Widget HTML Atas

Vitaliteit

Vitaliteit, Harapan, Mimpi

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it," tulis Paulo Coelho dalam novel The Alchemist. Novel tersebut bercerita tentang perjalanan seorang pemuda heroik, mewujudkan mimpi-mimpinya, mencari harta karun, hingga ia bertemu sang Alkemis yang mengajarinya hal-hal baru, dan menemaninya dalam pengejaran mimpi-mimpi tersebut. 

Mimpi adalah daya rangsang atau antusiasme untuk tetap memiliki tenaga hidup, yang disebut oleh Chairil Anwar sebaga vitaliteit, kehendak menggugah, chaotisch voorstadium, muncul sebelum keindahan. “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi!” teriak Chairil Anwar.

Dalam film Cast Away yang diangkat dari kisah nyata, menyuratkan betapa pentingnya mimpi sebagai daya rangsang, tenaga untuk bertahan hidup. Film yang menceritakan tentang seorang eksekutif muda di perusahaan jasa Federal Express, Chuck Noland (Tom Hanks), harus menjalani kehidupan terasing di sebuah pulau dan bertahan hidup sendirian selama 4 tahun, setelah pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dalam perjalanan tugas meninjau cabang perusahaan di wilayah Pasifik Selatan. Padahal sebelumnya, ia telah merencanakan pernikahan dengan kekasihnya, Kelly.

Hidup terasing di pulau tak berpenghuni, yang dikelilingi samudera luas, jelaslah bukan hal yang mudah dijalani Chuck, ia depresi. Namun, ia tetap bertahan dan merawat mimpinya bersanding dengan Kelly, gadis pujaannya. Dan itu jugalah yang mendorongnya nekat membuat sebuah rakit untuk menelusuri perairan laut sangat luas, dan akhirnya bertemu sebuah kapal yang memberinya pertolongan.

Dalam kondisi sendiri di pulau asing, seharusnya ia sudah mati, dihantam badai putus asa, dihantam kegetiran, akan tetapi ia mampu bertahan hidup dan keluar dari pulau itu, karena Chuck memiliki mimpi dan harapan. Harapan untuk kembali ke rumahnya, harapan untuk menemui Kelly, harapan untuk terbebas dari kesunyian, meski di akhir cerita, ketika ia kembali dan menemui kekasihnya, rupanya sang kekasih telah menikah dengan lelaki lain.

Besarnya harapan mampu membuat seseorang melewati lubang jarum. Melampaui batas-batas yang pada keadaan normal terlihat mustahil. Dahsyatnya energi yang digelontorkan oleh sebuah harapan, tiada terukur oleh daya nalar. Begitulah, tanpa mimpi atau harapan, sepertinya Chuck akan memilih mati di tengah keterasingan dan kesunyian.

Barangkali, hal itu juga yang membuat Soe Hok Gie menghadap-hadapkan antara idealisme dan apatisme secara berlawanan. Di saat, banyak orang-orang yang memegang teguh idealisme kebenaran, merasa terasing dan sunyi. Memilih menjadi manusia merdeka atau mengikuti arus.

Dalam realitas kini, karut marut kehidupan sosial, di mana idealisme dianggap penghalang untuk survive, batas-batas kewarasan dan kegilaan djadikan samar, kebenaran dan kejahatan terlihat buram, dan materi menjadi tara ukur kehormatan dan kesuksesan. Di tengah kebingungan dan keputusasaan itu, ikut arus dan mengambil jalan sumir begitu memesona sebagai pilihan.

Keputusasaan atas rumitnya kehidupan normal yang dipenuhi kebajikan lebih sering menjadi alasan orang menggadaikan marwah dan harga dirinya, meski sikap merendahkan dan menghinakan diri itu juga dibungkus dengan baju kehormatan palsu!

Apakah yang bisa membuat orang bertahan pada idealisma dan kebajikan? Mimpi yang membara, harapan. Kaum agamawan memiliki impian tentang kehidupan surga, para ilmuan memiliki harapan tentang kehidupan yang established, ketika semua orang menjalankan kehidupan dengan baik dan benar. Michel Foucault dalam buku Knowledge and Power misalnya, menyebut kesenjangan, kepayahan dan keterbelakangan manusia merupakan produk dari sejarah kekuasaan dan ilmu pengetahuan yang bersekongkol mengkhianati kebenaran dan kebajikan.

Albert Camus dalam buku Mite Sisifus mengungkapkan bahwa, tidak ada masalah yang lebih penting di muka bumi ini, kecuali hidup dan kelayakannya untuk dilakoni atau ditinggalkan. Pertanyaannya kemudian adalah hidup seperti apa yang layak dilakoni atau apakah kehidupan yang makin semrawut ini layak dilakoni? Jika jawabannya tidak layak, maka ambillah seutas tali dan pergilah ke halaman belakang untuk gantung diri, mati sajalah!

Namun, ternyata fragmen cerita Camus tentang Sisifus dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Mite Sisifus; Pergulatan dengan Absurditas tersebut tidaklah berhenti pada jawaban, iya atau tidak. “Sisifus harus dibayangkan berbahagia. Tidak ditemukan satu pun alasan baginya untuk melakukan bunuh diri,” tulis Camus.

Camus mendorong untuk bersemangat (berbahagia) melakoni hidup, menyerah berarti kalah. Menyerah pada kejahatan, menghambakan diri kepada materi dan kekuasaan, menjadikan eksistensi diri sebagai manusia menjadi kehilangan maknanya. Seabsurd apa pun dunia yang kita hadapi, berbahagialah, berontaklah! Lewat mitologi Sisifus, Albert Camus mengirimkan pesan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menggapai mimpi, jalan menuju mimpi akan selalu rumit, dibutuhkan konsistensi, keyakinan, pikiran terbuka dan maksimal, serta kemampuan merawat mimpi dan harapan itu hingga menjadi kenyataan.

Maka, janganlah mati sebelum kematian, jangan menghinakan dan melacurkan diri. Kita harus tetap memiliki vitaliteit, pertaruhkan segalanya untuk memburu mimpi itu. Berhentilah berpikir murung, berhentilah putus asa, karena “hanya ada dua pilihan, menjadi apatis dan ikut arus atau menjadi manusia merdeka,” tulis Gie dalam Catatan Seorang Demonstran.

Sebagai penutup, penting kiranya merenungkan kata-kata Julius Caesar, “cowards die many times before their deaths. The valiant never taste of death but once.” Apa saja yang statik atau diam, akan berangsur-angsur menjadi rusak. Dan, hanya ikan mati yang tunduk pada arus!


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

2 comments for "Vitaliteit"

Post a Comment