Semua Anak Cerdas


Semua Anak Cerdas


Besok pembagian raport. Besok pula akan kita dengar guru, orang tua atau anak-anak murid akan menentukan penilaiannya tentang anak cerdas dan anak tidak cerdas di sekolahnya masing-masing. Di negeri ini, kecerdasan akademik sangat diagulkan melampui kecerdasan lainnya. Deret angka hingga deret gelar dinilai sebagai prestasi dan prestise.

Maka, tak mengherankan jika dalam waktu bersamaan di satu sekolah atau satu lembaga pendidikan, secara bersamaan hadir dua laku yang bertentangan. Di satu sudut terdapat sekelompok orang tua dan anak-anaknya yang mengagulkan capaian anaknya, di sudut lain ada orang tua yang masygul, merasa rendah diri karena anaknya dianggap bodoh dan gagal, dan jumlah mereka lebih banyak, karena rangking 1 sampai 3 tentulah hanya 3 orang siswa, 10 besar tentu juga hanyalah 10 siswa.

Lantas, apakah sekolah yang mampu membuat pintar tiga atau sepuluh siswa saja, termasuk kategori berhasil? Anda jawab saja sendiri, karena saya memang tak sependapat dengan cara mengukur kecerdasan melalui raport atau deret-deret penilaian akademik lainnya.

Howard Gardner, psikolog dari Harvard University mengemukakan setidaknya ada sembilan kecerdasan anak, yaitu cerdas bahasa (verbal/linguistic), cerdas logika/matematika (logical/mathematical), cerdas visual-spasial (visual/spatial), cerdas musik (musical/rhythmic), cerdas gerak (bodily/kinesthetic), cerdas alam (naturalistic), cerdas sosial (interpersonal), cerdas diri (intrapersonal), dan cerdas hidup (existential). Setiap anak berpotensi memilikinya, meski dengan perkembangan berbeda-beda.

Tentu, saya tak hendak menghalangi orang tua yang sedang berbahagia dan bangga mendapati anaknya meraih prestasi di sekolah, saya bahkan bisa merasakan bagaimana puas dan leganya perasaan orang tua, seolah terbayar lunas segala jerih payah dan lelah bekerja untuk ananda.

Namun, tulisan ini berkepentingan untuk mengajak bersimpati dan berempati terhadap para siswa yang dianggap 'tidak berprestasi', membayangkan mereka berjalan tertunduk, penuh takut dan khawatir mendapatkan murka kedua orang tuanya. Maka, menjadi arif rasanya jika ungkapan kebanggaan itu tak perlu dipamerkan di ruang publik yang bisa menyulut kemarahan orang tua atau menghadirkan rasa inferior, takut dan bersalah anak dari keluarga yang tidak mendapatkan 'prestasi'. Bahkan, sikap 'pamer prestasi' ini harus secara bijak juga diungkap dalam keluarga, karena bisa saja ada satu atau dua anak yang akan merasa tersudut, karena kebetulan memiliki kecerdasan yang tak diapresiasi oleh raport.

Cukuplah kiranya ungkapan kebanggaan itu disampaikan lebih privat, lebih personal dan menyentuh. Misalnya, memberikan pelukan, ciuman sembari membisikkan selamat kepada si anak dan mengajaknya bersyukur. Memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi, juga harus selalu dalam bingkai adil, bahwa semua prestasi apapun yang berbeda dari anak kita harus mendapatkan apresiasi.

Setiap orang tua, tentu memiliki harapan, dan si anak juga pasti memiliki harapan terhadap dirinya sendiri. Beruntunglah jika apa yang diharapkan orang tua kebetulan klop dengan apa yang diharapkan anak, biasanya tak berujung pada cekcok dan pemaksaan kehendak oleh orang tua untuk mengikuti harapannya.

Padahal, yang mesti dilakukan oleh orang tua hanyalah memastikan bahwa setiap anak punya keinginan, punya harapan tentang masa depannya, kemudian membantu mengarahkannya, bukan menjadikan dan memaksa anak menjadi 'robot' untuk menggapai dan menjalankan ambisi-ambisinya.

Pun, termasuk sekolah. Tak berhak memaksa murid untuk cerdas dalam satu bidang tertentu yang tak menjadi minatnya. Anda bisa bayangkan, esok ketika pembagian raport di banyak sekolah, di tengah kerumunan banyak orang tua dan murid, bagaiamana sistem persekolahan kita melahirkan dua ironi sekaligus, pujian dan caci maki, kebahagiaan dan kekecewaan, keagulan dan kemasygulan, kesombongan dan rendah diri.

Saya teringat syair-syair Kahlil Gibran yang populer, jawaban untuk perempuan yang di tangannya ada seorang bayi, bahwa; "... anakmu bukan anakmu/mereka adalah anak dari kehidupan yang ingin menjadi diri mereka sendiri/Mereka datang melaluimu, tapi bukan darimu/Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu/Berikanlah cintamu, tapi bukan pemikiranmu/Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri/Berikanlah rumah bagi tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka/Karena jiwa mereka adalah milik rumah masa depan, yang tak bisa kau kunjungi, tak pula dalam impianmu/Kau bisa berusaha menjadi seperti mereka, tapi jangan jadikan mereka sepertimu/Karena hidup tidak berjalan mundur atau tenggelam di masa lalu..."

Kahlil Gibran juga menyiarkan syair tentang peran yang mesti dilakukan oleh orang tua,termasuk juga semestinya dilakukan sekolah. Sebagai busur! "...Kau adalah busur yang dibutuhkan anak-anakmu sebagai anak panah/untuk melesat kencang ke depan/Sang Pemanah memandang jauh tanpa batas/Dan Ia menarikmu dengan segala kekuatan/agar anak panahNya melesat cepat dan jauh/Merentanglah dalam tangan Sang Pemanah dengan bahagia/Karena seperti Ia mencintai anak panah yang melesat cepat/Ia pun mencintai busur yang kokoh...."

Setiap orang, termasuk anak kita, dapat menjadi apa saja, memiliki masa depan, bahkan secara profesional di bidangnya. Kita semua memiliki harapan, namun harapan kita tentu bukan harapan orang lain. Kita bisa memaksa diri kita menjadi seperti keinginan orang lain, tetapi kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain seperti keinginan kita. Begitupun dengan masa depan, harapan dan keinginan anak, maka hargailah dunia mereka dan biarkan ia berkembang dengan rencana dan cita-citanya.

Akhirnya, sebagai orang tua, kita semua memiliki tanggungjawab untuk prihatin atas sesat budaya dan sesat pikir tentang prestasi dan kecerdasan ini. Semua anak cerdas!

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post