Widget HTML Atas

MiChat; Sisi Gelap Dunia Maya

MiChat; Sisi Gelap Dunia Maya

Awalnya, aku tak sengaja menginstall aplikasi ini. Bermula dari sebuah pesan masuk, mengaku sebagai teman lama, mengajak bertemu teman-teman lama dengan mengunduh aplikasi MiChat.

Singkat kata, MiChat terpasang. Pesan pertama yang muncul adalah 'Pesan dalam Botol', selanjutnya perhatianku tertuju pada pencarian teman di sekitar. Beberapa orang sengaja ku kirimkan pesan, namun tak ada balasan. Teman pun tak  bertambah, selain teman-teman yang langsung terhubung dengan kontak yang tersedia.

Tak paham cara menggunakannya, belum lagi beberapa singkatan dan beberapa 'status' yang agak fulgar, sementara MiChat tak aku gunakan. Hingga akhirnya, aku bertemu seorang kawan, sebut saja Gilang (bukan nama sebenarnya), yang menjelaskan secara detail tentang MiChat.

MiChat initinya adalah aplikasi chatting seperti WhatsApp, tapi memiliki sejumlah fitur unik yang tak ada dalam aplikasi WhatsApp. Di MiChat kita tidak bisa langsung chat sebelum mendapatkan persetujuan pertemanan.

Aplikasi MiChat diproduksi MICHAT PTE LIMITED. Keunggulan dari aplikasi MiChat ini bukan sekadar chatting gratis, melalui MiChat kita bisa menemukan teman baru.Teman baru ini bisa ditemukan berdasarkan jarak dari lokasi online, menggunakan fitur Pengguna di Sekitar.

Ada juga fitur lain yang bisa digunakan untuk mencari teman yang spesial, yakni Pesan dalam Botol. Fitur Pesan dalam Botol, digunakan dengan cara melempar pesan berupa pemikiran apa pun yang ingin Anda sampaikan. Selain melempar, bisa juga mengambil botol, dalam arti memilih pesan mana yang membuat tertarik untuk berteman. Fitur unik lainnya, ada trending chat pada aplikasi MiChat.Trending chat ini terbuka bagi siapa pun yang berminat bergabung dalam bahasan topik trending chat itu. Saat bergabung trending chat, kita bisa menemukan pengguna lain yang memiliki minat serupa.

MiChat juga memiliki kode QR, yang bisa digunakan untuk menambahkan teman dengan siapa pun pengguna MiChat yang bisa langsung bertatap. Sama seperti WhatsApp, MiChat pun ada grup chat yang bisa beranggotakan hingga 500 orang.

Namun, selain hal-hal yang positif tersebut, kita tentu tetap harus bijak menggunakan aplikasi ini. Aplikasi ini menciptakan ruang baru prostitusi online yang sedang marak terjadi di Indonesia, banyak perempuan yang menjajakan dirinya secara terbuka.

Untuk membuktikannya, dengan menggunakan fitur Pengguna di Sekitar, aku mencoba mengirim pesan ke salah satu pengguna MiChat, sebut saja Maya (sepertinya bukan nama asli), yang secara fulgar menulis dalam 'status'nya open BO, VSC dan ++. Terbukti, tak menunggu lama, Maya cepat merespon langsung dengan menyebut sejumlah tarif sekali transaksi dan harus DP, tanda jadi.

Begitu juga halnya, ketika aku mencoba mengirimkan pesan ke beberapa pengguna lain. Ironisnya, di antara perempuan-perempuan itu ada yang masih mengaku sekolah (SMP dan SMA).

Menyikapi fenomena ini, tentu tak dibutuhkan sumpah serapah, apalagi sikap sok suci dengan mencerca teknologi. Kita butuh kearifan untuk merespon segala bentuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, menjaga diri dan orang-orang terdekat dengan pendidikan yang baik. Karena, bagaimana cara melakukan pemblokiran, pelarangan dan segala tetek bengek yang berisi seruan moral, jika otak dan hati kosong dengan norma dan nilai, maka akan selalu ada cara untuk menembus hal-hal yang dianggap tak beradab tersebut.

Maya tentu tak berdiri sendiri, ketika menganggap Maya biadab, tentu karena ada sosok lain yang juga melakukan kebiadaban yang sama. Adanya perempuan tuna susila, karena ada laki-laki yang juga tak bersusila.
Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "MiChat; Sisi Gelap Dunia Maya"