Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2019

Kufur

Kiwari, sedang tren sesat-menyesatkan dan kafir-mengkafirkan di kalangan umat Islam. Tak sejalan dengan golongan dan mazhab, memiliki larik pemikiran berbeda, berjatuhanlah vonis. Saya, tak urung berkali-kali suruh bertobat, bergaul dengan orang salih, dan kembali ke jalan yang benar, karena selama ini telah dianggap jauh tersesat. Analisisnya sederhana, saya menolak sakralisasi mushaf terlebih tokoh, tak tertarik dengan festivalisasi simbol keagamaan, dan terakhir tak mendukung gerakan aksi berjilid-jilid yang menyesuaikan momentum politik itu. Sebagai orang yang pernah mencicipi dunia pesantren, saya tak pernah merasa keberatan dituding sesat, munafik bahkan kafir sekali pun. Saya mengerti, sesungguhnya kekafiran, kemunafikan dan kesesasatan tak bergantung di ujung telunjuk si penuding. Apalagi,   jika si penuding hanyalah salah seorang dari banyak orang yang memiliki gairah keagamaan sangat besar melebihi besar pengetahuannya, maka sungguh ia adalah orang yang sepatutnya

Lafran Pane: Merawat Kesejatian

Charles Louis Alphone Laveran, seorang dokter dari Perancis yang bertugas di Aljazair, memenangi Nobel tahun 1907 karena jasanya menemukan parasit di darah penderita malaria. Temuannya ini, pil kina dan obat malaria lainnya ditemukan. Karena temuannya ini, jutaan orang, termasuk orang-orang di Sipirok bisa sembuh dari sakit malaria. Begitulah kira-kira alasan Sutan Pangarubaan, memberi nama bayi yang lahir di kaki Gunung Sibualbuali Sipirok, 5 Februari 1922 itu, Lafran Pane. Lafran Pane lahir dalam kondisi Omak -nya, Gonto Siregar sakit-sakitan, setelah sepeninggal kakaknya Siti Zahara yang mati muda. Kondisi Gonto yang kurang sehat itu menyebabkan Lafran kecil tak mendapatkan air susu memadai, dan lebih menyedihkan lagi omaknya harus berpulang ketika usianya masih 2 tahun dan ayahnya harus kembali meninggalkannya, pergi ke Panyabungan, mendidik warga kampung, sebagai guru maupun sebagai aktivis organisasi. Terlahir sebagai piatu dan jauh dari pengasuhan ayah, membuat Laf

Kecewa

Menurut Kho Ping Hoo , kekecewaan itu lahir dari sikap mengasihi diri sendiri secara berlebihan, memiliki harapan terlampau tinggi yang melampui realitas. Untuk itu, di hampir semua serial cerita yang ditulisnya, ia selalu menyarankan agar jangan pernah mengikatkan hati pada apa pun, “sekali hatimu terikat atau melekat pada sesuatu, berarti engkau telah membebani dirimu sendiri, dan duka mulai membayangimu,” petuah bijaknya. Tentu, tak terlarang memiliki harapan. Namun, tak boleh melekatkan dan mengikatkan harapan itu pada sesuatu. Tak boleh mengikat atau menggantungkan harapan itu secara absolut. Ruang yang tersedia bagi manusia adalah berusaha maksimal, bukan memaksa keadaan untuk mengikuti selera dan keinginannya. Kekecawaan juga lahir dari pamrih. Dan, kebaikan yang diaku sebagai kebaikan oleh pelakunya adalah pamrih, karena ketika ia berbuat baik atau menyarankan kebaikan, pastilah ia menginginkan diakui baik dan berharap orang yang diberi saran melakukan kebaikan ya

Pygmalion

Di Ramadan tahun lalu, aku pernah merasa jengkel dengan sikap beberapa anak jalanan yang datang ke Masjid Taqwa. Mereka biasanya datang menjelang berbuka dan setelah salat subuh. Makan dan menumpang tidur di masjid. Sebenarnya kekesalanku dilatari banyak hal, selain aku tahu mereka tidak berpuasa, mereka juga sangat jorok dan tidak bisa menjaga kebersihan masjid. Selepas makan, butir nasi dan bungkusnya dengan tanpa merasa berdosa mereka tinggalkan begitu saja, berserakan di teras masjid, belum lagi sisa air minum yang tumpah. Begitu pun ketika menumpang tidur, masuk masjid tanpa membersihlan kaki terlebih dahulu, menyisakan bekas tapak kaki mereka yang tanpa alas di karpet masjid, belum lagi bau badan mereka yang tertinggal. Beruntung, marbot masjid rutin membersihkannya dengan vacuum cleaner dan menyemprotkan pewangi setiap pagi, setelah mereka pergi. Hingga di suatu kesempatan menjelang akhir Ramadan, aku tak bisa lagi menahan kekesalan itu. Usai salat magrib ak

