Cinta



Cinta esensinya hanya ada dua, yaitu rahman dan rahim, kasih dan sayang.
Cinta tidak mengharap untuk memiliki, cinta tidak mengharap timbal balik, karena ia adalah ketulusan  mengasihi dan ketulusan menyayangi.

Ketika ada yang mengatakan kepada "aku cinta kamu", lalu atas nama cinta ia begitu menginginkanmu,  takut kehilanganmu, selalu  ingin bersamamu,  yakin dan percayalah bahwa itu adalah dusta, karena cinta tidaklah demikian. Cinta hanya mencurahkan kasih sayang yang tulus. Tak menginginkan apa-apa dan tak akan meminta apa pun.

Kebahagiaan  yang dicintai adalah puncak kepuasan hati. Orang yang mengaku mencintai seseorang, tetapi ia begitu berhasrat menguasai dan memiliki, maka itu bukan bagian dari pada sinta. Orang yang masih memendam api cemburu terhadap orang yang dicintainya, itu pun bukanlah cinta. Rasa cemburu menjadi noda, karena ia justru mempertegas bahwa sesungguhnya ia tidak mampu menerima kebahagiaan orang yang dicintainya. Cinta adalah ketulusan dari dalam hati, kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaannya.

Cinta tidak lagi memandang jenis kelamin, tidak pula gender sebagai batasan untuk mencinta, karena cinta tidak dibatasi oleh apapun.  Semua manusia harus saling mencintai baik laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan perempuan, dan sebaliknya.

Banyak orang masih terlalu rikuh dan merasa asing untuk mengatakan cinta kepada sesamanya dengan jenis kelamin yang sama,  karena pemahaman yang keliru tentang cinta. Ia merasa bawah ungkapan cinta hanyalah untuk lawan jenis , hanya untuk muda-mudi yang kasmaran, padahal itu salah, bahkan telah mengaburkan nilai-nilai cinta. Cinta seperti itu telah direduksi oleh pikiran-pikiran dikuasai dan dikendalikan nafsu.

Lihatlah cinta Abu Bakar Asshiddiq RA kepada Rasulullah SAW, cinta yang menjadi contoh bahwa seorang laki-laki tak hanya memiliki cinta untuk seorang perempuan. Bahkan dalam sebuah riwayat dilukiskan dengan indah, "seandainya semua penduduk bumi dikumpulkan lalu di timbang cintanya, maka tidak akan pernah mampu mengalahkan besarnya cinta Abubakar RA kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Begitupun sebaliknya, Rasulullah pun sangat mencintai Abubakar, dituturkan dalam sebuah riwayat, ‘Amr bin Al Ash RA bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa orang yang Engkau cintai, Ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Aisyah. Ia bertanya lagi: Kalau laki-laki? Beliau menjawab: Ayahnya Aisyah (Abu Bakar).” (HR. Muslim).

Sebuah praktik saling mencintai yang indah.

Risalah Islam pun menempatkan cinta pada posisi yang sangat mulia.  Cinta menjadi kesempurnaan iman. Dalam sebuah hadis ditegaskan :

"Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik RA, pembantu Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai  saudaranya sebagaimana ia  mecintai  dirinya sendiri." (Shahih Bukhari Hadits No. 13 dan Shahih Muslim Hadits No. 45).

Dalam tradisi Yunani, dikenal 3 (tiga) konsep dasar cinta; pertama, eros . Cinta yang berorientasi pada keromantisan, asrama dan fafsu; kedua, philia. Cinta yang berorientasi pada kasih sayang sahabat, keluarga; dan ketiga, agape. Cinta yang berorientasi pada Tuhan dan keluarga. Agape tidak mengharap timbal balik terhadap apa yang dicinta.

Buku Loan Words in Indonesian and Malay mencatat cinta  sebagai kata yang berasal dari bahasa Sansekerta, ‘Cint’ yang diartikan sebagai sebuah pikiran, kecemasan, kepedulian,  pertimbangan akan sesuatu. KBBI mengartikan cinta sebagai suka sekal ; sayang benar, kasih sekali; terpikat, ingin sekali; berharap sekali.

Tentu pengertian tersebut sangat material, kebendaan. Padahal cinta sesungguhnya melampui materi. Cinta tidak pernah melibatkan nafsu,  tetapi sebaliknya nafsu selalu melibatkan cinta. Cinta tak menginginkan pamrih, sedangkan nafsu selalu berpamrih, butuh pemuasan.

Cinta adalah ketertarikan hati pada hal-hal yang dianggap baik, indah, nikmat dan sempurna. Yakni, objek cinta adalah kebaikan, keindahan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesempurnaan. Sebaliknya, objek benci adalah keburukan, kesengsaraan, derita dan ketidaksempurnaan.

Sayyid Kamal Haidari, dalam bukunya Makrifatullah, mengatakan; cinta adalah akibat dari pengetahuan dan sebab dari kematian. Yakni, cinta lahir dari pengetahuan, dan cinta melahirkan kematian.

Ini benar, sebab manusia hanya mencintai apa yang diketahuinya sebagai kesempurnaan, kebaikan, kebahagiaan dan kenikmatan. Manusia rela mati demi meraih semua itu. Pun sebaliknya, manusia hanya membenci hal yang diketahuinya sebagai keburukan, penderitaan, kesengsaraan dan ketidaksempurnaan. Manusia juga rela mati demi menghindari semua itu.

