Skip to main content

Diri


Mengenali Diri

Melupakan Tuhan sejatinya adalah melupakan diri sendiri. Seringkali menemukan kesalahan orang lain dan menyalahkan, hakikatnya juga karena lupa kesalahan diri sendiri. Maka, ujar bijak 'barang siapa mengenali dirinya sendiri dengan baik, pastilah ia akan mampu mengenali Tuhannya dengan baik," atau 'barang siapa disibukkan mengoreksi dirinya, tak akan pernah memiliki waktu menyibukkan diri dengan menghitung-hitung kesalahan orang lain'.

Namun, bukan berarti menyibukkan diri untuk mengoreksi dan menghitung-hitung kesalahan diri sendiri mengafirmasi sikap cuek, bahwa kita tak boleh mengoreksi dan menasihati orang lain.

Sebagai makhluk sosial, yang memiliki sifat kasih dan peduli meniscayakan kita untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama dan makhluk semesta di sekitar kita. Tuhan pun tentu tak menginginkan kita menjadi manusia bisu, yang tuna sosial.

Dalam term teologis, mengoreksi kesalahan orang lain selalu harus didahului dengan upaya mengoreksi diri sendiri (hasibuu qabla antuhasibu), koreksi atau nasihat harus dibangun kokoh di atas pondasi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang (tawashau bil haq, tawashau bil shabr, tawashau bil marhamah).

Pondasi kebenaran sebagai pijakan kritik mengharuskan kita untuk bisa mengenali kebenaran dengan baik. Semisal, ketika kita menasihati orang lain untuk tidak berbuat dzalim, haruslah didahului dengan pemahaman tentang konsepsi kedzaliman secara baik, benar dan komprehensif. Jangan sampai semangat melihat kedzaliman setitik pada diri orang lain, mengaburkan kesadaran sikap dzalim segunung yang menempel pada diri sendiri.

Ada banyak praktik kritik dilontarkan menggebu-gebu yang abai pada diri sendiri, sehingga kritik dan nasihatnya terlihat lucu. Alih-alih diterima dan dijalankan orang yang dinasihati, justru nasihatnya jadi bahan tertawaan dan lelucon.

Menasihati orang lain agar tak pelit, jangan makan riba, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita senang menumpuk materi, memonopoli dan memeras keringat orang lain untuk kekayaan pribadi. Menasihati orang lain agar tidak dzalim, praktiknya kita sedang melakukan kedzaliman sistemik dan masif, menggerus hak orang lain untuk bebas menikmati udara dan air yang bersih, mendirikan perusahan dengan limbah dan polusi yang berpotensi mengancam kehidupan di pemukiman warga padat penduduk. Atas praktik jarkoni (berujar tak melakoni) seperti itu, Alquran mengingatkan tentang besarnya kebencian Tuhan (kabura maqtan 'indallahi an taquluu ma la taf'aluun).

Maka, di titik itu sangat penting untuk memahami secara detail kata dan laku secara benar. Nasihat yang benar, harus diawali dengan konsepsi yang benar, niat yang benar, kata dan sikap yang benar.

Ketika orang memberikan respon negatif terhadap nasihat atau kritik kita, harus disikapi dengan kesabaran sebagai pondasi kedua dari bangunan nasihat itu. Bersabar atau bertahan dengan ulet dan tekun (bukan meninggalkannya). Kesabaran itu bisa ditempuh dengan beragam cara, termasuk mengoreksi metode dan melakukan evaluasi apakah nasihat yang disampaikan itu, benar-benar layak menjadi nasihat, mengapa orang lain sampai menolak nasihat itu, mengoreksi diri sebagai pemberi nasihat. Evaluasi itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran, dan tidak boleh terburu-buru memvonis yang dinasihati bebal atau mati hatinya.

Nasihat atau kritik harus disampaikan dalam rangka berkasih sayang (bi al marhamah). Logikanya, tak mungkin mampu menyayangi orang lain, jika gagal menyayangi diri sendiri. Mengharapkan orang lain untuk tercegah dari mudharat, kebinasaan atau kecelakaan tetapi membiarkan diri berkubang mudharat, salah satu laku komedi, yang layak ditertawakan.

Abai untuk memahami kebenaran, memotret diri dan menghitung-hitung kesalahan sendiri akan melabuhkan kita pada sikap dan sifat lupa diri, jumawa dan merasa benar dan baik sendiri, sifat yang menjadi tabiat iblis. Sifat dan sikap yang akhirnya senang dengan keterpurukan orang lain. Nasihat atau kritik hanyalah 'kedok' untuk mem-bully dan menjatuhkan orang lain, karena tidak dibangun di atas konsepsi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

Ala kulli hal, kenali diri dengan baik.

Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum