Ketika Alam Bertasbih; Narasi yang Kita Sebut Bencana


Ketika Alam Bertasbih; Narasi yang Kita Sebut Bencana

Kalender analog di laptop berganti, 1/1/2019. Tentu bukan kebetulan, karena saya tak pernah mempercayai segala sesuatu yang terjadi kebetulan. Semua bergerak, memiliki ritme. Entah lurus, istiqamah pada pakemnya atau menyimpang. Entah gerak sadar, dimengerti, atau gerakan tanpa ruh, auto.

Semua yang hidup pasti bergerak, karena berhenti adalah isyarat kematian. Ada 365 hari di tahun 2018, dengan rincian ada 7 bulan yang memiliki 31 hari, 4 bulan memiliki 30 hari dan satu bulan yang memiliki 28 hari. Setiap hari, setiap saat dan setiap detik yang hidup di tahun 2018 pasti bergerak.

Alam juga bergerak. Alam menegaskan bahwa ia tak mati, geraknya memiliki hukum dan ritme sendiri. Tak bisa dicegah. Alam dan isinya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan (bukan keinginan) manusia, ia bergerak dalam hukum keseimbangan (tawazun). Gempa bumi, tsunami, banjir, kemarau panjang bukanlah kejadian baru, semuanya memiliki ritme, tak kebetulan.

Ketika laut menghantam pantai, meluluh-lantakkan tempat tinggal, barangkali ada bagian-bagiannya yang kita rampas dengan serakah, sehingga gelombang yang mestinya menjadi riak lembut ketika menyentuk bibir pantai, berubah menjadi ombak besar bernama tsunami. Ikan-ikannya, batu karangnya, atau putih pasir pantainya.

Laut mestinya menjadi kawan yang mencukupi segala kebutuhan, gudang tempat menyimpan makanan. Lantas mengapa menjadi musuh yang mengumbar angkara?

Ketika bumi tak mampu menampung curah hujan, merendam ribuan pemukiman. Tatkala tanah tak lagi kuat menyangga beban, runtuh dan longsor menimbun rumah, manusia, binatang ternak dan seluruh kemewahan dan kepongahan. Gempa bumi dan letusan gunung merapi membuat takluk dan menguras air mata, kita bersimpuh dan mengeluh memohon ampun, seraya tetap merawat telunjuk keangkuhan, menuding perilaku maksiat dan membungkus rapat-rapat keserakahan, laku mengambil sesuatu dari alam yang melampaui kebutuhan, mengeksploitasi alam.

Kiranya, tak patut merentangkan telunjuk, kala kita gagal mengendalikan dan mengerem kerakusan. Alam hanya bercerita soal ruang-ruang kosong yang harus diisi, lewat narasi yang kita sebut bencana. Alam berkisah tentang ketakseimbangan lewat sesuatu yang kita ucap sebagai musibah. Alam mendendangkan nyanyian tentang sunyi kemanusiaan lewat sajian mantra-mantra yang kita beri nama ujian.

Kembali pada setiap gerak semesta di 365 hari sepanjang tahun 2018, bukanlah kebetulan. Ia memiliki alasan, hukum dan pembenarnya sendiri-sendiri.

Secara indah, Tuhan menjanjikan dalam Al Quran Surah Al-Ra'd ayat ke-14, tentang gerak perubahan (taghyir) yang harus dimulai dari gerak perubahan diri sendiri (inner-selves). Menurut Muhammad Asad dalam The Message of the Quran, pernyataan Allah dalam ayat tersebut mempunyai konotasi positif dan negatif sekaligus: yakni Allah tidak akan mencabut nikmat-nikmat-Nya, kecuali lubuk diri (inner-selves) mereka sendiri menjadi rusak (lihat dan bandingkan dengan Surah Al-Anfal: 53).

Lanjutan ayat tersebut dipertegas dengan pernyataan bahwa tidak ada satupun yang dapat mencegah jika Allah menghendaki seseorang tertimpa keburukan disebabkan akibat perbuatannya sendiri. Dalam pengertian lebih luas, menurut Muhammad Asad, merupakan suatu gambaran mengenai hukum sebab-akibat yang ditetapkan Allah (sunnah Allah) yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat sehingga kebangkitan dan keruntuhan suatu peradaban akan bergantung pada kualitas moral umatnya dan pada perubahan dalam inner-selves sendiri.

Pada ayat ke-12 dan 13, Allah menjelaskan sesuatu yang berada di alam mikrokosmos -diri manusia. Allah memberikan perumpamaan sekaligus penjelasan atas fenomena alam, tentang kilat, awan mendung, guruh dan halilintar. Dengan penyebutan yang berbeda-beda menunjukkan wujud, sifat, dan tujuan penciptaannya pun berbeda-beda. Kilat disebut sebagai sesuatu yang menimbulkan ketakutan sekaligus harapan, awan mendung dan guruh sebagai sesuatu yang bertasbih dan memuji kekuasaan-Nya yang tak terhingga, dan para malaikat malaikat pun terpukau. Sementara halilintar yang bersifat menyambar, memiliki energi listrik bertegangan tinggi, ditimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Harapan, tulis Muhammad Asad ketika menjelaskan ayat ke-12 ini adalah harapan akan turunnnya hujan, yang sering kali dilambangkan sebagai iman dan kehidupan ruhani dalam Al Quran. Ayat ini, hendak menegaskan kembali bukti tentang adanya rencana (bukan kebetulan) yang disusun secara sadar dan adanya tujuan yang inheren dalam seluruh alam (sebagaimana tersurat dalam Al Ra'd; 2-4), sekaligus bukti tentang eksistensi transendental Tuhan dan sifat keberadaan-Nya.

Ketika setiap kali bencana menimpa, maka seruan, panggilan dan segala kemungkinan dipanjatkan kepada Tuhan sebagai Realitas Tertinggi (al haqq) atau Sebab Pertama (causa prima). Allah menyebutnya sebagai da'wat al haqq (segala doa untuk meraih Kebenaran Tertinggi) untuk menghindarkan seruan yang salah, berdoa serupa orang yang mengulurkan kedua tangannya yang terbuka ke dalam air, sembari berharap air itu mencapai mulutnya, tanpa melakukan gerakan apapun setelahnya. Doa semacam itu adalah doa orang-orang yang mengingkari kebenaran, menjadi sia-sia bahkan menjerumuskan ke dalam kesalahan besar (dhalal).

Dendang mungkin alam mulai bosan adalah dendang keputusasaan. Alam tak bosan, bencana, musibah dan ujian adalah gerak alam yang mencerminkan gerak manusia, sebagai individu dan masyarakat yang berulang-ulang menyakiti alam.

Gerak diri dan semesta selama 365 hari di Tahun 2018 adalah kaca spion untuk dilihat sebelum memulai langkah-langkah baru di awal tahun 2019 ini (wal tandzur nafsun ma qaddamat li ghad) agar tak lupa diri dan menjadi fasiq (Qs. Al Hasyr 18-19).

Wallahu a'lam.  

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post