahmu kelu/... " (Mahabbah, Rabi'ah al Adawiyah)

Kucing dan Horor Demokrasi

Beberapa hari ini aku melihat kucing yang biasanya lincah tak lagi bersemangat, hanya berbaring di atas karpet di bawah kolong meja. Tak ceria. Padahal, kemana saja aku bergerak akan selalu ikut, ketika makan selalu setia menunggu limpahan tulang belulang ikan, jika ada tamu, maka ikutan juga nongkrong di kolong meja, bahkan ketika aku duduk di depan laptop, mengetik atau membaca si kucing dengan setia akan tiduran di karpet tak jauh dari tempatku duduk.

Info Lowongan: Rekrutmen Pendamping KUBE

Bagi yang tidak lolos seleksi CPNSD beberapa waktu lalu, tak perlu kecewa hingga tak enak makan dan tak nyenyak tidur. Kali ini ada lowongan kerja yang dibuka Kementerian Sosial melalui Dinas Sosial setempat untuk Pendamping KUBE.

Rethingking Demokrasi

Memang serba salah dan dilematis kalau sudah bicara pamrih. Mana mungkin hidup tanpa pamrih. Mana mungkin menanam padi tanpa pamrih panen , dan menanak nasi tanpa pamrih nasi akan matang. Tetapi, hendaklah khalayak ramai menyadari bahwa pamrih dengan pamrih ada bedanya. Motivasi individu dan egoisme ada bedanya dengan perjuangan sosial. Mestinya rakyat mulai membuka diri pada kesadaran bahwa bahwa para caleg itu berpamrih, tapi pamrihnya adalah memperjuangkan rakyat, bukan memperjuang k an nasib mereka sendiri. (Cak Nun, Demokrasi La Roiba Fih)