Sesuatu yang hakikatnya baik, nikmat, bahagia dan kesempurnaan, tidak akan dicintai, bila manusia tak mengetahuinya. Begitu juga, sesuatu yang hakikatnya adalah keburukan, derita, kesengsaraan dan ketidaksempurnaan, tidak akan dibenci, bila manusia tak mengetahuinya.

Oleh karena itu, sebelum mencinta, penting untuk mendiagnosa mana kebaikan dan mana keburukan, mana kenikmatan dan mana kesengsaraan, mana kebahagiaan dan mana derita, mana kesempurnaan dan mana ketidaksempurnaan. Penting untuk meningkatkan kualitas pengetahuan.

Dan disinilah urgensi akal. Manusia harus menggunakan akalnya untuk mengetahui mana kesempurnaan substansial dan mana kesempurnaan aksidental; mana kebahagiaan abadi, dan mana kebahagiaan temporer; mana kenikmatan level rendah, dan mana kenikmatan level tinggi.

Jangan sampai, karena rendahnya pengetahuan dan liburnya akal, akhirnya kita mencintai dan rela mati dalam mengejar kenikmatan level rendah, kebahagiaan temporer dan kesempurnaan aksidental. Jika benar demikian, maka cinta kita adalah cinta buta; yaitu cinta yang tak dilandasi oleh cahaya akal.

Sebagai contoh; jika kita mencintai perempuan, lantaran kita mengetahui bahwa perempuan menawarkan kenikmatan fisikal, maka cinta kita kepadanya adalah cinta pada kenikmatan level rendah, cinta emosional.  Dan, bila kita mencintainya karena kita tahu bahwa dia menawarkan kenikmatan pengetahuan, maka cinta kita kepadanya adalah cinta pada kenikmatan level tinggi, cinta rasional.

Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau membenci manusia yang berilmu, hanya karena dia berparas buruk. Jangan jadikan kenikmatan level rendah, sebagai neraca mencinta, sebab itu disebut nafsu.

Pada tataran yang lebih tinggi, nafsu adalah segala bentuk cinta transaksional. Dengan kata lain, nafsu adalah engkau mencintai dengan harapan beroleh sesuatu darinya, baik itu kenikmatan level tinggi maupun kenikmatan level rendah. Sebab ujung dari cinta transaksional adalah diri.

Cinta yang tersucikan dari nafsu adalah cinta murni, yaitu cinta yang melenyapkan wujud pecinta, dan yang tersisa adalah wujud kekasih. Ujung dari cinta murni adalah kekasih dan kehendak kekasih, sebab diri dan kehendak diri telah meniada. Seperti kisah budak yang dikisahkan Fariduddin Attar berikut;

Alkisah seorang Raja membeli seorang budak. Kepada budak barunya, Sang Raja bertanya;

Nama kamu siapa?
Namaku adalah apa yang tuan panggilkan kepadaku.

Makanan kamu apa?
Makananku adalah apa yang tuan berikan kepadaku.

Pakaian kamu apa?
Pakaianku adalah apa yang tuan pakaikan kepadaku

Apa keinginanmu?
Keinginanku adalah apa yang tuan inginkan.

Lihatlah, cinta murni adalah level hamba. Dan hamba adalah dia yang tak memiliki kehendak di hadapan maulanya.
Atau seperti kisah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila. Pintu tak akan terbuka, Majnun tak akan diizinkan masuk, selama Majnun masih mendaku. Berikut kisahnya;

Suatu ketika Majnun mengetuk pintu rumah Laila.
Laila bertanya; siapa di luar?
Aku, jawab Majnun.
Laila berkata; pergi dan datanglah esok hari lagi.

Keesokan harinya, Majnun kembali datang, mengetuk pintu rumah Laila.
Siapa di luar? Tanya Laila.
Aku, jawab Majnun.
Lagi-lagi Laila menyuruh Majnun pulang, dan mempersilahkannya datang esok lagi.

Berhari-hari hal ini terulang. Majnun tak pernah diizinkan masuk ke rumah Laila.
Hingga di suatu hari, Majnun datang lagi dan mengetuk pintu.

Siapa diluar, tanya Laila.
'Engkau', jawab Majnun.
Masuklah, jawab Laila kemudian.

Yah, cinta murni adalah level Majnun, level kematian, pecinta kehilangan eksistensinya di hadapan eksistensi kekasihnya.

Walhasil, cinta tanpa nafsu adalah ketika engkau mencintai kekasihmu tanpa mengharap sesuatu darinya. Engkau mencintainya, karena engkau menemukan dirinya memang layak untuk dicinta, engkau menghamba kepadanya, karena engkau menemukan dirinya memang layak untuk dipertuhan.

Cinta murni juga mesti dinaungi oleh cahaya akal. Dengan begitu, diri tidak terjebak pada wujud terbatas, diri akan terarahkan pada kekasih sejati, wujud nirbatas. Sebab tak ada wujud yang paling layak dicinta dan dipertuhan, kecuali Dia yang paling sempurna dari yang sempurna. Tak ada kekasih yang paling layak dijadikan kekasih, kecuali Dia yang paling pengasih di antara yang pengasih.

Apalah artinya menggila dan rela mati dalam cinta, bila yang digilai adalah wujud terbatas. Gilailah Dia sang wujud nirbatas, seperti Majnun meggilai Laila.




Disarikan dari diskusi Grup WA Lyceum Phylosophia


0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post