Skip to main content

Kucing dan Horor Demokrasi


Kucing dan Horor Demokrasi

Beberapa hari ini aku melihat kucing yang biasanya lincah tak lagi bersemangat, hanya berbaring di atas karpet di bawah kolong meja. Tak ceria. Padahal, kemana saja aku bergerak akan selalu ikut, ketika makan selalu setia menunggu limpahan tulang belulang ikan, jika ada tamu, maka ikutan juga nongkrong di kolong meja, bahkan ketika aku duduk di depan laptop, mengetik atau membaca si kucing dengan setia akan tiduran di karpet tak jauh dari tempatku duduk.

Terkadang kesal dan menyebutnya pemalas, karena tak pernah mau keluar rumah untuk mencari makan atau setidaknya bergaul dengan sesama warga kucing. Mungkin juga dia sedang 'meneladani' tuan rumah yang jarang keluar. "Ah, ente nyuruh kucing gaul, ente saja mengisolasi diri," bisa jadi si kucing ini 'ngoceh' tanpa aku mengerti bahasanya.

Kucing ini juga memiliki sifat aneh. Bila berantem, biasanya akan bersuara keras dan melawan, saat ia tahu ada orang (aku dan kawan-kawanku) di dekatnya. Suaranya mengeong akan lebih keras. Apakah ini juga mewakili?

Sebelumnya, aku memang sempat menanyakan keberadaan kucing ini. Tak pernah nongol beberapa hari. Kala makan, tak ada lagi suara mengeong, berteriak-teriak meminta jatah makan siang, malam atau pagi. Informasi penting, meski ia kucing, golongan binatang yang seringkali dianggap tak lebih beradab dari manusia, kucing ini tak pernah membongkar panci atau tutup tempat menyembunyikan ikan, tak pernah mengambil sesuatu yang ia tahu bukan menjadi haknya.

Kini kucing itu lemas, berjalan terpincang-pincang. Tulang kaki depan sebelah kiri sepertinya patah, ada warna kuning seperti borok di lubang anusnya. Siapakah yang menyiksa kucing ini sedemikian kejam? Apakah ada yang terancam jatah makan siangnya habis di makan oleh kucing ini? Ini jelas bukan perkelahian adil antar sesama kucing. Aku sering mendapati bulu rontok di beberapa bagian badannya, tapi tak cukup mengkhawatirkan. Pastilah itu perkelahian kecil-kecilan, tak lebih parah dari ribut-ribut di media sosial soal copras-copres yang berujung saling tikam dan berbagi bogem mentah di dunia nyata.

Ini pasti salahku. Aku sering menuntutnya untuk keluar rumah, bergaul dan memperluas jaringan sesama kucing. Tujuanku sebenarnya, agar si kucing tak melulu berharap makan siang ada di rumah ini, karena tak selamanya kami makan ikan. Akibatnya tak pernah aku bayangkan akan separah ini.

Manusia sebagai homo sapiens, mestinya memegang teguh klaimnya sebagai spesies paling beradab, tak lantas karena tak kuasa menjajah dan menunjukkan hegemoniknya kepada sesama manusia, mengalihkan laku aniayanya kepada binatang yang tak berdaya dan kecil.

Ya sudahlah, Cing.  Kamu berdiam di rumah saja, tak perlu meluaskan pergaulan seperti yang kuharapkan sebelumnya. Dunia ini semakin hari semakin menghadirkan ketakutan. Setiap hari ada caci maki, jika tak berada dan sependapat dengan satu golongan, maka bersiaplah mendapatkan muntahan amarah dan ujar kebencian (baca; kedengkian).

Aku memang yakin, kucing tak pernah mengenal tekhnologi semacam facebook, tak satupun kucing memiliki akun media sosial, meski banyak yang foto profilnya menggunakan display picture kucing.

Dunia kucing pastilah lebih kondusif, karena tak ada kontestasi demokrasi. Tak ada pemilihan presiden kucing. Kucing tak akan bisa saling sindir seperti antar pendukung politik, maka tak ada aksi tipu-tipu, tebar pesona dan selaksa pencitraan lainnya. Tetaplah menjadi kucing, tak perlu bermimpi menjadi manusia, sebagaimana manusia yang sering bermimpi menjadi paling beradab dengan berburu jabatan, tetapi justeru menjadi biadab.

Satu saja hal yang paling menkhawatirkan, kucing menjadi pelampiasan kemarahan dan kekecewaan manusia, yang kalah dan sakit!

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum