Skip to main content

Ibu


Ibu, Emak, Berbakti

Ibuku hanyalah seorang perempuan pulau. Sering kusebut perempuan laut, kupanggil Emak. Tak pandai bergaul, tak pandai pula melembutkan lidah agar kata-katanya terdengar indah, bahkan Emak jarang berkata-kata seperti perempuan pada umumnya. Jika gembira, rona wajahnya cerah, matanya binar. Tetapi, Emak juga akan tetap tersenyum meski memendam pilu.

Emak adalah perempuan pemalu. Kepalanya selalu tertutup kain sarung hingga sebagian wajah. Tak pandai ia bermain handphone, mengetik SMS.

Dulu, Emak hanya berdiam di rumah, sebelum akhirnya harus menggantikan peran ayah yang sakit, berbelanja menyeberang pulau. Membeli barang, mengisi warung kecil di sudut rumah. Sebagai pedagang, Emak sekadar melengkapi profesinya sebagai ibu rumah tangga, berjualan setelah mengurusi dapur, selesai menyapu dan mencuci pakaian.

Sebelum aku mengerti tentang durhaka dan murka Tuhan yang terletak pada murkanya orang tua, tak berbilang ulah membuat marah, tak terhitung kata membentak, ucap dan sikap yang memaksa Emak menahan isak.

Sepulang sekolah, seringkali aku marah karena tak ada lauk, membuang nasi hingga berserakan di atas tanah, marah-marah dan minggat dari rumah. Suatu ketika, aku pernah mendapati Emak, diam-diam memunguti nasi yang telah bercampur tanah, mencuci lalu memakannya, tanpa lauk, hanya ada garam yang dihaluskan bersama cabai. Sesak dan perih, sesalku menjulang langit.

Mengenang setiap kedurhakaan, ingin rasanya membalas dengan bakti berlebih-lebih. Tetapi, dengan apa dan cara bagaimana? Kutahu kasihnya tak berujung, kutahu budinya tak berharap balas, dan kutahu beban deritanya tak mungkin terganti. Sedangkan aku, hanya memiliki kasih tak jarang pamrih, sebutir budi yang dikenang dan dihitung tak rampung-rampung, diceritakan dan disebarkan.

Pernah kukirimkan uang, tak ditolak. Kala pulang, kutahu uang itu utuh tak berkurang, tersimpan rapi dalam lipatan pakaian. Ketika kutanya, Emak menjawab, bingung hendak dibelanjakan untuk apa? Akhirnya dibagi untuk cucu-cucunya, anak-anakku. Uang itu kembali, berlipat-lipat. Pernah kubelikan sesuatu, namun Emak selalu membalasnya dengan mengirimkan sesuatu yang lebih. Kubelikan pakaian baru, bertahun kemudian kudapati pakaian itu masih terlipat. Emak tersenyum, "tak pantas dipakai di pulau." Bagi Emak, pakaian bekas sudah terlalu mewah untuknya, orang pulau.

Pernah kuajak Emak tinggal bersama, tak ada yang mengurus rumah dan tanaman di pulau, jawabnya.

Betapa sulit bagiku menemukan ruang berbakti. Pernah kupulang untuk mengabdi. Aku melihat Emak bahagia kami berkumpul bersama. Namun, tak lama. Anak laki-lakinya ini berulah, membuat marah orang sepulau. Emak kembali bermuram durja, lelah mendapat cerita, anak laki-lakinya yang fakir adab, suka membantah dan mebuat huru-hara. Aku membela diri, aku sedang difitnah. Emak membujuk, agar aku mengalah, kembali pergi. Perih tak terperikan.

Aku akhirnya berkemas. Terdiam dalam deras airmata yang tak berhenti bercucur. Tak pernah kumenangisi perpisahan sebelumnya. Aku hanya ingin mengabdi, menebus salah masa lalu pada Emak. Betapa susah!

Kini, dari jauh hanya doa tak putus-putus, setiap hari, setiap ingat. Semoga Tuhan menyanyangi dan mengasihi Emak, serupa ia menyayangi dan mengasihiku sepanjang usianya. 

Aku menasihati anakku, bersihkan jalan menuju rida ibumu, niscaya lapang jalan hidupmu. Jika suatu hari kau dapati rumit dan beratnya beban hidup, tak kunjung kau bersua bahagia meski bergelimang harta, datanglah kepada ibu dan tanyakan, apakah ia rida atas lakumu?

Bagi kalian yang bernasib baik, tak terbentang jarak menghadiahkan bakti kepada ibu, aku narasikan ulang pesan Kahlil Gibran, bahwa ibu adalah segalanya, dia adalah hiburan dalam kesedihan kita, harapan dalam penderitaan, dan kekuatan dalam kelemahan. Dia adalah sumber cinta, kasih sayang, simpati, dan ampunan. Orang yang kehilangan ibunya telah kehilangan jiwa murni yang selalu memberkati dan melindunginya.

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum