Wajah Buruk Politik



-----

Sewajah dengan kehidupan, dalam politik tak ada yang sepenuhnya suci. Bedanya, dalam politik setiap perilaku yang dianggap 'kotor' selalu menarik dan memiliki ruang untuk dibincangkan dan disebarkan, tujuannya jelas untuk menyerang, menjatuhkan dan memenangkan kontestasi atau pertarungan.


Wajah politik semakin buruk, bisabab, keburukan perilaku dalam kehidupan politik yang terus menerus disebar untuk mengaduk-aduk perasaan publik. Maka, ketika kita tak punya cukup filter dan sistem imun yang baik, kita akan rawan terkena virus mendengki dan mencaci, hingga akhirnya menjadi penyebar aktif virus-virus keburukan yang semakin menyesakkan ruang publik itu. Begitu seterusnya, berputar secara berantai.

Narasi tentang hal-hal suci, barangkali mutlak hanya ada dalam lembaran buku atau kitab suci, tak ada dalam kata dan kerja. Maka, tak perlu menghabiskan waktu untuk berdebat, mengapa selalu ada kesenjangan antara teori - praktik, das sein - das sollen. Kecerdasan sesungguhnya tidaklah diukur daripada pidato tanpa teks atau dengan teks, pidato adalah menyuguhkan teori-teori ideal-normatif, dan Tuhan tentu sangat membenci orang pandai berteori, tapi tak pandai bekerja (Qs. Ash Shaf: 3).

Setiap orang pasti memiliki cara, strategi dan taktik untuk terlihat piawai menata kata, punya tehnik dan metode menjual, agar terlihat menarik dan anggun bertindak. Dan itu bukan adab! Keluhuran budi atau akhlakul karimah menurut Imam al Ghazali, bukan lahir dari pikiran. Adab adalah tabi'at, kebiasaan yang melekat dan bergerak secara otomatis, bukan rekayasa akal. Setiap orang memiliki rekam jejak masa lalu, sebagai pangkalan komitmen masa depan.

Memaklumi bahwa tak ada yang tak pernah bersalah, maka sepantasnya kita mengagulkan diri sebagai orang yang paling suci. Sembunyikan aib saudaramu, maka Tuhan akan sembunyikan aibmu, sayangi makhluk di bumi, maka makhluk yang di langit akan menyanyangimu, begitu pesan suci agama.

Tentu berbeda, menyampaikan kritik dengan menyebarkan aib. Menyampaikan kritik masih memiliki peluang besar didasarkan atas cinta dan kasih sayang, tetapi menyebarkan aib, pastilah dilandasi kebencian dan dengki, sehingga terkesan mencari-cari kesalahan. Dan, pesan agama, terkhusus pesan untuk saling memberi nasihat dan menyeru kepada kebajikan selalu menganjurkan untuk mewajahkan agama yang rahmatan lil 'alamin.

Namun, dalam kehidupan politik pesan suci agama hanya dianggap kata-kata bijak. Dibiarkan berlalu ketika tak menguntungkan, dijadikan senjata untuk menyerang ketika bisa mengerdilkan lawan politik. Aib orang disebar merasa diri terbaik dan paling suci. Salah dan dosa dicari, ditelusuri. ditemukan, dirakit menjadi bom mematikan sebelum akhirnya diledakkan ke ruang publik.

Kini, seolah semua absah dalam politik. 'Dalihnya, jika saya tak melakukan itu, maka saya akan menjadi bulan-bulanan serangan dari kampanye negatif." Jadi, sebenarnya saya tak terlalu kaget, jika ada seolah seoarang calon legislatif 'main' handphone ketika sedang bertemu dengan warga, menjadi sasaran empuk  lawan-lawan politiknya, fotonya menjadi diskusi dan perbicangan seksi di media sosial.

Semua hal, akan menjadi diskusi dan perbincangan. Jarang ada politisi yang fokus dengan program-program unggulannya, berkonsentrasi untuk menjual skill dan kompetensi yang dimilikinya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Barangkali, semua sedang menerapkan strategi bahwa menyerang adalah strategi pertahanan terbaik bukan membalknya, bertahan adalah strategi menyerang yang paling baik.

Wajarjlah, kiranya Khalifah Ali bin Abi Thalib mewasiatkan bahwa 'jangan menjelaskan apa pun tentang dirimu kepada 'orang lain', karena orang yang membencimu tak akan menyukainya, orang yang membencimu tak akan mempercayainya.' Dalam politik, adagium tak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi,' bukanlah isapan jempol, bangunan politik kita sudah terlanjur dibangun di atas pondasi itu. Partai A musim ini bisa menjadi lawan, tetapi musim depan bisa menjadi kawan koalisi, calon A hari bisa menjadi pelampiasan caci-maki, namun esok bukan hal mustahil menjadi tumpahan puja-puji. Poltik tak mengenal konsistensi, bukan hanya berwajah dua tetapi banyak!

Bahkan, bukan hanya kesalahan-kesalahan yang berakses ke khlayak yang disoal, urusan privat dan sangat pribadi, mulai soal gaya yang gemulai, keshalihan, hingga urusan tietiet yang tak layak dibincangkan, pun dipermasalahkan. Kerennya, semua mengaku waras dan bernalar sehat, meski sehari-hari mereka membicangkan kewarasan dengan polah tak waras.

Orang bicara kesucian dan martabat dengan menghinakan dan merendahkan orang lain, bicara tolak politik uang sebagai kamuflase. Semua dibingkai dalam pigura kepentingan.

Lantas, kewarasan apa yang tersisa untuk publik! Tidak ada, selain Golput!

Golput tak memenangkan apapun, selain dari perlawanan. Melawan berlelah-lelah datang ke TPS, melawan menghabiskan waktu untuk memilih orang-orang yang hanya pandai memanipulasi citra diri, menjadi orang-orang peduli dadakan, orang-orang dermawan dadakan, orang yang dekat rakyat dadakan.

Golput adalah pilihan! Pilihan bagi mereka yang menolak tunduk pada rekayasa elit, menolak tunduk kepada kepalsuan!



0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post