Widget HTML Atas

Gerak


 Faidza faraghta, fanshab! (Apabila telah selesai dari satu urusan, maka segeralah beralih mengerjakan urusan lain) (Qs. al-Insyirah: 7)

Gerak menurut KBBI adalah peralihan tempat atau kedudukan, baik hanya sekali maupun berkali-kali. Bergerak adalah berpindah dari tempat atau kedudukan (tidak diam saja).  Menurut Mulla Shadra, gerak adalah kodrat alam. Tak ada satupun entitas alam materi yang tetap, tanpa gerak. Shadra menyebutnya sebagai al harakah al jauhariyyah (gerak substansial).

Gerak adalah potensialitas menuju aktualitas, berubahnya wujud potensi menjadi wujud aktual. Janin misalnya, adalah wujud potensi yang kemungkinan bergerak menuju wujud aktual manusia. Walhasil, konsep gerak terabstraksi dari komparasi antara dua wujud; wujud potensi dan wujud aktual.

Apabila wujud potensi lebih sempurna dari wujud aktual, maka gerak disebut dengan gerak menurun. Apabila wujud potensi setara dengan wujud aktual, disebut dengan gerak setara. Dan apabila wujud aktual lebih sempurna dari wujud potensi, maka gerak dinamakan gerak menyempurna.

Dengan ini, tidak semua gerak itu menyempurna. Adakalanya gerak setara, seperti bergeraknya air menuju uap. Kita tak tahu, mana yang lebih sempurna, wujud potensi (air) atau wujud aktual (uap). Pun juga, ketika apel mulai membusuk, terjadi gerak menurun; sebab, ada kesempurnaan wujud potensi (kesegaran apel) yang tidak dimiliki oleh wujud aktual (apel yang membusuk).

Benar, perjalanan benda menuju tetumbuhan, hewan dan berakhir manusia, adalah gerak menyempurna. Yakni, wujud aktualitas akhir (manusia), di samping kesempurnaan khusus kemanusiaan, ia juga memiliki semua kesempurnaan benda, hewan dan tumbuhan. Itulah mengapa manusia disebut dengan; benda tumbuh dan berkembang serta hewan yang berpikir (jismu namin, hassasun mutaharrik bil irodah, nathiq).

Pun juga, berpindahnya jiwa manusia dari alam materi ke alam immateri (akhirat), disebut juga gerak menyempurna. Sebab level alam akhirat lebih sempurna dari level alam materi.

Namun demikian, kesempurnaan tersebut adalah kesempurnaan level eksistensi, bukan kesempurnaan level jiwa. Gerak jiwa tak selamanya menyempurna, betapapun ia telah berada dalam level eksistensi yang lebih sempurna, yaitu alam akhirat. Sebab, gerak jiwa mengikuti gerak pikiran dan perbuatan manusia.

Taujih ilahiyah dalam penggalan pendek di atas, agar segera beralih pada aktivitas lain setelah menyelesaikan sebuah aktivitas merupakan seruan fitrah, kodrat dasar manusia. Tuhan menghendaki segala ruang potensi menjadi ruang aktual yang menyempurna.
Bukan berarti gerak meniadakan istirahat, karena sejatinya istirahat juga adalah gerak, rekreasi juga adalah gerak. Maka ada banyak istilah, soal istirahat dan rekreasi. Membaca adalah rekreasinya pecinta buku, berlama-lama dalam ibadah adalah rekreasinya kaum sufi.

Bahkan libur, yang diasumsikan sebagai tidak bekerja, juga adalah gerak.

Agama, menghendaki setiap ruang tak hampa nilai, ia meniscayakan gerak seolah meniadakan jeda. Padahal, sesungguhnya jeda juga adalah gerak, gerak yang bernilai ibadah, gerak yang menyempurna, gerak yang menghendaki adanya kenaikan level, bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok harus jauh lebih baik dari hari ini.

Maka, berdiam diri sama halnya kematian, tak senang berlomba dalam kebajikan adalah kematian, kematian sebelum mati.

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Gerak"