Lesehan di Omah Yoso, Membincang Puisi Bersama Ari Pahala Hutabarat

Lesehan di Omah Yoso, Membincang Puisi Bersama Ari Pahala Hutabarat

Magrib baru saja berlalu. Beberapa obor dipancang di tengah halaman rumah. Cahayanya meliuk-liuk tertiup angin, membuat bayangan beberapa orang yang hilir mudik mempersiapkan acara 'Peluncuran dan Bedah Buku' Sehimpun Puisi: Metafora Kota ikut bergoyang. Tamu-tamu mulai berdatangan, ada yang duduk bersila di atas tikar, ada yang memilih tetap berdiri di halaman, berbincang sembari menunggu acara dimulai.

Rumah itu dilabel Omah Yoso, terletak di Jalan Tenggiri Yosodadi Kota Metro. Pemiliknya, Taufiq Rinaldi dan Linda Ayu, sepasang suami isteri yang menyukai seni dan budaya. Diskusi Buku Sehimpun Puisi: Metafora Kota yang ditaja oleh Dewan Kesenian Metro kerja bareng dengan UKM IMPAS IAIN, Sangsaka dan Peken Anggoro Kasih, (Kamis, 20 Desember 2018) adalah kegiatan kedua yang dihadiri komunitas dari beragam latar belakang. Sebelumnya, sepekan lalu, tepatnya Senin malam Selasa, 10 Dsember 2018, acara bertajuk Peken Anggora Kasih sukses digelar di Omah Yoso dan dibanjiri banyak warga.

"Omah Yoso terbuka dan membuka diri untuk menjadi tempat menggelar kegiatan, dengan beberapa catatan, mereka setting tempat dan acara sendiri, bertanggungjawab atas kebersihan dan tidak boleh membawa gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan keberpihakan pada kelompok politik tertentu. Harus bersih dari kampanye, terselubung terlebih terang-terangan." Jelas Taufik.

Taufik Rinaldi menambahkan bahwa ia tak membebankan biaya sewa untuk setiap kegiatan yang digelar di Omah Yoso, tetapi jika ada dana untuk sewa tempat, maka ia juga tidak menolak. Dan, semua dana yang didapat itu akan digunakan membiayai operasional Peken Anggoro Kasih yang rencananya akan digelar rutin setiap bulan, malam Selasa Kliwon.

"Peken Anggoro Kasih, adalah gelaran rutin Omah Yoso setiap malam Selasa Kliwon. Acaranya ada musikalisasi puisi, musik akuistik, pertunjukan tari tradisional dan lapak jajanan tradisional milik warga," kata Taufik sembari bangkit dari duduknya. Ia membantu membentangkan beberapa tikar di teras berbentuk L itu.

Sepasang kursi dan sebuah meja dari kayu diletakkan di sudut ruang teras, tiga buah kursi plastik ditata berbaris tepat di depan pintu masuk teras, di atasnya diletakkan 3 buah gitar.

Tak lama kumandang azan Isya' tedengar dari masjid yang tak jauh dari Omah Yoso. Tamu-tamu semakin ramai berdatangan, mereka memasuki teras rumah, duduk bersila di atas tikar menghadap keluar, ke arah tiga buah kursi plastik yang sederet dengan sepasang kursi dan meja kayu di pojok teras.

Menunggu acara dimulai sembari memberi kesempatan kepada Ari Pahala Hutabarat, penyair dari Bandar Lampung yang akan menjadi pembahas Sehimpun Puisi : Metapora Kota dan rombongan yang baru tiba untuk mengaso sejenak, para tamu disuguhkan penampilan empat dara mungil dari Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni (IMPAS) IAIN Metro, yang berdendang merdu diiringi petikan gitar, mementaskan musikalisasi puisi. Musik mengalun lembut membuat suasana malam  di Omoh Yoso semakin syahdu.

Setelah itu, pembawa acara merangkap moderator, Mu'adin Efuari, Ketua Dewan Kesenian Metro, yang duduk bersama Ari Pahala Hutabarat di pojok teras Omah Yoso, segera membuka acara. Buku bersampul cokelat berjudul Sehimpun Puisi: Metafora Kota yang ditulis oleh empat penyair Kota Metro, Solihin Utjok, Ahmad Muzakki, Fatrohul Mubaroq dan Amin Budi Utomo pun dibagikan kepada peserta diskusi.

Buku yang berisi 26 puisi tersebut segera dibincangkan. Tak hanya membedah beberapa puisi dalam buku tersebut, Ari sapaan akrab Ari Pahala Hutabarat juga menjelaskan proses dari awal hingga akhir menciptakan puisi. Menurutnya, puisi adalah alam barzakh, alam transisi atau alam antara yang menghubungkan bahasa komunal dengan bahasa personal, dunia konseptual dengan dunia observasional, nalar dengan imaginal.

"Taruhan utama puisi terletak pada kemampuan invensi (menyingkap) makna, menciptakan bahasa atau metafora," jelas Ari yang telah menulis ratusan puisi, esai, cerpen dan naskah drama di media lokal dan nasional, serta telah menerbitkan beberapa buku puisi.

Menurut Ari, yang juga pegiat teater Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung, banyak penyair terlalu merasa heroik sehingga memandang karyanya seperti wahyu yang tidak bolek dikritik, sakral dan sempurna. Padahal belum tentu apa yang ditulisnya itu adalah puisi, jangankan untuk menjadi puisi untuk dianggap sebagai tulisan saja belum.

Panjang lebar mendengar penjelasan Ari Pahala, aku yang duduk paling belakang sebelah kanan teras Omah Yoso, mendadak merasa tak bisa apa-apa. Kata-kata Ari menusuk, tetapi sekaligus meledakkan semangat untuk terus menulis.

"Jika tak mau dikritik, pendam saja puisimu dalam kepalamu sendiri. Tak perlu mengharapkan orang lain baca, maka  puisi itu tidak akan ada yang menilai." ujarnya

Malam itu, tak hanya membedah buku Sehimpun Puisi: Metapora Kota, penulis dan pengunjung juga tampil mendeklamasikan sajak-sajak yang ditulis dalam buku tersebut, mereka membawakan puisi-puisi dengan sepenuh hati. Di bawah cahaya lampu yang temaran, di teras rumah yang ditata secara artistik dan terbuka. Para pengunjung duduk lesehan sambil menikmati kacang dan pisang rebus, setara tanpa sekat, membaur dan khusyuk dengan segenap penghayatan.

Jelang tengah malam, acara selesai. Setelah foto bersama, tamu-tamu berpamit pulang, beberapa masih sibuk meminta tanda tangan dari Ari Pahala Hutabarat dan empat penulis buku yang diaku masih akan direvisi tersebut.

Sebelum berpisah, Ari sempat berbisik mesra, "terus berproses!" karib dan berkesan.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post