E-Book: Kosmologi Islam dan Dunia Modern


E-Book: Kosmologi Islam dan Dunia Modern

Di dalam agama Islam sebenarnya banyak paham tentang kosmologi ini, diantaranya adalah kosmologi masysyai (peripatetik) yang dikembangkan oleh Al kindi dan Al Farabi, dan mencapai puncaknya melalui Ibn Sinna. Orang barat menyebutnya “filsafat Wujud”. Ada kosmologi syiah Ismailiyah ini populer dengan dunia korpus Jabir, Ikhwan al Safa populer dengan nuansa Phytagoras, korelasi kosmologi ini berhubungan dengan siklus kenabian dan imamah (keimaman). Terakhir, ada juga yang dikelompokkan dengan kosmologi sufi, diantaranya adalah Muhyi Al din Ibnu Arabi, yang mengintegrasikan unsur-unsur Hermeneutik, Phytagorean dan Neoplatonik ke dalam ajaran-ajaran yang bersumber pada makna Al Quran.

Firman Allah :
” Kami tidak menurunkan Al Quran kepadamu agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah). Al Quran diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit-langit yang tinggi, yaitu (Tuhan) Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Singgasana (al Arsy). Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit dan di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah .
(QS. At Thaha [20]: 2-6)

Ibn Arabi dalam tulisan-tulisannya, ilmu dan nama-nama serta sifat-sifat Allah (al Asma Wa al Shifat) berfungsi sebagai landasan bagi elaborasi ilmu kosmos, betapa keseluruhan sifat kosmos ini merupakan gema dari berbagai nama dan sifat Allah dan betapa masing-masing tingkat eksistensi kosmis itu sendiri adalah kehadiran Ilahi (al hadarat al illahiyat al khams) yang bermula dari Dzat Allah, melalui alam nama-nama alam dan sifat-sifat (al Lahut), alam malaikat utama (al Jabarut), alam malaikat lebih rendah dan subtil (al malakut) dan alam-alam materi (al Mulk).

Ibn Arabi menjelaskan tingkatan-tingkatan realitas kosmis berdasarkan ajarannya yang terkenal “Wahdat Al Wujud” (kesatuan wujud yang transenden), yang menyatakan bahwa sesungguhnya hanya satu realitas wujud, satu realitas, dan semua yang lain hanyalah refleksi dari nama-nama dan sifat-sifat Allah di atas cermin noneksistensi.

Pengikut ajaran Ibn Arabi ini diantaranya Shadr Al Din Al Qunawi, Abd Al Karim Al Jilli, dan Sayid Haidar Al Amuli. Di Indonesia juga ada yang sepaham dengan ini yaitu Syeikh Siti Jenar. Hal tersebut bisa dilacak dala kitab Wirid Hidayat Jati/Serat Centini-nya Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Makna spiritual dari kosmologi Islam adalah memberikan pengetahuan tentang kosmos, memahami keburaman realitas kosmos menjadi transparan, dari tirai menuju sarana penyingkapan realitas Ilahi, yang diselubungi dan disingkapkan kosmos oleh hakikatnya sendiri.Tujuannya agar manusia memahami penjara eksistensi dan mengungkapkan keesaan Ilahi (al Tauhid) yang tercermin dalam alam keragaman.

Akan tetapi, spiritualitas Islam memberikan sarana kepada manusia yang hakikat bathinnya sedemikian rupa sehingga membuat mereka harus membuka halaman-halaman kosmis, yang digambarkan oleh Al Quran: “(yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas." (Q.S. Al Anbiya [21]: 104)

Spiritualitas Islam memunculkan “kesadaran penciptaan” yang menjadikan manusia mampu melihat teofani nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam alam dan mendengar – dari terbangnya burung ke angkasa – doa mahluk yang ditujukan ke singgasana Ilahi, seperti yang disebut Al Quran: “Tidaklah kamu tahu bahwasannya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbih-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan “.(QS. An Nur [24]:41).

Untuk lebih lanjut silahkan baca karya Willliam C. Chittick, Kosmologi Islam dan Dunia Modern ini. Unduh DISINI.


0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post