Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2019

Baliho, Kok Gambar Saya Tidak Ada!

Dalam sebuah kesempatan Umar bin Khattab pernah menyampaikan pidato: “Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada di antaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada di antaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.” Pada sebuah kesempatan lain, ketika tanah Arab dilanda paceklik, Umar mengajak sahabatnya, Aslam untuk mengunjungi beberapa kampung terpencil di sekitar Madinah. Berpakaian seperti umumnya masyarakat biasa, Umar mendekati sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang perempuan tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam dan mendapatkan izin untuk mendekat, Umar duduk mendekat dan bertanya. " Siapa yang menangis di dalam itu?" " Anakku," jawab perempuan i

Kopi Lampung, Sebuah Identitas

Tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 September 2012, di Kota Malang digelar sebuah acara  talkshow  bertema Sejarah Kopi Indonesia , menghadirkan dua maestro kopi Indonesia, Surip Mawardi dan Adi W. Taroepratjeka. Dalam  talkshow  tersebut, para peserta yang hadir dikenalkan dengan sejarah awal masuknya kopi ke Indonesia yang diperkirakan dimulai sejak abad ke-16. Kala itu, India mengirim bibit kopi Yemen atau Arabica kepada Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1696. Sayangnya, bibit pertama gagal tumbuh karena musibah banjir di Batavia. Baru pada pengiriman kedua, benih kopi tersebut berhasil tumbuh di Indonesia, hingga tahun 1711 biji-biji kopi tersebut dikirim ke Eropa dan 10 tahun kemudian ekspor kopi meningkat sampai 60 ton per tahun.Alhasil, Indonesia pun menjadi daerah perkebunan Kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Sejak saat itu, VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725-1780. Kopi Jawa saat itu sangat terkenal di Eropa, sehingga orang-orang Er

Payungi, tentang Sepotong Pagi, Setangkup Tradisi dan Sedikit Literasi

Payungi adalah sepotong tempat yang agak tersembunyi di pinggir kota Metro. Tak lebih lima belas menit dari kantor wali kota Metro atau Taman Merdeka yang menjadi pusat kota. Kota Metro memang kecil, tak ada yang benar-benar jauh untuk di tempuh di kota ini, luas totalnya hanya 68,74 km 2 . Dari pusat kota, kita bisa mencapai Payungi lewat dua jalan,   AH. Nasution atau Hasanuddin, dengan sedikit memutar ke Jl. Basuki Rahmat dan masuk jalan gang, Kedondong.  Sebutan Payungi adalah akronim dari Pasar Yosomulyo Pelangi, memang lokasinya berada di wilayah kelurahan Yosomulyo. Payungi menjadi area keramaian kuliner yang didedikasikan untuk pedagang tradisional, tempatnya hanyalah sebuah gang dan sedikit lahan kosong yang dibentuk sedemikian rupa. Meski begitu, Payungi menawarkan daya magnet tersendiri --selain kuliner, ada wahana permainan, pojok buku, dan taman edukasi untuk anak-- mengundang banyak orang untuk datang ke sana. Setiap Ahad pagi, manusia dari berbagai

Term

Setiap kali berbincang, saya selalu mengajak (terutama diri sendiri) untuk terus menerus belajar logika. Memahami secara detail makna setiap kata, term, konsep, proposisi, silogisme dan semua hal terkait dengan logika dasar, termasuk juga dalam membuat analogi dan permisalan. Kesalahan menyusun kata karena kesalahan 'logika memahami' akan berdampak terhadap konklusi. Logika tak pernah bisa dilepaskan dari bahasa. Keduanya adalah media/sarana manusia untuk saling terhubung, berinteraksi dan menyampaikan setiap kehendak yang dibangun lewat akal budi.  Banyak kejadian, orang yang salah memahami entitas kata, salah pula mengekspresikannya. Parahnya, jika kesalahan terjadi, tidak hanya pada penyampai pesan, tetapi juga penerima pesan, karena sama-sama tak memahami ‘kata’ atau pernyataan, maka terjadilah kekeliruan bersama yang dianggap sebagai kebenaran. Pada bagian ini, saya mencoba untuk menuliskan tentang 'term' yang dikenal dalam  Kamus Besar Bahasa In

Takrif

Beberapa malam yang lalu, saya berdiskusi lewat WhatsApp dengan adik sepupu yang memilih mengabdikan hidupnya menjadi pengasuh pesantren di kampung. Meski terpaut umur cukup jauh di bawah saya, saya cukup mengagumi ketekunannya belajar. Ia pernah belajar ( tafaqquh fiddin ) cukup lama dengan beberapa kiai dan ulama, untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama). Lepas belajar dari para ulama tersebut, ia kemudian memilih otodidak, nyaris setiap hari ia selalu menyempatkan diri menelaah kitab karya para ulama, klasik maupun kontemperer, menulis, dan tentu saja mengajar dan mengasuh beberapa kelompok pengajian di pulau. Malam itu, diawali obrolan tentang buku Ilmu Tafsir karya terbarunya yang diterbitkan Sai Wawai Publishing, kami lantas asyik membahas beberapa buku tafsir, termasuk beberapa aliran kalam yang turut mempengaruhi perkembangan ilmu tafsir hingga sekarang. Obrolan menjadi ‘cukup’ serius, saat saya mengenalkan The Message of the

Mata, Insto Dry Eyes, Lalu Bye Mata Kering

Mata adalah organ tubuh yang menjadi anugerah Tuhan. Merawatnya dengan baik adalah salah satu cara bersyukur, selain menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Mata menjadi indera yang berfungsi melihat, menelaah bahan yang bersumber dari buku, film atau sumber pengetahuan visual lainnya. Menurut Sunny Wangko, Bagian Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, dalam tulisannya berjudul Histofisilogi Retina, mata memiliki retina yang mengandung 120 juta sel batang penerima cahaya, dan pada tiap sel retina terdapat 6 juta kerucut untuk membantu penglihatan dalam menangkap dan menerjemahkan warna-warna yang dilihat. Mata memiliki sensitivitas tinggi, dalam ruang gelap, bola mata beradaptasi 10 kali lipat dalam satu menit dan meningkat setiap 20 menit menjadi 6.000 kali, dan 25.000 kali dalam 40 menit. Mengedip merupakan proses menakjubkan untuk pembersihan lensa mata, dan itu dimungkinkan karena mata memiliki cairan. Lantas, bagaimana jika mata