Kenangan


Kenangan, Nostalgia, Masa Lalu, Ingatan

Setiap kita pasti punya masa lalu. Berdiam di satu tempat atau melewati jalan. Membersamai, meninggalkan atau ditinggalkan. Masa lalu itu adalah kenangan, abadi dalam ingatan.

Barangkali seorang teman dengan enteng berkata, “lupakanlah, itu hanya masa lalu!”

Namun, kenyataannya menghapus kenangan tak seringan kata-kata itu. Keluarga Wiji Thukul, anak dan istrinya tak mungkin bisa menghapus ingatan dan kenangan mereka tentang Wiji Thukul, meskipun (mungkin) mereka telah memaafkan orang-orang yang menculik, menyiksa dan menghilangkan orang tua dan suami mereka itu. Serupa jawaban mendiang Gus Dur, “memaafkan sih iya, tetapi melupakan sih enggak,” ketika ditanya oleh Andi F. Noya dalam sebuah kesempatan di acara Kick Andy. Jawaban jujur dan manusiawi.

Kenangan muncul tiba-tiba tanpa bisa dicegah, kita suka atau tidak. Entah tentang elegi kehidupan masa lalu atau komedi, hitam maupun putih, baik maupun buruk, gelap atau terang.

Alquran juga memberi isyarat pentingnya kenangan, ingatan atau masa lalu. Agar tak lupa diri untuk menata langkah, caranya adalah dengan bercermin pada masa lalu (Qs. Al Hasyr: 18-19). Apa yang sudah terjadi tidak mungkin diubah. Apa yang telah menjadi masa lalu, tidak mungkin dihadirkan kembali dalam lembaran hidup yang baru. Karena hidup tak lebih ibarat rantai panjang. Setiap mata rantainya hanya hadir sekali dalam seluruh rentang usia kita. Waktu dan sejarah hidup yang telah pergi tidak akan pernah kembali, yang mungkin hadir hanyalah sebuah kemiripan baru yang berulang, itu pun tidak akan sama persis.

Menghadirkan masa lalu, hakikatnya hanyalah untuk melakukan koreksi. Karenanya, apa yang telah lewat dari seluruh perjalanan hidup kita, harus kita pandang dengan arif dan bijak. Hidup ini terus berjalan, di atas landasan perjuangan dan jalur cita-cita yang bermakna. Masa lalu yang buruk tak harus membuat terpuruk, masa lalu yang manis tak pula juga membuat terlena dalam romantisme nostalgia.

Svetlana Boym melukiskan nostalgia dengan sangat indah dalam buku The Future of Nostalgia, bahwa ia adalah irama yang lebih perlahan dari mimpi-mimpi kita. Bagi Boym, nostalgia itu, restoratif dan reflektif, ia bertujuan untuk merunut kembali kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah terjadi di masa lalu untuk menyenangkan hati dan untuk mencari tahu betapa berharganya diri kita saat ini.

Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya menyebutkan, ‘dalam nostalgia kita diam-diam meninggalkan kegandrungan kita kepada ‘yang baru’, tetapi tak berarti kita hendak membuat ‘yang lama’ sebagai kuil tempat kita menutup diri’. Goenawan Mohamad dalam catatan ‘Nostalgia’, 14 Februari 2016 itu, mengingatkan agar kita tak hanya duduk manis memuja dan mengelus kegemilangan nostalgia, sewajah peringatan Boym dalam artikel Nostalgia and Its Discontents, dengan mencontohkan nostalgia orang-orang Rusia, tentang Revolusi Uni Soviet sebagai simbol masa keemasan. “Nostalgia sejarah bisa membuat kita menengok ke belakang, tidak cuma tentang kebaruan atau kemajuan teknologi, tapi juga tentang kemungkinan yang mustahil, hingga tikungan-tikungan sejarah yang tak bisa diprediksi,” tulisnya.

Menenggelamkan diri dalam ingatan masa lalu atau nostalgia, sama halnya berputus asa terhadap realitas hari ini. Membanggakan sejarah, tetapi miskin prestasi dan aksi adalah nostalgik yang dilambari elemen utopian.

Memproduksi ingatan-ingatan masa lalu hanya boleh dilakukan dalam rangka membayangkan masa depan yang lebih gemilang, seperti Muhammad Yamin yang terus mereproduksi nostalgia kejayaan Majapahit juga Sriwijaya, pada dasarnya sedang membayangkan sebuah masa depan untuk Indonesia yang jaya. 

Setiap kali mentari pagi menyapa, hal pertama yang harus kita pancangkan adalah deklarasi kebaikan. Bahwa hari ini kita harus lebih baik dari hari kemarin. Maka tidak ada kata yang lebih penting dari ’bangkit’, bangun, bergegas, dan bersegera melakukan kebajikan.

Nostalgia adalah perasaan hangat, saat kita memikirkan kenangan-kenangan terindah dari masa lalu kita, ia menerabas waktu dan kehadiran fisik. Namun, tentu saja kita tetap tidak akan pernah bisa mendekap masa lalu, memeluknya serupa kita memeluk kenyataan hari ini. Kenangan memang semestinya sebatas ingatan, kita memaafkan, tetapi tak melupakannya.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post