Widget HTML Atas

Tumbal Liberalisme



Di ruang publik, kita disuguhi kebenaran yang semakin samar. Simbol-simbol kebajikan dimainkan secara apik, sehingga mengesankan kesalehan. Untuk terkesan baik, orang cukup setiap hari memosting ayat suci dan hadis, ungkapan-ungkapan bijak para filsuf. Memanjangkan jenggot, berpeci dan menggunakan gamis.

Tak perlu nyantri bertahun-tahun, belajar bahasa Arab, Nahwu dan Sharaf, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan Ushul Fiqih, cukup menghapal beberapa potong ayat dan terjemahannya, sudah bisa ceramah dan khutbah. Sudah menjadi ustadz, meski membaca ayat masih sangat payah, (bahkan) sudah bisa menyesatkan dan mengkafirkan orang lain.

***

Kita bisa saja menolak, bahwa kebenaran semu yang dipeluk banyak orang hari ini adalah bagian tak terpisah dari liberalisme. Namun, faktanya liberalismelah yang menanamkan prinsip-prinsip menolak kebenaran universal, mengutamakan nihilisme, narsisme, skeptisisme dan post-modernisme, telah berhasil membranding realitas dan kebenaran sebagai persepsi yang terikat pada perspektif dan interpretasi individu.

Liberalisme sebagai anak ideologis dari kapitalisme, telah berhasil membuka pasar bebas yang menjadi pusat perkulakan post-truth.  Subyektivisme dan hermeunetik menjadi 'alat' yang dijual grosiran untuk menafsir realitas dan kebenaran, yang anehnya meski ditolak oleh beberapa kelompok, namun tetap digunakan secara parsial, sehingga sukses melahirkan truth-claim, kebenaran yang didaku berdasarkan perspektif dan tafsir golongan masing-masing.

Para agensi liberalisme ini adalah oknum-oknum dengan gelar akademis berderet dan biasanya bercokol di kampus, sebagiannya lagi ada oknum ulama dan elit agama. Mereka bekerja mengkultivasi subyektivitas, skeptisisme, nihilisme dengan asumsi-asumsi filosofis untuk mendelegitimasi kerja-kerja ilmiah dengan cara-cara 'seakan-akan' ilmiah.

Auguste Comte (1830-1842) sebagai salah satu kiblat pemikir post-modernisme - begitu sebagian kelompok penganut liberalisme ini mengidentifikasi dirinya -, menarasikan soal tahap sejarah intelektual umat manusia yang kemudian dikenal dengan hukum tiga tahap, tahap ketiga disebut sebagai akhir dari intelektual kehidupan manusia.

Comte menyebut bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan sosial. Kekacauan ini berasal dai sistem gagasan terdahulu (teologi dan metafisik) yang terus ada dalam era positif (ilmiah). Pergolakan sosial baru akan berakhir apabila kehidupan masyarakat sepenuhnya dikendalikan oleh positivisme. Intinya, menurut Comte, sejarah manusia secara evolutif akan melalui tiga tahap; teologis, metafisik dan positivistik.

Masa teologis dan metafisik adalah periode di mana nuansa perilaku dan pemikiran manusia masih terikat dengan norma, sistem kepercayaan, cara pandang masyarakat yang terbatas. Sementara tahap ketiga yaitu positivistik, ditandai dengan perubahan total pada semua aspek kehidupan masyarakat, terjadi dinamisasi pola berfikir yang maju dan progresif. Cara pandang positivisme ini disinyalir dan diklaim menjadi landasan berpikir rasional, pasti dan terukur.

Klaim sebagai landasan berpikir rasional dan terukur dengan mencela doktrin teologis dan mistisisme, menjadikan kelompok positivistik ini tidak memiliki kerangka moral dan kebajikan universal sebagai acuan bersama. Asumsi-asumsi filosofislah yang menjadi dasar pijakan operasionalnya, sehingga terkadang secara gegabah kesimpulannya justeru mewajah dalam bentuk post-truth, berkaki fake-news dan hoax. Instrumen ilmiah yang digunakan tak jarang dijadikan alat untuk mendelegitimasi hasil kerja ilmiah lainnya yang dianggap merugikan

Kaum positivistik yang menuding fase teologis dan metafisik sebagai penyebab kekacauan, menjadikannya bekerja tanpa mengindahkan potensi kemanusiaan lainnya, yakni hati! Hal inilah, yang disindir Maulana Jalaluddin Rumi; "Engkau memiliki dua sayap [akal dan qolbu], tapi mengapa engkau hanya merangkak di bumi [yakni mencukupkan diri pada indera]?"

Maka, dalam penampilan lain, pemeluk positivisme seperti Jean Baudrillard (1929-2007) yang kemudian didaulat sebagai pemikir post-strukturalisme, dengan setengah bingung membaca realitas yang semu, memperkenalkan konsep dunia simulasi. Beragam tampilan bercitra indah dihadirkan di pentas, seolah nyata tetapi sejatinya sarat rekayasa.

Baudrillard seakan-akan hendak berteriak, 'mana kebenaran yang benar?" Ia kemudian menuding bahwa kita tengah meninggalkan ‘realitas’ dan sedang dalam perjalanan memasuki ‘hyperreality’; suatu tempat di mana kita bisa bersembunyi dari ilusi yang kita takutkan. Baudrillard menganggap pemikiran tradisional dan ilmiah telah mengganti realitas dengan ilusi tentang kebenaran. Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sungguh, "sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu", ujar pemikir posmodern asal Prancis itu.

Benar, baik dan bermanfaat, bagi kelompok post-modernis, adalah nilai yang masih terus menjadi diskursus. Post-modern, selalu menganggap suatu fakta yang teramati—fakta objektif (teks), harus terus berusaha dimerdekakan dari pengaruh apa pun yang boleh jadi menempatkannya dalam jebakan-jebakan simulakrais. Mereka akhirnya menarik kesimpulan teks tetap ada pada dirinya sendiri. Kesimpulan nihilisme yang sungguh membingungkan, dan akhirnya memaksa mereka kembali tunduk dan dengan  malu-malu mengakui bahwa teks adalah ‘kebenaran’ yang teramati.

Tak heran, Comte kemudian gagal mendefinisikan kebenaran dalam praktik kehidupannya, dia nyaris bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai Saine pada tahun 1827, karena mengalami defresi dan gangguan mental akibat krisis hubungan dengan Carolline Massin, pasangannya. Comte terlalu mendewakan nalarnya, sehingga gagal mendayakan nuraninya.

Memang, sampai kapan pun, mengandalkan nalar untuk menghadirkan kenyamanan dan ketenangan tidak akan pernah berhasil. Naif, jika menganggap bahwa alam ini hanya terdiri dari materi, fisika dan menisbikan hal-hal yang immateri, metafisik. Memastikan kebenaran, kebaikan dan kebermanfaatan sesuatu, memang perlu, untuk menjadi 'tahap uji' dalam rangka merespon segala hal baru. Apakah benar, baik dan berguna? Namun, kebenaran, kebaikan dan kebermanfaan tak bisa selamanya menjadi diskursus, ia harus dikerjakan, dilakukan!

Mengakhiri tulisan ini, saya hendak mengutip pernyataan George Orwell "In time of universal deceit, telling the truth will be a revolutionary act," maka berpikirlah dengan akal, bertindaklah dengan hati, seperti ungkapan Rumi, bukankah kita bisa melampui materi, karena kita punya akal dan hati?



Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Tumbal Liberalisme"