Vitaliteit

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it," tulis Paulo Coelho dalam novel The Alchemist. Novel tersebut bercerita tentang perjalanan seorang pemuda heroik, mewujudkan mimpi-mimpinya, mencari harta karun, hingga ia bertemu sang Alkemis yang mengajarinya hal-hal baru, dan menemaninya dalam pengejaran mimpi-mimpi tersebut.  Mimpi adalah daya rangsang atau antusiasme untuk tetap memiliki tenaga hidup, yang disebut oleh Chairil Anwar sebaga vitaliteit, kehendak menggugah, chaotisch voorstadium, muncul sebelum keindahan. “ Aku ingin hidup 1000 tahun lagi!” teriak Chairil Anwar . Dalam film Cast Away yang diangkat dari kisah nyata, menyuratkan betapa pentingnya mimpi sebagai daya rangsang, tenaga untuk bertahan hidup. Film yang menceritakan tentang seorang eksekutif muda di perusahaan jasa Federal Express , Chuck Noland (Tom Hanks), harus menjalani kehidupan terasing di sebuah pulau dan bertahan hidup sendirian selama 4 tahun, setel

Surga

Kecenderungan manusia itu malu, bila diidentikkan dengan hal-hal buruk, jahat dan penuh cela. Oleh karenanya, banyak yang memodifikasi penampilannya agar terkesan baik. Di antara mereka, ada yang bahkan menahbiskan diri sebagai ahli surga atau pemegang kunci surga. Intinya, semua mereka ingin baik atau minimal terlihat baik dan setelah mati, masuk surga. Salah? Tentu saja, tidak! Tidak ada yang keliru dengan kegandrungan baik atau terkesan baik, sama seperti juga keinginan untuk masuk surga, membangun jaringan, koneksi hingga menempatkan ‘orang dalam’ di surga. Toh , itu soal otonomi diri, pengakuan alias klaim sendiri-sendiri. Persepsi tentang surga itu macam-macam. (Barangkali) yang tak boleh adalah mempersepsikan surga secara keliru. Seperti sepotong ceramah komedi, dari seorang yang memodifikasi diri menjadi ustaz dalam sebuah acara televisi, bahwa surga itu bebas minum-minuman keras dan pesta seks. Ustaz hasil modifikasi ini, bisa jadi sering membayangkan so

Kenangan

Setiap kita pasti punya masa lalu. Berdiam di satu tempat atau melewati jalan. Membersamai, meninggalkan atau ditinggalkan. Masa lalu itu adalah kenangan, abadi dalam ingatan. Barangkali seorang teman dengan enteng berkata, “lupakanlah, itu hanya masa lalu!” Namun, kenyataannya menghapus kenangan tak seringan kata-kata itu. Keluarga Wiji Thukul, anak dan istrinya tak mungkin bisa menghapus ingatan dan kenangan mereka tentang Wiji Thukul, meskipun (mungkin) mereka telah memaafkan orang-orang yang menculik, menyiksa dan menghilangkan orang tua dan suami mereka itu. Serupa jawaban mendiang Gus Dur, “memaafkan sih iya, tetapi melupakan sih enggak,” ketika ditanya oleh Andi F. Noya dalam sebuah kesempatan di acara Kick Andy. Jawaban jujur dan manusiawi. Kenangan muncul tiba-tiba tanpa bisa dicegah, kita suka atau tidak. Entah tentang elegi kehidupan masa lalu atau komedi, hitam maupun putih, baik maupun buruk, gelap atau terang. Alquran juga memberi isyarat pentingny

Diri

Melupakan Tuhan sejatinya adalah melupakan diri sendiri. Seringkali menemukan kesalahan orang lain dan menyalahkan, hakikatnya juga karena lupa kesalahan diri sendiri. Maka, ujar bijak 'barang siapa mengenali dirinya sendiri dengan baik, pastilah ia akan mampu mengenali Tuhannya dengan baik," atau 'barang siapa disibukkan mengoreksi dirinya, tak akan pernah memiliki waktu menyibukkan diri dengan menghitung-hitung kesalahan orang lain'. Namun, bukan berarti menyibukkan diri untuk mengoreksi dan menghitung-hitung kesalahan diri sendiri mengafirmasi sikap cuek, bahwa kita tak boleh mengoreksi dan menasihati orang lain. Sebagai makhluk sosial, yang memiliki sifat kasih dan peduli meniscayakan kita untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama dan makhluk semesta di sekitar kita. Tuhan pun tentu tak menginginkan kita menjadi manusia bisu, yang tuna sosial. Dalam term teologis, mengoreksi kesalahan orang lain selalu harus didahului dengan upaya mengor

MiChat; Sisi Gelap Dunia Maya

Awalnya, aku tak sengaja meng install aplikasi ini. Bermula dari sebuah pesan masuk, mengaku sebagai teman lama, mengajak bertemu teman-teman lama dengan mengunduh aplikasi MiChat. Singkat kata, MiChat terpasang. Pesan pertama yang muncul adalah 'Pesan dalam Botol', selanjutnya perhatianku tertuju pada pencarian teman di sekitar. Beberapa orang sengaja ku kirimkan pesan, namun tak ada balasan. Teman pun tak  bertambah, selain teman-teman yang langsung terhubung dengan kontak yang tersedia. Tak paham cara menggunakannya, belum lagi beberapa singkatan dan beberapa 'status' yang agak fulgar, sementara MiChat tak aku gunakan. Hingga akhirnya, aku bertemu seorang kawan, sebut saja Gilang (bukan nama sebenarnya), yang menjelaskan secara detail tentang MiChat. MiChat initinya adalah aplikasi chatting seperti WhatsApp, tapi memiliki sejumlah fitur unik yang tak ada dalam aplikasi WhatsApp. Di MiChat kita tidak bisa langsung chat sebelum mendapatkan persetujuan