Widget HTML Atas

Ke Mana Engkau Hendak?


Detak, detik, berdenting.

Tahun-tahun melaju dan terus berjalan, kehidupan berlalu begitu cepat. Namun, kehidupan bukan persoalan waktu dan jarak, bukan pula persoalan seberapa lama dan seberapa jauh menapaki hidup. Kehidupan adalah persoalan ke mana dan bagaimana melangkah.

Alih-alih paham hendak ke mana dan bagaimana melangkah, sementara tujuan hidup belum jua diketahui. Ke mana dan bagaimana melangkah? Akankah setiap langkah mendekatkan diri pada kesempurnaan, atau justru semakin menambah jarak?

Kita bukanlah penentu tujuan hidup, bukan pula penentu hakikat kesempurnaan. Tugas kita hanyalah menyingkap tujuan hidup yang ditetapkan Sang Pemberi Hidup. Tugas kita hanyalah menyingkap hakikat kesempurnaan, sebagai manusia dan sebagai hamba Tuhan. Lalu, susuri jalan kehidupan itu, bergerak dan menyempurnalah.

Beribu kilo kita tapaki jalan bising di luar diri, tak akan berarti bila tak kita ayunkan langkah, walau selangkah menyusuri jalan hening dalam diri.

Berpuluh tahun melalui desa ke kota, kota ke negara, semua percuma bila tak kau lalui walau sehari, stasiun demi stasiun menuju istana Cinta. Tuhan berisyarat: "Berjalanlah di muka bumi, dan lihatlah bagaimana akibat-akibat yang timbul dari mereka yang mendustakan kebenaran,"  atau "janganlah kamu berjalan di muka dengan angkuh!"

Sungguh merugi mereka yang sadar akan gerak raga, namun lalai akan gerak jiwa; pada cahayakah ia menatap, atau pada kegelapan ia tenggelam. Barang siapa yang menyadari gerak jiwanya, akan tertata gerak raganya.

Semula kita adalah manusia potensi (yumkinul wujud). Tahukah kau apa manusia potensi itu? Yaitu hewan aktual. Yang hanya tahu makan minum, kawin, lalu tidur.

Kini dan selamanya kita adalah manusia potensi, bila tak bersedia menyusuri jalan aktualisasi. Tapi, bagaimana mungkin kita susuri jalan itu? Sementara aktualitas manusia tak jua kita tahu.

Manusia aktual adalah manusia rasional. Manusia yang bergerak dan memilih atas dasar akal, bukan atas dasar indera, bukan pula delusi (wahmi).

Apabila kita bergerak menuju fatamorgana, maka kita adalah manusia inderawi. Apabila kita lebih takut tidur sekamar dengan orang mati ketimbang dengan orang hidup, maka kita adalah manusia delutif.

Gerak rasional adalah gerak harmonisasi. Bertindak harmonis pada setiap yang eksis, bahkan pada mereka yang eksploitatif. Gerak rasional adalah gerak cinta. Tebarkan cinta pada setiap yang ada, bahkan pada mereka yang membenci.

Pilihan rasional adalah pilihan substansial. Korbankan kesempurnaan aksidental demi kesempurnaan substansial.

Pilihan rasional adalah pilihan jiwa. Hancurkan raga, lepaskan perkara duniawi demi kesempurnaan jiwa, meraih nilai maknawi.

Lantas kemana kita akan kembali? Sementara kita tak tahu kampung abadi. Bagaimana kita akan tahu kampung abadi, sedang kita tak tahu hakikat diri.

Kita tak akan bergerak menuju samudera, kecuali kita telah merasa bak setetes air di sahara. Kita tak akan kembali pulang pada sang rumpun, kecuali kita telah merasa bak seruling bambu, terasing dalam kesendirian. Kita tak akan bersandar pada Yang Maha Kaya, selama kita tak sadari bahwa kita adalah maha papa, maha fakir. Bagaimana mungkin kita hendak menuju Yang Abadi, ketika kita tak pernah menginsyafi kefanaan diri.

Ungkapan bijak, man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu. Salah mempersepsikan diri, salah mengenali diri, membuat kekeliruan atas segala-galanya.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." 


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Ke Mana Engkau Hendak?"